Review bacaan : Filipino Urge for Freedom from Spanish and U.S. Rules

a. Pemberontakan Awal melawan Spanyol
Bangsa Filipina adalah bangsa pertama di Asia yang dengan sukses memperkenalkan gerakan anti-kolonial untuk meraih kemerdekaan. Jika kita melihat bagaimana kondisi Filipina saat itu, maka kesulitan yang mereka hadapi akan nampak sangat jelas. Pulau-pulau yang terpisah, baik besar dan kecil, perbedaan bahasa, serta ketidak mapanan budaya sejarah adalah hal yang dimanfaatkan dengan baik oleh Spanyol dalam menanamkan peraturannya di Filipina.
Hampir sama dengan yang dialami bangsa-bangsa pendudukan Eropa pada umumnya, di Filipina terjadi gelombang penyebaran agama Kristen oleh kaum friars yang sangat besar dan pengeksploitasian sumber daya alam seperti tembakau, nila, ganja, dan gula. Hal ini sudah berlangsung selama kurang lebih tiga abad. Tentu saja, ini menimbulkan gerakan melawan Spanyol. Sekitar 30 pemberontakan telah terjadi dalam skala besar maupun kecil.
Pemberontakan di Bohol (1744), Pangasinan dan Ilokos (1760s) merupakan pemberontakan awal yang merupakan pemicu munculnya pemberontakan-pemberontakan lainnya. Untuk kasus ini, pemberontakan Bohol melakukan gerakan anti- friars, membunuh friars, dan mengambil tanah mereka. Tentu saja pemberontakan ini mendapat perlawanan yang keras dari bangsa Spanyol dan mengeksekusi orang-orang yang terlibat dalam pemberontakan ini. Namun, semua bentuk pemberontakan ini kemudian menjadi inspirasi bagi kaum nasionalis dalam usahanya mencapai kemerdekaan di abad ke-19 nanti.

b. Kebijakan Spanyol
Terjadi perubahan yang cukup signifikan dalam kebijakan Spanyol di bidang ekonomi. Kebijakan yang melarang pertanian dan pertambangan komersil telah ditinggalkan. Ini digantikan dengan kebijakan yang mendorong, atau lebih tepatnya memaksakan, penanaman jenis komoditas baru seperti nila, ganja, tembakau, gula, dan beberapa jenis rempah-rempah lainnya yang bernilai ekonomi tinggi di pasar Eropa.
Pengenalan terhadap free trade yang telah dilakukan pada tahun 1834 telah membawa pelaut dan pedagang dari Eropa dan AS datang ke Filipina. Ekspor hasil perdagangan telah menjadi pemasukan utama bagi bangsa Spanyol. Ditambah dengan pembukaan Terusan Suez pada tahun 1869 yang menjadi stimulus baik bagi perdagangan Filipina. Pada akhirnya, otoritas Spanyol dipaksa oleh beberapa kemajuan ini untuk meningkatkan komunikasi dan memperbaiki pelabuhan.
Tentu saja, kesempatan ini dimanfaatkan dengan baik oleh warga pribumi Filipina untuk melakukan kontak dengan warga asing (pelaut dan pedagang), mendapat barang asing, buku asing, dan ide-ide dari luar. Bagi warga yang beruntung dan memiliki kekayaan, belajar keluar negeri untuk pendidikan yang lebih tinggi adalah hal yang bisa mereka lakukan dan mendapat dukungan dari bangsa Spanyol.
Tidak sampai di situ saja, pendidikan dalam negeri Filipina juga mulai ditingkatkan. Setidaknya, dalam satu daerah (pueblo, Filipina) dibangun satu sekolah, Spanish Pueblo. Sastra dan bahasa Spanyol diajarkan. Institusi yang melatih guru-guru, sekolah agrikultur, dan sekolah umum juga dibuka. Perkumpulan debat dan pustaka juga berkembang dengan pesat. Pada tahun 1872, banyak sekali kaum muda yang berangkat ke luar negeri untuk belajar baik di Spanyol, Inggris, Perancis, dan Jerman.

