My Mommy (Ammi)

Dia ibuku.. Dia yang melahirkanku 19 tahun lalu..
Dengan perjuangan ditemani keringat dan darah, dia melahirkanku. Bisa kubayangkan betapa beratnya hal itu untuknya. Mempertaruhkan nyawanya demi melahirkanku. Baginya, nyawanya tidak lebih penting dariku, dari anak yang sebentar lagi akan dilahirkannya. Bisa kubayangkan tetesan keringat, aliran darah, dan airmatanya. Perih, sakit, dan derita yang ia rasakan menjelang kehadiranku. Namun, baginya segala penderitaan itu lenyap tak berbekas saat mendengar tangisanku. Keringat dan darah itu tidak terasa lagi saat ia memelukku. Airmata kesakitan menjadi airmata bahagia. Kelegaan luar biasa ia rasakan, ia tertidur kelelahan. Baru saja ia memberi kebahagiaan bagi dirinya dan Ayahku, juga semua keluargaku. Bayi pertamanya sudah lahir dengan selamat.
Ibu dan Ayahku sudah menyiapkan nama untukku. Nama yang sangat indah dan bermakna. Kata Ibuku, Ayahku yang memberiku nama. “Ada di dalam Al-Quran, sayang.”
Tahun berlalu, aku tumbuh semakin besar. Ibuku memberiku dua orang adik, yang usianya tidak jauh berbeda denganku. Kasih sayangnya sama, mungkin juga agak berlebih kepadaku. Maklum saja, aku satu-satunya anak perempuan. Kedua adikku laki-laki, menjadi jagoan Ayahku.

Ibuku cantik. Ibuku sayang.
Banyak kesalahan yang telah kulakukan padanya. Namun, ibuku selalu memaafkan dan mendoakanku. Menyebut namaku dalam sujudnya. Mengingatku dalam lantunan ayat sucinya. Mengingatku dalam tasbihnya. Ya. Ibuku selalu mengingatku. Selalu dan setiap saat.
Ibuku selalu memberikan yang terbaik padaku. Mengajarkan arti kebaikan dan keburukan. Mengajarkan arti surga dan neraka. Membisikkan kata-kata baik di telingaku. Ibuku tidak pernah berbohong padaku. Ibuku tidak pernah berkata buruk padaku. Saat ia marah, ia selalu bisa mengontrol dirinya. Ibuku luar biasa. Ibuku selalu berkorban apa saja untukku. Ibuku melakukan apa saja demi aku.
Serasa aku adalah anak durhaka. Anak yang tidak tahu balas budi. Anak yang hanya bisa menyusahkan orang tua. Betapa aku hanya mendoakan orang tuaku saat aku ingat, tidak seperti Ibuku yang selalu mendoakanku setiap saat. Betapa aku hanya memikirkan diriku sendiri dan kehidupan duniaku. Kadang, kubiarkan Ibuku berada di luar lingkar hidupku. Kadang kulupakan dia. Betapa berdosanya aku.

Ibuku sayang..
Maafkan aku yang baru meminta maaf saat ini.. Maafkan aku atas kesalahanku yang selama ini menyakitimu.. Maaf atas derita yang kau jalani demi anakmu ini.. Maaf atas segala hal yang kusembunyikan darimu.. Maafkan, Ibu..

Ibuku sayang..
Maafkan aku.. Ingin aku bersujud di kakimu saat ini. Memelukmu dengan erat. Mencium tanganmu.

Ibuku sayang..
Aku rindu tatapanmu. Aku rindu belaian tanganmu. Aku rindu candaanmu. Aku rindu padamu. Ingin kubelah jarak ini, namun aku masih belum bisa.

Ibuku sayang..
Terima kasih atas segalanya.. Aku tidak akan mampu membalasnya, jadi biarkan Allah membantuku membalas budimu. Doakan aku, Ibu.. Izinkan aku.. Temani aku, Ibu..

Aku menyayangimu, Ibu.. Hanya untukmu, untukmu, dan untukmu.

Aku mencintaimu, Ibu.. Dengan segenap hatiku. Dengan sebuah nyawaku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s