CHINESE-AMERICAN: CHINA’S HEROES IN UNCLE SAM COUNTRY

Sudah menjadi hal yang sering bahkan selalu kita lihat bahwa ras, suku, atau etnis Cina adalah bagian dari sebuah kemajemukan suatu bangsa, bangsa selain Cina tentunya misalnya Indonesia dan Amerika Serikat. Pada kenyataannya, Cina sendiri adalah bangsa yang homogen dan bagaiman bangsa Cina keluar menjadikan negara lain menjadi bangsa yang heterogen dengan kehadirannya di negara tersebut. Kebudayaan native kemudian menjadi lebur dengan kebudayaan kuat yang dibawa Cina ke negara tujuan migrasinya.

Berbicara mengenai Cina tidak akan jauh dari topic ekonomi. Kita bahkan sering sekali mengidentikkan orang Cina sebagai ‘pedagang’ yang tidak sedikit jumlahnya di Indonesia bahkan di Makassar. Sejumlah pertokoan didominasi oleh pedagang Cina. Perlu kita garis bawahi, pedagang Cina yang sering kita lihat merupakan warga negara Indonesia yang lahir di Indonesia namun wajah dan keturunan mereka tetaplah Cina. Sehingga, penggunaan kata Indo-Cina menjadi hal yang paling tepat dalam menggambarkan bagaimana keadaan saat ini.

Topic yang saya angkat kali ini adalah kehidupan kelompok minoritas Cina-Amerika sejak bermigrasi sampai saat ini. Namun, tidak begitu lengkap dan rigid karena ini hanyalah makala singkat dan bertujuan untuk sekedar membuka cakrawala kita tentang komunitas Cina di Amerika dan bagaimana mereka bisa sampai, tinggal, bahkan eksis di sana. Kebudayaan yang melebur serta bagaimana mereka dapat bertahan di sana melewati awal-awal yang sulit.

Keberadaan kelompok Cina-Amerika ini telah ada sejak dulu sekali pada tahun 1800-an dengan tujuan ekonomi tentunya yaitu menjadi penambang emas di bagian barat wilayah Amerika Serikat yang kita kenal dengan West Coast saat ini. Jumlah yang bermigrasi pada saat itu tergolong banyak dan massif, kemudian mereka mulai membangun kehidupan mereka sedikit demi sedikit dan kita bisa melihat bukti sejarah itu yang dilestarikan oleh cucu cicit mereka.

Kebudayaan atau kebiasaan yang sering dilakukan di tanah air mereka, Cina, tidak segan-segan mereka bawa dan pamerkan di Amerika. Keberagaman budaya menjadi daya tarik sendiri bagi orang lain dalam melihat kelompok Cina-Amerika di negara Paman Sam itu. Bahkan tidak sedikit yang mendukung keberagaman itu. Sama sekali tidak ada ketakutan bahwa penduduk native akan digusur oleh kelompok ini. Ketakutan tersebut memang pernah muncul tapi musnah seiring dengan waktu dan kepentingan negara Amerika Serikat terhadap Cina saat itu.

A.                Sekilas tentang Cina

Cina merupakan negara berkembang yang sebentar lagi akan menyandang nama negara maju. Perekonomian adalah salah satu titik kemajuan Cina yang paling kentara dibandingkan dengan aspek lain. Ketika perekonomian telah maju, maka yang lain akan lebih mudah dicapai. Dengan kebijakan Mao Zedong dan dilanjutkan dengan Deng Xiaoping, maka Cina bertumbuh dengan sangat fantastis. Standar hidup, hak suara dalam politik, dan pembangunan meningkat tajam. Orientasi ekonomi pasar menjadi akar penting majunya perekonomian Cina.

Luas wilayah yang cukup besar, Cina menjadi negara terbesar kedua setelah Rusia, yaitu 9.596.961 km2. Dengan jumlah populasi sebanyak 1.336.718.015 (estimasi July 2011) dan merupakan negara dengan jumlah penduduk yang terbesar di dunia, maka Cina bisa menjadi kekuatan baru di Asia bahkan di internasional lebih luasnya. Negara yang mendeklarasikan sebagai negara republic pada tanggal 1 Januari 1912 yang ditandai dengan pengambilan sumpah jabatan Dr. Sun Yat Sen sebagai presiden pertama Cina.