c. Jose Rizal, pelopor gerakan kemerdekaan
Dari semua kaum muda yang berangkat belajar, ada seorang bernama Jose Rizal yang merupakan ahli bedah mata, penyair, novelis, jurnalis, dan ahli bahasa. Jose Rizal menyadari bahwa Filipina belum siap berdiri sendiri, suka atau tidak, peraturan Spanyol masih akan berlanjut untuk beberapa waktu. Bersama beberapa orang lainnya, Rizal aktif menulis di sebuah majalah La Solaridad yang mengkampanyekan reformasi di bidang ekonomi dan politik. kelompok yang menyebut diri mereka sebagai Propaganda Movement ini juga memanggil segenap rakyat Filipina untuk bergabung dan mencari keadilan bersama.
Pada tahun 1887, sebuah novel yang terkenal berjudul ‘Noli Me Tangere’ karya Rizal dipublikasikan untuk pertama kalinya. Tulisan ini mengkritik ‘friarocracy’ dengan tajam. Bagaimana tokoh utamanya digambarkan menentang kekerasan. Dalam novel ini juga, Rizal menggambarkan bahwa yang diinginkan bukan bentuk reformasi namun sebuah permohonan kepada pemerintah untuk memperbaiki kekerasan yang sedang terjadi.
Tentu saja kaum friars tidak suka dengan tulisan ini dan melarang novel ini beredar di Filipina. Bahkan, Rizal sempat ke luar negeri untuk mengamankan dirinya. Sekembalinya ke Filipina, ada perubahan signifikan dari dirinya. Ia kemudian mengalami kekecewaan yang amat sangat mendalam dan kehilangan cita-citanya. Dalam novel keduanya, El Filisbusterismo (1891), dia mengubah arah gerakannya. Penggambaran seolah-olah yang diinginkannya saat ini adalah kemerdekaan total untuk Filipina. Namun, segera setelah ia kembali pada pemahaman awalnya bahwa Filipina tidak siap, ia kemudian mendirikan Liga Filipina. Sebuah perkumpulan yang bertujuan untuk mempersatukan seluruh nusantara dalam satu kesatuan, teguh, dan kuat yang tentunya tidak merekrut rakyat untuk melawan Spanyol.
Hanya dua hari setelah berdirinya liga, Rizal ditangkap dan diasingkan di Mindanao. Dengan begitu, gerakan moderat digantikan dengan kelompok militant yang dikenal dengan The Katipunan. Sebuah organisasi proletar yang dipimpin oleh seorang rakyat jelata yang cukup berpengalaman, Andres Bonifacio. Organisasi ini bertujuan untuk mengumpulkan semua rakyat dari segala lapisan dan menghentikan pendudukan Spanyol. Gerakan ini memulai aksinya pada Agustus 1896 dan pada tanggal 30 Desember di tahun yang sama, Rizal dieksekusi mati.
Hidup dan tulisan Rizal dihargai sebagai sebuah bentuk usaha untuk mempersatukan rakyat Filipina dan memperkenalkan jiwa kebangsaan. Sementara di lain pihak, Andres Bonifacio digantikan oleh Emilio Aguinaldo dalam memimpin Katipunan. Hal ini dikarenakan Bonifacio telah gagal dalam upayanya mengerahkan kekuatan melawan Spanyol. Perang melawan Spanyol tidak terhindarkan dan ternyata tidak membawa banyak perubahan. Namun, di pihak Spanyol, gerakan ini tidak mudah dipangkas. Sehingga, dibentuk perjanjian yang menyatakan bahwa Spanyol bersedia membayarkan sejumlah uang bagi beberapa keluarga yang menderita kerugian materil selama konflik. Spanyol juga berjanji memberikan kebebasan pers dan representasi rakyat Filipina di birokrasi dalam negeri. Tetapi, ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh Aguinaldo yaitu ia harus pergi ke luar negeri bersama 33 pemimpin lainnya dan bersedia melakukan gencatan senjata. Ternyata, Spanyol hanya mengganti setengah dari jumlah yang dijanjikan dan sama sekali tidak mengimplementasikan reformasi birokrasi yang dijanjikan sebelumnya.

