Reduksi Kemiskinan di Africa (Poverty Reduction in Africa)

Kemiskinan telah menjadi permasalahan global sejak dulu yang sangat ditandai setelah Perang Dunia II. Secara umum, kemiskinan telah menunjukkan angka penurunan di era 2000-an keatas. Namun, di Afrika angka kemiskinan justru semakin meningkat. Berdasarkan regional, Afrika terbagi atas negara berpendapatan rendah dan negara berpendapatan menengah. Namun, redistribusi pendapatan tidak terjadi di sini untuk menanggulangi kemiskinan secara regional Afrika.

Hal utama yang disoroti adalah bagaimana kebijakan dalam negeri berrfungsi dan bagaimana kelompok-kelompok kepentingan eksis di dalam negara-negara Afrika. Untuk memahami lebih jauh, mari kita spesifikkan pembahasan dalam beberapa bagian:

  1. Geografi Fisik

Secara umum, Afrika terdiri dari wilayah yang luas yang terbagi dalam 52 negara. Negara-negara ini kemudian diklasifikasikan menjadi 3 bagian untuk mempermudah pembahasan mengenai kemiskinan di Afrika, yaitu:

  1. Landlocked dan sumber daya yang sedikit

Menjadi negara yang landlocked tidak serta merta mengunci sebuah negara dalam kemiskinan. Kita ambil contoh Swaziland yang telah berhasil menjadi negara berkembang dibandingkan negara-negara landlocked lainnya seperti Uganda dan Niger. Letak geografis Swaziland tidak menghalanginya dalam pasar internasional, justru menjadikannya pusat perdagangan regional Afrika.

Tidak seperti Swaziland, ada beberapa negara yang dirugikan dengan letaknya yang landlocked seperti Uganda yang sangat bergantung pada Kenya bagaimana akses ke pelabuhan. Namun Kenya sama sekali tidak bergantung apapun pada Uganda. Dalam kondisi seperti ini, Kenya sebagai negara coastal sangat memanfaatkan kepentingan negara tetangganya yang landlocked.

Jika kemampuan bertahan suatu negara landlocked bergantung pada negara tetangga mereka yang ‘agak’ beruntung, maka tentunya negara-negara ini butuh hak untuk memperbaiki keadaan yang artinya Afrika butuh bangunan politik yang lebih tinggi dari level nasional.

E-trade dan pengangkutan udara menjadi jalan baru perdagangan yang selama ini terpaku pada shipping (pengangkutan kapal laut). Menjadi landlocked bukan pilihan, namun menjadi airlocked adalah bagaimana regulasi penerbangan dan kebijakan kompetisi dipersoalkan.

Negara-negara yang landlocked dan miskin sumber daya adalah inti dari kemiskinan Afrika.

  1. Coastal dan sumber daya yang sedikit

Kategori negara ini adalah negara yang paling cepat perkembangannya secara global. Hal ini dikarenakan wilayahnya yang coastal menjadi negara yang dipilih oleh negara industry untuk mengembangkan usahanya. Negara kategori ini menyediakan buruh yang terampil dan upah yang kompetitif yang tentunya menarik perusahaan asing untuk merelokasi industrinya ke dalam negara ini seperti Kenya dan Senegal. Ketika sebuah firma direlokasi, maka yang terjadi adalah pembangunan ekonomi di lokasi baru dengan progress yang efektif. Sehingga, negara tujuan relokasi berkembang lebih cepat daripada negara landlocked maupun yang kaya akan sumber daya alam. Relokasi ini tidak hanya temporal namun juga tidak harus dilakukan dengan massif.

  1. Kaya akan sumber daya

Negara yang kaya akan sumber daya alam bisa dikatakan berkembang dengan pesat di Afrika. Namun, perkembangan itu juga dibarengi dengan konflik etnis yang terjadi di negara-negara tersebut. Wilayah yang kaya akan sumber daya alam dijadikan sector public yang dikuasai oleh etnis atau kelompok kepentingan tertentu. Pemerintah yang berkuasa adalah otokrasi etnis dimana wilayah sumber daya alam dimanfaatkan oleh pemerintah dan rakyat kecil tidak bisa menikmati.

Pada era 1990-an, demokrasi menyebar dengan cepat di negara-negara yang kaya akan sumber daya dan menjadikan Afrika sebagai Third Wave of Democracy yang dianggap berpotensi menyediakan akuntabilitas bagi semua warga negara. Namun, pihak oposisi berpendapat bahwa sistem demokrasi akan melemahkan tata pemerintahan ke dalam patronasi politik yang korup dimana sumber daya alam disewakan kemudian hasilnya  disubstitusikan untuk pajak. Dengan pajak yang rendah setelah disubstitusi, masyarakat tidak akan ‘terprovokasi’ untuk menyelidiki pemerintahan. Hal ini tentunya melemahkan sistem check and balance yang diusung oleh demokrasi. Tanpa check and balance yang kuat, maka partai politik akan terdorong untuk melakukan hal-hal yang tidak wajar seperti pembelian suara.