Kebudayaan Cina yang majemuk juga telah membuktikan eksistensi mereka walaupun tidak di negara mereka. Pelestarian budaya Cina juga dilakukan di luar negeri Cina seperti Amerika Serikat dan Indonesia. Kuatnya akar budaya mereka harus menjadi cambukan bagi kita khususnya untuk tetap melestarikan budaya sendiri dan mencintai keberagaman sama seperti Cina.

 B.                 Gelombang imigrasi Cina ke Amerika Serikat

Kebudayaan Cina selalu melekat di pribadi setiap rakyatnya dimanapun mereka berada. Bahkan, baik kita sadari atau tidak, bangsa Cina sudah ada di belahan dunia manapun. Mereka eksis dan menjadi penduduk native di negara lain. Mereka berketurunan, saling menikah dengan sesamanya ataupun bangsa lain, namun mereka tetap menciptakan bangsa mereka sendiri walaupun tidak di negara Cina.

Jika kita jeli memperhatikan data setiap negara di dunia, bangsa Cina selalu ada walaupun hanya sekian persen. Mereka telah menjadi bagian dari negara tersebut lama atau bahkan jauh sebelum negara tersebut merdeka, sebut saja Indonesia. Setiap negara memiliki kebijakan masing-masing terhadap warga Tiongkok yang ada di negara mereka. Di Indonesia sendiri, mereka pernah didiskriminasi dan diusir sebelum juga setelah kemerdekaan. Hak-hak mereka sebagai warga negara yang telah lama bermukim di Indonesia tidak diakui dan dinafikkan seperti Bangsa Kulit Hitam pada masa politik Apartheid yang sangat rasis. Diakui saat itu, feodalisme masih sangat kental ditambah Indonesia masih melakukan politik persatuan antar suku pribumi dan keberadaan warga Cina dianggap mengganggu jalannya keinginan mereka. Di tahun 1996 saja, konflik pribumi dengan warga Tiongkok sempat bergulir di Makassar yang ditandai dengan pembakaran pusat pertokoan dimana kebanyakan pemilik kiosnya adalah warga Tiongkok. Namun, hal tersebut tidak berlangsung lama karena Presiden Soeharto saat itu sangat keras melarang adanya konflik semacam itu dalam wilayah Indonesia.

Berbeda dengan Indonesia, di Amerika Serikat bangsa Cina sudah ada sejak 1848 yang ditandai dengan tibanya ribuan penambang Cina di California. Saat itu, di Cina sedang digalakkan politik keluar negeri untuk berdagang. Politik ekonomi ini menyebabkan adanya gelombang imigrasi yang cukup besar di Amerika Serikat. Di West Coast, para penambang datang dengan harapan dapat memperbaiki kehidupan mereka. Sedangkan di Hawaii, mereka menanam beras dan gula sambil menunggu kesempatan kerja di bidang pertambangan. Orang-orang Cina yang bermigrasi kebanyakan dan hampir seluruhnya adalah laki-laki. Pada saat itu, di Cina perempuan dilarang berdagang ke luar negeri. Perempuan yang berhasil keluar negeri bisa dikatakan illegal karena pemerintah mereka saat itu tidak mengizinkan hal tersebut. Mereka dibantu oleh perempuan-perempuan yang melakukan hal yang sama sebelumnya karena kesamaan pandangan bahwa perempuan juga bisa atau keinginan untuk membantu sesama perempuan dalam mengubah nasib mereka.

Orang-orang Cina yang datang di Amerika bekerja apa saja dan sangat ulet. Sebagian mereka bekerja di pertambangan emas dan mineral yang lainnya. Sebagian lagi membangun jalan kereta api yang rampung pada tahun 1869 dan sisanya bekerja di ladang, mengembang biakkan anggrek, dan anggur. Ketika sistem perairan telah dibangun, maka mereka juga mengembangkan industry manufaktur sederhana dan perikanan.

