Sari Di Esok Hari…

Kau mengenalku dan aku pun mengenalmu. Hanya saja kita belum pernah bertemu. Selama ini, teknologi-lah yang menjadi penghubung kisah kita. Jauhnya jarak yang terbentang menjadikan hubungan kita special. Hubungan yang tidak berstatus ini kita jalani dengan santai dan serius di saat bersamaan. Bagiku, ini adalah hal baru dan membuatku semakin bersemangat menjalani hari-hari penat di kampus. Ya, pesan singkat dan telepon darimu menjadi sesuatu yang kunantikan setiap saat.

Arvi, sebut saja seperti itu. Namamu semakin membuatku penasaran seperti apa tampangmu sebenarnya. Foto yang kau kirimkan di emailku tidak menjawab rasa penasaranku. Aku ingin menatapmu langsung, melihat ke dalam dua bola matamu, dan mencari diriku di dalam sana. Apakah memang diriku lah yang menjadi pilihan hatimu seperti yang kau selalu katakan di pesan singkatmu?

Hari berganti bulan. Semakin lama perasaanku semakin banyak untukmu, walaupun tidak terlalu nampak bagimu. Di kepalaku hanya kau lah yang menjadi pendampingku nanti. Menjadikanku istrimu. Hahahaha. Harapanku ternyata terlampau tinggi.

Seketika kau menghempaskanku ke bumi. Telepon di malam lebaran itu menghancurkanku begitu saja. Kau memutuskan pergi. Pergi mencari cinta lain. Seketika itu airmataku jatuh. Kau tahu betapa sulitnya berbicara saat airmata jatuh? Kau tahu betapa sulitnya diriku menahan diri agar kau tidak mendengar suara tangisan ini? Tidak. Yang kau tahu hanya bagaimana aku bersikap biasa dan masih bisa tersenyum di balik telepon. Ya. Aku berusaha tersenyum dan terdengar seperti biasa seakan tidak ada sesuatu yang salah. Seakan memang inilah akhir yang kuinginkan. Tahukah kau betapa luka saat itu terasa pedih? Amat pedih.

Kau menyerah. Kau sangat patuh pada orang tuamu. Tentu, itu adalah kewajibanmu sebagai anak. Menuruti kemauan orang tuamu. Bagi mereka, apalah diriku yang terlalu jauh darimu? Sedangkan dia, mungkin lebih baik dariku. Tidak ada lagi yang bisa kukatakan. Lidah ini terlalu kelu berkata-kata lagi.

Kusadari diriku terlalu naïf dan mungkin bodoh. Kau tidak salah. Sama sekali tidak. Hanya diriku yang terlalu berharap pada kisah yang tidak sempurna ini. Perasaan sakit yang kurasa sekarang tidak lebih dari sakit yang kuciptakan. Sedari awal aku sudah tahu aka nada resiko seperti ini. Tapi, tidak kusangka datangnya secepat ini dan rasanya sesakit ini. Sakit sekali. Dadaku sesak. Apakah kau merasakan hal yang sama? Hahahaha.

Kupaksakan untuk menjalani hari-hariku kembali karena kutahu luka yang kau torehkan akan menghilang sejalan dengan waktu. Biar saja. Luka ini akan mengering dan nanti aku bahkan akan lupa rasanya. Aku hanya berharap waktu akan datang dengan cintanya padaku. Menyembuhkanku dan membantuku melupakanmu.

Walaupun ada rasa tidak rela, tapi biarlah. Senyumku akan membantumu pergi dariku. Pergilah! Jangan merasa berat padaku! Pergilah! Bahagiakan pilihan orang tuamu! Berbahagialah! Jangan lagi tanyakan kabarku! Aku akan baik-baik saja. Aku akan menemukan cintaku juga. Berikan aku senyummu dan doakan aku.

Semoga kau bahagia di sana.. Doaku untukmu.,

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s