Analisis Modernisasi Terhadap Negara Berkembang

Modernisasi dapat diartikan sebagai perubahan-perubahan masyarakat yang bergerak dari keadaan yang tradisional atau pra modern menuju kepada suatu masyarakat yang modern. Transformasi ini bisa berarti pemakaian alat-alat penunjang kehidupan yang praktis dan efisien. Kaitannya dengan hubungan internasional, modernisasi yang diagung-agungkan sebagai metode pencapaian kemajuan untuk Negara berkembang tidak lain adalah metode untuk membiarkan Negara berkembang menjadi tergantung pada Negara maju. Parahnya, Negara berkembang seakan tidak sadar ataupun kalau sadar, mereka tidak berani menantang hal ini. Dalam modernisasi terdapat pembagian status yaitu Negara maju dan Negara berkembang. Negara berkembang memiliki peran yakni menyediakan bahan baku bagi kepentingan industri Negara maju. Peran tersebut dapat berjalan apabila mendapat bantuan finansial dari Negara maju, sehingga Negara berkembang semakin bergantung terhadap Negara maju. Sementara itu, Negara maju yang mendapat pasokan bahan baku justru menjual kembali dengan harga tinggi kepada Negara berkembang setelah bahan baku tersebut diolah menjadi barang manufaktur. Akhirnya, pemasukan Negara berkembang cenderung lebih sedikit. Belum lagi, pergeseran budaya di masyarakat yang dikenal dengan westernisasi atau adaptasi budaya barat. Ketika kita menggunakan merek luar negeri alias barang impor, maka kita adalah orang keren. Sehingga, industry dalam negeri menjadi terbelakang dan akhirnya mati karena kalah saing dengan barang impor tersebut. Hal ini membuat perekonomian Negara berkembang semakin merosot sehingga mereka harus meminjam uang dari Negara maju agar neraca anggaran mereka stabil. Akhirnya, Negara berkembang berkewajiban membayar hutang tersebut sehingga struktur tersebut sulit untuk diubah.

Negara maju mengembangkan modernisasi pada masa pasca perang dunia II, dimana saat itu mereka telah maju dengan teknologi dan kultur berbeda. Sedangkan, Negara berkembang yang baru merdeka pasca perang dunia II memang masih merupakan masyarakat yang tradisional bahkan sampai sekarang. Sehingga, modernisasi memang cocok bagi Negara barat yang notabene ingin memulihkan diri dari kondisi pasca perang dunia. Modernisasi memang dirancang bagi Negara dengan peradaban maju untuk semakin maju. Sedangkan bagi Negara berkembang yang baru ingin membangun diri dari titik nol sama sekali menjadi ‘miss’ dalam sistem ini.

Di Negara maju, berkembang asumsi bahwa modernisasi telah membawa kemajuan dalam segala aspek kehidupan mereka. Namun, kenyataannya di Negara berkembang tidak ada kemajuan signifikan ketika modernisasi dilaksanakan. Kemajuan yang telihat hanyalah kemajuan semu yang dibelakangnya terdapat ketergantungan yang sangat besar.

Dampak Positif:

  • Adanya perubahan nilai-nilai dan sikap. Modernisasi dalam budaya menyebabkan terjadinya pergeseran nilai dan sikap masyarakat dimana semua yang bersifat irasional menjadi rasional.
  • Berkembang pesatnya ilmu pengetahuan dan teknologi. Ilmu pengetahuan dan teknologi memudahkan masyarakat untuk beraktivitas dalam keseharian.
  • Tingkat kehidupan yang lebih baik. Berkembangnya industry alat-alat komunikasi dan transportasi yang canggih merupakan salah satu usaha meningkatkan taraf hidup masyarakat dan mengurangi tingkat pengangguran.