d. Camur tangan Amerika Serikat
Bangsa Spanyol mengira dengan perginya Aguinaldo dan kawan-kawan ke Hong Kong maka gerakan perlawanan telah berhasil mereka beli, mereka salah. Peletakan senjata merupakan salah satu strategi Aguinaldo. Ia menggunakan uang pembayaran dari bangsa Spanyol untuk membeli senjata dan tinggal di Hong Kong untuk membangun kerjasama dengan pihak asing, dalam hal ini AS. AS pernah terlibat perang dengan Spanyol di Karibia. Dengan dalih membantu rakyat Kuba, AS bersedia perang dengan Spanyol, namun kenyataannya hal itu mereka lakukan untuk melindungi kepentingannya di Kuba.
Hal ini pula yang terjadi di Filipina, di bawah pimpinan Comodore George Dewey, AS berjanji kepada Aguinaldo untuk membantu gerakan mereka untuk menghapuskan peraturan Spanyol di Filipina. Aguinaldo kemudian berlayar kembali ke Filipina dengan menggunakan kapal AS. Ia membawa serta semua senjata yang dibelinya di Hong Kong dan disuplai oleh pihak AS.
Ketika semua anak buah Agunaldo yang telah mengepung Manila menunggu aba-aba dari Dewey, aba-aba itu tidak pernah ada. Apa yang terjadi di Teluk Manila itu bukan peperangan, melainkan sebuah transaksi. Dewey menjamin penyerahan Manila untuk orang-orang Spanyol dengan syarat tertentu (perjanjian rahasia) antara AS dan Spanyol. Spanyol memberi hak dagang kepada AS untuk Filipina selama 10 tahun dengan pembayaran dari AS senilai USD20 millions.
Reason why?
Pengambil alihan Filipina di tahun 1899 telah membawa beberapa perubahan yang mengejutkan. Tentu saja, hal ini merupakan sebuah pelanggaran bagi nilai dasar puritan mereka. Hal ini dipaparkan oleh seorang sejarawan AS, Richard Hofstadster. Apa yang membuat mereka melaksanakan praktek imperialism baru dan menghapuskan kemerdekaan bagi Filipina?
Alfred Thayer Mahan mengatakan bahwa kekuatan laut adalah hal yang paling penting dalam membangun ataupun menghancurkan sebuah negara. Armada laut yang dimiliki AS berpasangan dengan produksi pertanian AS yang meningkat serta hasil pabrik yang menuntut adanya pasar luar negeri dan ekspansi colonial. Di pihak lain, seorang anti-imperialis, ekonom, dan aktivis social, J. A. Hobson menyebutkan bahwa imperialism orang Amerika adalah sebuah produk alami dari tekanan ekonomi yang tidak lagi bisa dicukupi dalam negeri sehingga membutuhkan pasar luar negeri untuk barang-barang mereka dan investasi.
Hal ini diperparah dengan krisis pada tahun 1893 di AS. Pasar di Eropa menjadi meragukan bagi barang dan investasi AS. Di pihak lain, kejadian di China pada decade silam telah mengancam eksistensi AS. Sehingga, untuk melindungi kepentingannya, AS harus terjun langsung dalam politik ‘Timur Jauh’ dan hal yang memungkinkan adalah menduduki Filipina demi melindungi efek domino China di Asia Tenggara.
Factor ekonomi dan non ekonomi telah membawa AS menyebarkan imperialism barunya. Factor personalitas juga berperan penting, bagaimana tokoh AS yang berpengaruh seperti Roosevelt, Dewey, dan Lodge meyakini bahwa ras mereka adalah ras yang tertinggi. Kulit putih adalah pemimpin, sedangkan kulit merah dan cokelat adalah budak. Bagi orang Filipina, baik Spanyol dan AS adalah kulit putih yang harus segera disingkirkan dari tanah air.