Pembangunan di Amerika bagian barat memang cukup maju berkat bantuan dari warga Cina yang bermigrasi saat itu. Namun, mereka menjadi target dari gerakan Anti-Cina di Amerika tidak lama setelah mereka tiba. Munculnya gerakan ini murni dilatar belakangi pemikiran buruh Amerika yang diwakili oleh serikat buruh, yang mengatakan bahwa warga Cina adalah siangan berat mereka dalam pekerjaan. Diskriminasi, pengasingan, dan kekerasan kerap diterima oleh warga Cina saat itu. Beberapa misionaris dan pengusaha yang mendukung warga Cina tetap tidak bisa berbuat apa-apa ketika Chinese Exclusion Act yang dikeluarkan pada tahun 1882 melarang adanya arus migrasi lagi dari Cina.

Pelarangan adanya migrasi dari Cina berubah setelah penyerangan Pearl Harbour oleh Jepang pada Desember 1941. Cina dan Amerika Serikat membentuk aliansi melawan Jepang. Sehingga, saat perang masih berlangsung yaitu 1943, Chinese Exclusion Act direvisi dan untuk pertama warga Cina diberikan hak untuk menjadi warga negara Amerika. The Immigration and Nationality Act yang dibuat pada tahun 1965 kemudian dijadikan hukum negara oleh Presiden Lyndon Johnson yang membiarkan peningkatan jumlah imigrasi dari Asia. Akhirnya, gelombang imigrasi semakin deras datang dari Cina. Setelah Perang Vietnam berakhir pada tahun 1975, banyak warga etnis Cina dari Asia Tenggara datang ke Amerika Serikat sebagai pengungsi.

 C.                Dari Cinatown ke Suburban Areas

Komunitas Cina yang telah tinggal dan beranak cucu di Amerika serikat hidup secara kolektif di daerah yang kita sebut Cinatown atau Pecinan. Berkumpulnya mereka di pecinan-pecinan yang tersebar diberbagai wilayah kota besar di Amerika Serikat karena di zaman dulu mereka menjadi sasaran diskriminasi dan kekerasan. Sampai saat mereka mendapat legalitas pada tahun 1965, mereka secara tidak sadar telah membentuk komunitas sendiri dan terpisah dari etnis lain. Pecinan yang mereka dirikan lengkap dengan bioskop, laundry, dan toko keperluan mereka menjadi tujuan wisata turis lokal dan internasional. Kita bisa mengunjungi pecinan terbesar di San Francisco, New York City, Los Angeles, dan Honolulu.

Perubahan pola imigrasi sejak tahun 1965 telah membawa warga Cina-Amerika ke keberagaman yang lebih besar. Mereka tidak lagi tinggal di Pecinan walaupun ada sebagian dari mereka memutuskan untuk tetap tinggal. Kebanyakan dari mereka pindah ke kota lain seperti California, Washington, Oregon, Arizona, dan Hawaii. Banyak juga dari mereka yang telah menetap di New York, New Jersey, Pennsylvania, Massachusetts, Illinois, Michigan, Ohio, Texas, Florida, Maryland, and Virginia.

Bagi pendatang baru, mereka dibantu untuk beradaptasi dan tinggal di Amerika Serikat oleh warga Cina yang sudah lebih dulu tinggal di sana. Selain menjaga hubungan sebagai kumpulan satu ras, mereka juga memiliki tujuan untuk menanyakan bagaimana kabar tanah air mereka, Cina.

 D.                Keberagaman bahasa Cina-Amerika

Berbeda dengan zaman dulu, Cina-Amerika saat ini diwarnai oleh keberagaman bahasa. Bahasa Cina kemudian dibagi menjadi dialek-dialek regional yang jumlahnya sangat banyak. Sebelum 1965, Cina-Amerika berbicara dalam dialek Canton (Cantonese, or Yue). Sekarang banyak yang berbicara dengan dialek Mandarin dan Taiwanese. Sedangkan pendatang dari Asia Tenggara kebanyakan menggunakan bahasa Vietnam dengan tambahan bahasa Cina, Inggris dan Perancis. Perlu diingat, generasi Cina-Amerika pertama mungkin berbicara dengan banyak dialek, namun generasi Cina-Amerika yang lahir di Amerika mungkin hanya mendapat sedikit pengaruh bahasa bahkan bisa jadi tidak mendapat pengaruh apa-apa.

