dia lucuu

Dia lucu. Saya menyukainya. Seakan dalam hidupnya tidak ada beban yang menghantuinya. Ia selalu tersenyum dan membuat orang-orang disekitarnya selalu tertawa akan tingkahnya yang memang sangat lucu. Saya pun sering tertawa olehnya, walaupun ia tidak tahu bahwa dari kejauhan saya memperhatikannya.
Wajahnya biasa saja, tidak seperti idola yang rupawan. Ia baik hati. Itulah yang saya suka darinya. Sepertinya, jika saya terus bersamanya, hidup akan terasa lebih ringan untuk dijalani. Terlebih mengingat sifat saya yang tidak akan bisa tenang jika ada masalah yang belum diselesaikan dan selalu menganggap masalah adalah beban yang berat. Apapun itu. Dia bisa membuat saya merasa hidup ini hanya diisi dengan senyum dan tawa.
Awalnya biasa saja, saya hanya mengidolakannya. Saya tidak bermaksud menjadikannya kekasih hati. Karena bagi saya.. mengaguminya adalah hal yang sedikit bisa mengalihkan pikiran dari hal-hal yang tidak ingin saya pikirkan di saat-saat tertentu.
Lalu, komunikasi kami terjalin. Awalnya hanya sekedar menyapa dan melempar senyum di kampus sampai mengomentari status dan foto di facebook. Lama kelamaan saling sms alias smsan. Mulai dari hal biasa sampai saling support dan membagi perhatian. Tapi, saya masih menganggap ini hal biasa. Hanya bercandaan.
Akhirnya, perhatian yang diberikannya mulai berubah. Bisa dibilang berlebihan, bagi saya pribadi yang mendapat perhatian itu. Entah apakah saya merespon balik atau hanya menerima saja. Saya selalu berterima kasih padanya. Cerita pribadi mulai mengalir. Berbagi kisah dan masalah yang saat itu ia dapat. Saya hanya mendengarkan dan menyarankan apa yang menurut saya harus dilakukannya. Begitupun sebaliknya..
Bukan hal biasa yang ia tampakkan. Melainkan perhatian ‘aneh’ kepada saya. Saya pun mulai merasa aneh tapi hanya mengikuti arus yang ada. Membiarkan perhatian itu akhirnya menumbuhkan perasaan lain di hati. Tentu bukan lagi kagum, namun juga bukan cinta.. Entahlah apa namanya.. Setidaknya perasaan itu terasa indah..
Namun keindahan itu tidak berlangsung lama..
Akhirnya saya mengetahui bahwa bukan saya yang dia maksud. Bukan saya. Ada orang lain yang sama sekali tidak kutahu siapa. Maksud hati ingin bertanya padanya, namun kuurungkan niat itu. Sepertinya hanya akan memperparah keadaan hatiku yang galau saat itu. Saya hanya ingin tahu ada apa dengannya? Apa yang menjadi alasannya mendekati saya? Apa alasannya memberi perhatian yang lebih itu pada saya?
Sama sekali bukan patah hati. Bukan. Saya hanya merasa ditipu. Atau dihempaskan setelah diterbangkan tinggi olehnya. Sekali lagi, bukan patah hati. Hanya rasa kecewa dan tertipu. Ya, tertipu mentah-mentah. Masih dengan amarah, kuacungkan jempol untuknya. Untuk akting hebatnya yang bisa membuat saya terlarut dengan drama yang dimainkannya. Sungguh hebat.
Merasa seperti itu, saya semakin larut dengan perasaan sedih saya. Hampir saya membencinya. Hampir sekali.
Sampai seorang kakak menyadarkan saya. Menyadarkan bahwa orang itu hanyalah pecundang. Bahwa saya sama sekali tidak pantas bersedih untuknya. Bahwa waktu saya hanya akan terbuang jika saya masih memikirkannya apalagi terus-terusan bersedih karenanya. Bahwa ada orang-orang dalam hidup saya yang seharusnya saya memikirkan mereka. Mereka yang menyokong hidup saya. Yang selalu ada di samping saya. Yang tidak akan membuat saya bersedih. Mereka adalah orang-orang yang mencintai saya. Mencintai saya apa adanya dan tentunya tidak akan menipu saya dengan cinta mereka. Murni. Sejati.
Abang saya juga berkata:
“Jika kau bertanya pada seseorang tentang apa alasan mereka menyukai, menyayangi, atau mencintaimu dan mereka menjawab bahwa ia menyukaimu karena kamu menarik atau pintar atau karena kelebihan yang kau miliki, maka ia hanya menyukaimu karena sebuah alasan yang salah.. Namun, jika ia menjawab bahwa ia tidak tahu, ia hanya tahu bahwa ia menyukaimu dan ia menyukaimu karena itu adalah kamu.. maka ia benar-benar menyukai, menyayangi, atau mencintaimu karena alasan yang benar.”
Sekarang, saya benar-benar sudah bangkit kembali. Tidak ada lagi kesedihan karena penipuan itu. Tidak ada lagi alasan untuk membencinya atau mempersalahkannya. Tidak ada lagi keinginan untuk tahu alasannya memperlakukan saya seperti kemarin. Tidak ada lagi kekecewaan, kemarahan, atau kebencian untuknya. Saya paham, bahwa ia salah dalam mengambil langkah dan kebetulah saya berada tepat di depannya. Sehingga, kesalahan itu sedikit ‘mengenai’ saya. Saya telah memaafkannya sebelum ia meminta maaf. Saya akan mencoba membantunya saat ia membutuhkan bantuan saya. Saya mencoba mengembalikan hubungan ini menjadi hubungan biasa saja. Sehingga, tidak ada lagi hal yang membuat kami canggung. Menjadi biasa saja.
Sekali lagi, tidak ada kekecewaan, kemarahan, atau kebencian untuknya.
Sekarang, yang ada adalah senyum untuknya..
=)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s