e. Resistansi Filipina berlanjut
Merasa ditipu mentah-mentah oleh AS, Aguinaldo bangkit dan segera mendapat beberapa kemenangan kecil. Republic yang telah diproklamasikannya tahun 1897 silam telah bangkit kembali. Konstitusi yang dibuat Januari 1899 telah membagi pemerintah menjadi 3 yaitu legislative, yudikatif, dan eksekutif. Konstitusi juga telah mengatur pemisahan antara gereja dan negara serta peraturan hak asasi. Resolusi memprotes pendudukan Amerika telah menyebar di seluruh penjuru negeri.
Pihak AS yang terdesak telah melakukan tindakan yang tidak berperi kemanusiaan yang menjadikan warga sipil sebagai target bersalah. Tindakan AS dinilai sebagai hal yang sangat tidak manusiawi dan mendorong munculnya banyak gerakan-gerakan gerilya. Pada tahun 1901 dan 1902, AS mendirikan kamp-kamp konsentasi ‘reconcentrando’ yang berjumlah 5 buah. Mereka kemudian menampung semua warga AS di kamp-kamp tersebut bersama beberapa warga sipil yang dinilai berpihak pada mereka. Sedangkan rakyat sipil baik wanita, anak-anak, dan orang tua yang berada di luar kamp dianggap sebagai musuh dan wajib dimusnahkan.
Di Batangas, di bawah kebijakan reconcentrando oleh Jenderal Franklin Bell, lebih dari 100.000 rakyat sipil meninggal dunia. Maret 1901, Aguinaldo akhirnya berhasil ditangkap oleh Kapten Fredrick Funston, namun gerakan resistansi terus berlanjut. Setahun kemudian, suplai ke kamp-kamp konsentrasi di potong dan memaksa mereka untuk menyerah.
Pada tahun 1902, perang dinyatakan berakhir dengan resmi. Namun, pada tahun 1905, barulah kelompok resistansi Filipina dinyatakan benar-benar telah telah hancur. Di pihak AS, biaya perang tidak bisa dikalkulasikan lagi. Jenderal Bell mengestimasikan sekitar 600.000 rakyat sipil Filipina meninggal di kamp konsentrasi karena penyakit dan lebih dari satu juta rakyat sipil menjadi korban sebelum Filipina benar-benar ‘ditenangkan’.

f. Zaman Amerika Serikat
Dekade pertama penerapan peraturan AS, ada 3 faktor penentu yang dijadikan sebagai acuan pembuatan kebijakan, yaitu:
1. Divisi AS yang digabungkan dengan orang-orang Filipina.
2. Kesadaran akan nasionalisme Filipina.
3. Warisan pendudukan Spanyol.
Jika melihat nilai-nilai puritan yang dimiliki oleh orang AS, maka yang dilakukan pemerintah AS adalah hal yang amat sangat bertentangan. Gelombang protes mulai terjadi dalam negeri AS. Mereka meminta pemerintah dengan segera memberi kemerdekaan bagi Filipina dan menjunjung tinggi asas kebangsaan mereka.
Pada akhirnya lahan milik friars bisa dibeli oleh publik. Court juga telah mensahkan pemisahan antara gereja dan negara. Terbukti pada tahun 1907, Filipina diberi reformasi politik dengan melaksanakan pemilihan anggota legislative. System pemerintahan AS diadopsi untuk Filipina yang membagi dua kamar pada senat. Baik oposisi dan pemerintah Filipina tidak suka dengan kelambanan AS dalam menyerahkan kekuasaan. Ini dibuktikan dengan lebih sedikitnya orang Filipina dalam senat dibandingkan AS, sehingga AS tetap saja menjadi upper house dan kebanyakan kebijakan yang ditawarkan tidak akan diterima jika tidak mendukung kepentingan AS.
Maka dibentuklah sebuah perjanjian persemakmuran yang menjanjikan kemerdekaan penuh untuk Filipina tahun 1946. Perjanjian tersebut juga mengatur hubungan luar negeri, tariff, dan pajak perdagangan Filipina di bawah control AS.

g. Jepang dan Filipina
Di lain pihak, saat Perang Dunia II terjadi dan bergejolak, Jepang melihat ada potensi besar di Filipina seperti hasil pertanian dan barang tambang mineralnya. Ketika tentara Jepang mulai mendarat di wilayah Indocina Perancis, AS lalu membekukan asset Jepang yang di luar negeri, embargo minyak, dan menempatkan Jenderal Douglas MacArthur dalam perluasan militer AS di Filipina.
Reaksi Jepang dalam menanggapi tindakan ini adalah menyerang Pearl Harbor pada tanggal 7 Desember 1941 yang dinilai sangat membahayakan eksistensinya dalam mencapai perluasan wilayah di Asia dan Pasifik. Beberapa hari setelahnya, Jepang kembali menyerang Filipina yang ditempati oleh tentara AS. Serangan Jepang yang sangat kuat memaksa Jenderal MacArthur melarikan diri ke Australia pada tanggal 17 Maret yang merupakan pangkalan AS.
Tidak hanya pihak AS, banyak juga gerakan gerilya Filipina yang ingin mengusir Jepang dari negeri mereka. Bahkan ada yang menjadi intelejen AS dengan melakukan kontak dengan MacArthur lewat gelombang radio.
Jepang kemudian mendirikan negara boneka di Filipina dengan harapan rakyat Filipina menghentikan gerakan gerilya mereka melalui kampanye Persaudaraan Asia (Asian Brotherhood). Merasa tidak berhasi, maka pada bulan Oktober 1943, Jepang merundingkan akan memberikan kemerdekaan bagi Filipina. Upaya Jepang ini tetap saja menuai kegagalan, gerakan gerilya masih terus berlangsung. Tepat setahun kemudian, MacArthur berhasil merebut Leyte yang dibantu dengan gerilyawan Filipina. Pemerintahan Persemakmuran Filipina telah dibangun kembali dan akhirnya Filipina diberikan kemerdekaan penuh pada tanggal 4 Juli 1946 bersamaan dengan tanggal kemerdekaan AS. Ini menandakan bahwa Filipina adalah negara Asia pertama yang bebas sepenuhnya dari peraturan Barat.