Di beberapa kota di Amerika Serikat, bahasa Cina ditawarkan bagi anak-anak di sekolah bahasa. Bahkan dwibahasa juga diberlakukan di kuil Buddha dan gereja Kristen sebagai bagian dari toleransi hidup berdampingan dan memperlihatkan bahwa perbedaan bahasa bukan alasan untuk tidak ke tempat agama atau tempat umum. Cina-Amerika juga membangun supermarket yang memperjual belikan produk Cina. Toko kaset video, saluran televisi dan radio, serta koran dan  internet, juga memberikan ketersediaan informasi mengenai kebutuhan-kebutuhan komunitas Cina-Amerika di sana.

Dengan berkembangnya edukasi atau pendidikan dan kesetaraan bagi Cina-Amerika, maka kesadaran akan penghapusan stereotip atas komunitas ini semakin besar. Pada tahun 1960an-1970an mereka memperjuangkan hak-hak anak-anak imigran berdasarkan Supreme Court kasus Lau v. Nichols (1974) yang membiarkan adanya basis dwibahasa bagi anak-anak di sekolah. Hal ini dikarenakan tuntutan di atas dinilai merugikan anak-anak Cina yang tidak fasih akan bahasa Inggris. Mereka menyayangkan keengganan pemerintah menyediakan sarana pembantu bagi anak-anak di sekolah. Dengan kata lain, anak-anak harus fasih bahasa Inggris sendiri untuk bisa mengikuti pendidikan di sana.

Pada awalnya, pihak oposisi gencar mengampanyekan ‘English Only’. Kontriversi dwibahasa kemudian digulirkan di tatanan negara federal dan akhirnya memberikan kewenangan bagi masing-masing negara bagian untuk membuat kebijakan. Apa yang menjadi argument kuat pihak oposisi adalah keharusan menerima bahasa Inggris sebagai satu-satunya bahasa yang digunakan di sekolah. Bahasa Inggris harus dikuasai oleh murid yang ingin masuk sekolah di Amerika sehingga dengan adanya dwibahasa maka jurang yang terbentang dalam pendidikan karena perbedaan bahasa menjadi semakin dalam. Tidak masuk akal menggunakan dwibahasa dalam pendidikan, seharusnya para Cina-Amerika inilah yang beradaptasi dengan bahasa tempat tinggal barunya.

Pada akhirnya, kebijakan yang banyak diambil adalah memberikan pelajaran bahasa Inggris dasar bagi murid non native Amerika selama satu tahun sebelum sekolah dan memberikan pelajaran Bahasa Inggris tambahan setiap pulang sekolah jika diperlukan. Di California sendiri kebijakan ini mulai dilaksanakan pada tahun 1998 dan pada tahun itu terdaoat kurang lebih 1,4 juta anak-anak yang sangat terbatas dalam penguasaan bahasa Inggris. Sehingga mereka diberikan kelonggaran selama tahap pembelajaran bahasa Inggris sebelum mereka masuk ke dalam kurikulum seharusnya.

Di sisi lain, tingginya ketertarikan pada sejarah Cina-Amerika dan identitas etnis menyebabkan para sarjana-sarjana Cina-Amerika mendirikan perkumpulan sejarah-sosial dan Program Pendidikan Asia-Amerika. Saat ini, Cina-Amerika sering membentuk himpunan dengan kelompok Asia-Amerika lainnya untuk meningkatkan keterlibatan dan pengaruh mereka dalam proses politik Amerika.

 E.              Pengaruh terhadap kebudayaan Amerika

Kedatangan dan bermukimnya Cina-Amerika di wilayah Amerika sedikit banyak membawa pengaruh bagi kehidupan dan budaya di sana. Bahkan, sampai saat ini budaya Cina-Amerika seakan melebur menjadi budaya lokal di sana dan mengakar kuat. Seperti misalnya:

  • Pengembangan varietas baru seperti Bing Cherry, Lim Gue Gong orange, serta buah dan sayuran lainnya yang bisa kita dapatkan di supermarket-supermarket di sana.
  • Masakan Cina yang saat ini banyak digemari oleh native Amerika maupun bangsa lain. Jenis masakan Cina menjadi top three favorite cuisine bersama dengan masakan Itali dan Meksiko.
  • Bela diri ala Cina seperti Kung Fu dan Tai Chi Chaun menjadi beladiri popular dan banyak digemari oleh anak muda maupun dewasa di sana. Mereka mengadaptasinya langsung dan lewat film-film keluaran Hollywood.
  • Pengobatan kuno akupuntur juga dengan cepat diterima dan diadaptasi di klinik-klinik pengobatan di wilayah barat Amerika. Pengobatan tradisional yang menggunakan jarum ini berbeda dengan pengobatan kimia, sehingga banyak orang lebih memilih jenis pengobatan kuno Cina ini.
  • Perayaan Tahun Baru Cina atau Imlek menjadi salah satu event tahunan yang diselenggarakan di beberapa kota dengan riuhan petasan, tarian naga barongsai, dan iringan music tradisional oleh pemuda Cina-Amerika.