Dampak Negatif:

  • Pola hidup yang konsumtif. Perkembangan industry dan kemajuan teknologi yang pesat membuat penyediaan barang kebutuhan masyarakat melimpah. Sehingga, masyarakat cenderung mengkonsumsi barang-barang yang tidak mereka butuhkan kecuali prestige.
  • Sikap individualistic. Masyarakat yang merasa dimudahkan dengan teknologi maju cenderung membuat mereka merasa tidak lagi membutuhkan orang lain dalam beraktivitas.
  • Terbentuknya kesenjangan social. Ketika ada golongan dalam masyarakat yang mengikuti arus modernisasi maka ia akan dikatakan maju, sedangkan golongan yang tidak mau atau tidak mampu mengikuti arus modernisasi akan digolongkan sebagai masyarakat terbelakang atau kolot. Hal ini dikarenakan modernisasi memang sengaja menciptakan jurang di masyarakat suatu Negara ataupun masyarakat internasional.
  • Gaya hidup yang kebarat-baratan. Adaptasi kehidupan barat yang bebas dan tidak terikat. Remaja kebanyakan menjadi kebablasan nilai luhur yang menjunjung kesopanan dan adat istiadat ketimuran. Remaja juga menjadi pintu gerbang modernisasi yang masuk lewat fashion, food, and friend.
  • Pola hidup praktis. Dengan ketersediaan hampir semua alat penunjang kehidupan, masyarakat akan cenderung memilih yang instan dan praktis. Sebagai contohnya, junkfood yang instan namun ternyata banyak sekali penyakit yang bisa ditimbulkan ketika terjadi konsumsi secara berkelanjutan.

Modernisasi berdampak pada segala aspek, baik ketika yang menjadi objeknya adalah Negara berkembang dalam hal ini pemerintah yang ditekan dalam bidang ekonomi, politik, militer, dan sebagainya. Begitu juga ketika kita menjadikan masyarakat dalam suatu Negara berkembang yang menjadi objeknya, dampak yang timbul kebanyakan dampak buruk yang sistemik dan structural. Sehingga, menurut saya modernisasi bukan strategi yang tepat untuk Negara berkembang agar menjadi lebih baik. Karena justru, modernisasi ini adalah cara Negara maju untuk menjadikan Negara berkembang tetap miskin. Modernisasi diibaratkan ‘musang berbulu domba’. Modernisasi menawarkan image kemajuan yang sangat didambakan Negara berkembang namun tidak lebih dari hegemoni dan jebakan Negara maju itu sendiri. Modernisasi telah membawa keuntungan yang berkali-kali lipat bagi negara maju yang didominasi oleh barat. Sedangkan Negara berkembang hanya bergelut pada kemiskinan dan ketergantungan.

Banyak hal yang menjadikan modernisasi tidak cocok dikembangkan di Negara berkembang. Salah satunya adalah gaya hidup atau life style, masyarakat di Negara maju cenderung konsumtif dan diimbangi dengan penghasilan mereka yang banyak. Sedangkan di Negara berkembang, masyarakat yang konsumtif tidak diimbangi dengan penghasilan yang mencukupi. Belum lagi factor media yang menjadi propaganda transformasi gaya hidup menjadi kebarat-baratan yang dinilai sebagai cerminan masyarakat modern. Sehingga, budaya ikut-ikutan agar menjadi modern mengakar kuat di seluruh lapisan masyarakat dan pemerintah.

 

 

Sumber:

http://mengerjakantugas.blogspot.com/2009/05/dampak-positif-dan-dampak-negatif.html

http://mengerjakantugas.blogspot.com/2009/05/pengertian-modernisasi.html

http://rinoan.staff.uns.ac.id/wp-content/blogs.dir/58/files//2008/11/teori-modernisasi-perspektif-katie-willis.pdf

http://sociologyknowledgeseeker.wordpress.com/2010/05/13/analisis-mengenai-teori-modernisasi-terhadap-negara-berkembang/

http://prayudho.wordpress.com/2008/12/05/teori-dependensia/

http://learning-of.slametwidodo.com/2008/02/01/ketergantungan-dan-keterbelakangan/

http://www.scribd.com/doc/28727512/teori-ketergantungan

http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20071121221930AA7w0Er

 

Advertisements

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s