Hal seperti ini dikategorikan sebagai ‘demokrasi instan’ atau pseudodemocracy dimana kompetisi pemilihan umum mudah dijalankan namun sulit untuk membangun check and balance yang efektif.

  1. Geografis Manusia

Geografis manusia yang dimaksud adalah pembagian populasi manusia secara politik dan sosial. Afrika dibagi-bagi menjadi banyak negara dibandingkan dengan kawasan lain yang pada akhirnya menyebabkan beberapa negara di Afrika memiliki penduduk yang sangat sedikit. Populasi yang sedikit dan keberagaman etnis menjadi penggambaran tertentu sosio-politik geografis orang Afrika yang menciptakan permasalahan.

Sebenarnya, menjadi kecil bukan masalah untuk menjadi kaya. Contohnya, Luxemburg yang sama kaya dengan Amerika Serikat. Namun dalam konteks pertumbuhan, menjadi kecil menyebabkan masalah. Pasca kemerdekaan, kebijakan ekonomi dan pemerintahan yang buruk. Namun sebuah reformasi yang efektif sulit dicapai dengan jumlah populasi yang sedikit. Berbeda dengan India dan Cina yang melakukan perubahan radikal dalam perdebatan internal negara mereka. Reformasi dalam jumlah massif juga mereka lakukan dan hal ini jelas sulit diadaptasi oleh negara dengan jumlah populasi yang sedikit. Bukan hanya sulit dalam menjalankan reformasi, kemungkinan terjunnya sebuah negara dalam tindak kekerasan dalam ‘menertibkan’ juga sangat besar.

Pembagian wilayah menjadi dua negara terpisah lebih memunculkan resiko yang besar dibandingkan persatuan (penggabungan). Negara-negara Afrika kebanyakan terlalu kecil bagi pemerintahnya untuk menyediakan keamanan kecuali jika kondisi lain baik-baik saja.

Aspek yang lain dari sosio-politik Afrika adalah tingginya keberagaman etnis dalam beberapa negara. Keberagaman etnis tidak seharusnya menjadi penghalang bagi perkembangan namun seharusnya mempunyai implikasi terhadap bangunan politik. Semakin beragam sebuah masyarakat maka semakin bagus pula pertumbuhan demokrasi di suatu negara. Namun, biasanya keberagaman etnis ditandai dengan adanya kekuatan militer oleh salah satu kelompok etnis. Aspek yang lain dalam keberagaman etnis adalah tindakan-tindakan kolektif dalam penyediaan sector public lebih sulit: kepercayaan dalam kelompok sangat terbatas. Sehingga banyak yang menilai kebijakan desentralisasi adalah hal yang bagus diaplikasikan di negara-negara Afrika yang sangat beragam akan etnis. Aspek yang terakhir dalam keberagaman etnis adalah masyarakat yang sangat dekat dengan konflik kekerasan.

  1. Implikasi bagi kebijakan untuk mengurangi kemiskinan di Afrika
  • Mengelola penggunaan sumber daya dalam keberagaman etnis. Check and balance dalam bagaimana pemerintah mampu menggunakan kekuasaannya dan mendesentralisasi penggunaan public. Komunitas internasional seperti Extractive Industries Transparency Initiative dapat membantu rakyat Afrika dalam menciptakan check and balance dan dengan mereformasi keamanan perbankan untuk membuat penipuan penyewaan sumber daya alam lebih sulit.
  • Bersaing dengan Asia dalam menyediakan akses pasar dan lokasi serta buruh yang terampil. Untuk negara coastal dan miskin sumber daya, kebijakan internasional yang memberikan kesempatan bagi Afrika sangatlah penting dalam mengurangi angka kemiskinan dibandingkan bantuan internasional.
  • Meredam konflik internal yang bisa muncul kapan saja. Intervensi keamanan seperti pengadaan pasukan penjaga perdamaian mungkin dibutuhkan sebagai strategi internasional dalam menjaga integritas negara-negara Afrika dan nantinya akan mereduksi kemiskinan.
  • Membutuhkan bangunan politik regional yang kuat. Komunitas internasional dibutuhkan untuk memikirkan kembali bagaimana strategi bantuan untuk mengurangi kemiskinan di Afrika secara global. Bantuan yang dibutuhkan tidak semuanya dialokasikan untuk investasi ekonomi namun lebih kepada bagaimana peningkatan level konsumsi. Bantuan kemanusiaan difokuskan untuk kondisi darurat jangka pendek dimana yang ditargetkan adalah peningkatan level konsumsi. Sedangkan bantuan jangka panjang ditargetkan kepada negara-negara dengan penghasilan rendah.Berdasarkan essai yang ditulis oleh Paul Collier, Poverty Reduction in Africa
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s