h. Kebijakan Amerika Serikat
Beberapa kebijakan AS masih tertanam di Filipina, diantaranya:
a. Perdagangan
– Ekspor-impor tetap berjalan sesuai perjanjian terdahulu.
– Tidak ada lagi pembatasan kepemilikan tanah seperti yang terjadi antara kaum pribumi dengan friars.
– Peningkatan jumlah hasil produksi pertanian.
b. Investasi
– Dalam bentuk penanaman tembakau, tebu, dan ganja.
– Pembuatan railroad.
c. Kesejahrteraan social
– Pembangunan sekolah dan keran air bersih.
– Program imunisasi oleh Departemen Kesehatan.
– Pengiriman tenaga pengajar AS ke Filipina.
– Kebijakan pendidikan US mengubah pola hidup masyarakat Filipina.
– Peningkatan jumlah sekolah dan universitas.

B. Filipina saat ini
Pasca kemerdekaan tahun 1946, Filipina menjadi salah satu negara dunia ketiga saat ini. Sector perekonomian utama masih bergerak di bidang pertanian. Pada salah satu kesempatan, beberapa pejabat keuangan senior Filipina akan berkunjung ke Tiongkok dalam rangka mempromosikan peluang investasi kepada kalangan industri dan bisnis Tiongkok. Pejabat-pejabat keuangan senior Filipina itu antara lain adalah gubernur bank sentral, menteri perdagangan dan industri, menteri proyek publik dan jalan raya, menteri energi dan deputi serta menteri Pusat Proyek Program Kemitraan Kerjasama Publik dan Swasta. Mereka akan berkunjung ke Beijing dan Shanghai. Saat ini, tingkat inflasi yang terjadi di Manila cukup tinggi dan hal ini mengancam perekonomian kawasan berdasarkan prediksi ADB (Asia Development Bank).
Ada hal yang menarik di Filipina, sejak kekuasaan Presiden Benigno Aquino pada pertengahan tahun 2000 sebanyak 98 jurnalis meninggal di Filipina sejak tahun 2000. Mereka tewas karena terkait dengan pekerjaannya sebagai jurnalis. Hal ini berdasarkan catatan International Press Institute. Maria Len Flores Somera, 44, jurnalis yang juga penyiar radio di Filipina ditembak mati di Manila, Kamis, 24 Maret 2011. Somera ditembak di bagian kepala saat berjalan menuju halte bus. Dia meninggal di perjalanan menuju rumah sakit. Acara talk-show yang dipandu Somera di radio kerap mengkritik kebijakan pemerintah. Bahkan acara tersebut menyiarkan langsung aduan publik terhadap kinerja pemerintah dan layanan publik. Filipina tercatat sebagai negara yang berbahaya bagi jurnalis. Di negara tersebut pembunuhan jurnalis sering terjadi. Somera adalah jurnalis ketiga yang tewas dibunuh pada tahun ini.
Hal ini merupakan bukti bahwa demokrasi yang sebenarnya memang tidak diindahkan sepenuhnya oleh pemerintah. Jika pembunuhan ini memang terbukti karena pekerjaan jurnalis, maka kebebasan pers yang diagung-agungkan oleh pendahulu mereka telah dilanggar sama seperti pada zaman pendudukan Spanyol.

Sumber:
http://www.tempointeraktif.com/penyiar-radio-filipina-ditembak-mati
http://www.chinaradiointernational/filipina-akan-adakan-promosi
http://www.inilah.com/adb-pertumbuhan-melemah-waspada-inflasi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s