Tidak hanya sebatas itu saja. Banyak orang Cina-Amerika menjadi terkenal di bidangnya masing-masing dan telah diakui oleh public. Mereka adalah:

  • Chen Nin Yang dan Samuel C. C. Ting dalam bidang sains
  • Michael Chang, Amy Chow, dan Michelle Kwang di bidang olahraga
  • Maxine Hong Kingston, David Henry Hwang, Wayne Wang, Yo Yo Ma, dan I. M. Pei di bidang seni budaya.

Apa yang coba diperlihatkan oleh kelompok ini adalah kuatnya eksistensi dan kerjasama yang telah mereka bangun dari nol. Sejak mereka menjadi imigran yang menerima diskriminasi sampai individu yang diakui dunia internasional, mereka tetap menjaga warisan dan ajaran leluhur mereka. Sehingga, ketika mereka telah menjadi warga negara bukan Cina mereka tetap tidak lupa akan leluhur mereka dan itu membuktikan bahwa akar budaya yang mereka bawa sangat kuat.

 F.                 Kelas Cina-Amerika berdasarkan pendidikan

Keberhasilan Cina-Amerika sering dijadikan topic pembicaraan di media massa Amerika. Mereka memperlihatkan bagaimana kelompok ini bisa bertahan dan akhirnya berhasil hidup sebagai kelompok minoritas. Belum lagi sejarah yang pernah membuktikan bahwa mereka pernah tidak diinginkan berada di negara Paman Sam itu. Saat ini saja, politik ekonomi kedua negara Cina dan Amerika tidak berpengaruh besar terhadap kehidupan mereka di sana. Namun, realitas yang terjadi sangatlah kompleks. Perbedaan status dan kelas terlihat sangat jelas, diantaranya:

  • High educated Cina-Amerika banyak yang bekerja sebagai dokter, teknisi, ahli computer, dan pekerjaan ahli lainnya. Mereka menjadi kelas tinggi di komunitas ini.
  • Low educated Cina-Amerika banyak bekerja sebagai pelayan dan buruh di restoran atau perusahaan garmen dengan gaji yang rendah. Kondisi mereka bisa kita kategorikan sama dengan kondisi buruh dengan upah rendah di Indonesia dan negara-negara lain.

Perkembangan kehidupan Cina-Amerika bisa dikatakan berhasil jika dibandingkan dengan imigran lain. Hal ini bisa kita kaitkan dengan budaya yang mereka usung dan persatuan yang mereka pegang bersama.

Banyak hal yang seharusnya bisa kita pelajari dari Cina tentang pelestarian kebudayaan yang dimulai dan diakar kuatkan di dalam hati masing-masing individu warga negara. Cina memperlihatkan sejauh apapun warga atau keturunannya dari tanah air, mereka tetap membawa nama Cina di tata kehidupan sehari-hari. Seorang Cina-Amerika memang berkewarganegaraan Amerika Serikat namun dia tetap menjunjung dan bangga akan warisan budaya leluhurnya, yaitu Cina.

Apa yang telah dialami oleh Cina-Amerika di masa-masa awal migrasi mereka bisa menjadi pelajaran penting bahwa keberanian dan kegigihan akan membuahkan hasil yang manis. Budaya-budaya yang dipegang oleh bangsa Cina yang di luar negeri tetap masih ada dan menjanjikan kelestarian sepanjang waktu.

Terakhir, tidak melulu ekonomi yang kita lihat dari Negeri Panda itu, tapi budaya kesehariannya yang membawa mereka pada keberhasilan individu, kelompok, bahkan negaranya. Fakta-fakta dan teori yang telah kita pahami harus menjadi motivasi untuk menjadi masyarakat yang tangguh, ulet, dan kuat seperti rakyat Cina. Benar kata pepatah lama: ‘Belajarlah sampai ke Negeri Cina’


Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s