Arah Kebijakan Politik Luar Negeri Uni Eropa Terhadap Negara Mediterania dan Timur Tengah

Mediterania dan Timur Tengah terlihat sangat berbeda dengan sisi Atlantis. Kedua wilayah ini menjadi representasi wilayah sebelah selatan dari Eropa dan sangat berbeda dengan Amerika Tengah dan Utara. Sebenarnya, Uni Eropa selalu mengkampanyekan kawasan Mediterania dan Timur tengah yang penuh dengan perdamaian, kesejahteraan, dan stabil dimana hal itu dilakukan dengan cara: manajemen migrasi yang baik, pengejaran tujuan-tujuan komersil, perang dengan kejahatan terror, dan mengamankan suplai energy. Uni Eropa juga sebagai actor non negara juga sedikit banyak member pengaruh terhadap pembuatan kebijakan dalam kedua kawasan tersebut yang tidak lain dari perluasan kebijakan yang datang dari Uni Eropa itu sendiri.

Beberapa decade selanjutnya, Uni Eropa terjebak dalam retorikanya sendiri dimana Uni Eropa bisa dikatakan tidak mampu mengakomodasi negara-negara yang ingin masuk menjadi anggota dalam Uni Eropa itu sendiri. Akibatnya, banyak kebijakan yang diambil untuk kawasan ini ditandai dengan karakteristik Eropa yang mencampurkan antara integrasi dan kebijakan luar negeri.

  1. Keanggotaan Turki dalam Uni Eropa

Kasus yang paling menonjol adalah keanggotaan Turki yang sampai saat ini masih ditunda oleh Uni Eropa. Walaupun pengalaman sejarah membuktikan bahwa Turki adalah daerah yang sangat vital baik bagi Amerika Serikat, Eropa, dan Rusia tapi Turki tetap ditahan status keanggotaannya di Uni Eropa sejak satu decade silam. Kebijakan ‘Uni Eropa-nisasi’ yang selalu didengungkan oleh Uni Eropa menjadi momok sendiri bagi Uni Eropa itu sendiri. Bagaimana tidak, jika Turki yang ingin masuk dalam keanggotaan Uni Eropa sampai saat ini masih belum jelas. Uni Eropa-nisasi Turki menjadi bagian penting dalam kebijakan luar negeri Uni Eropa yang tertuang dalam adopsi dan implementasi seluruh hukum Uni Eropa.

Sejarah membuktikan bahwa Turki memiliki hubungan yang lumayan dekat dengan Uni Eropa yang dibuktikan dengan consensus antara Turki dan Uni Eropa dalam integrasi ekonomi. Satu-satunya alasan dimana Uni Eropa sampai saat ini masih tidak memperbolehkan Turki adalah kestabilan yang harus dipenuhi belum maksimal atau memenuhi standar yang telah ditentukan. Ada tiga factor yang bisa menjadi bahan analisis antara Turki dan Uni Eropa. Pertama dan paling penting adalah kapabilitas Uni Eropa dan relevansi secara spesifik dengan kerangka kerja Uni Eropa beserta semua instrument yang ada di dalamnya. Di sini, Turki ingin mengubah posisi dari partner kerjasama menjadi sebuah bagian dalam Uni Eropa. Hal ini dibuktikan pada tahun 2001 ketika Turki mengamandemen perudang-undangannya sebanyak 31 pasal. Sehingga, titik balik yang paling kentara adalah ketika Parlemen Turki menyetujui beberapa harmonisasi legal formal seperti pelarangan hukuman mati, hak untuk mengajar dan menyebarkan berita tidak hanya dalam bahasa Turki, kebebasan berbicara dan berkumpul, dan pengakuan terhadap agama minoritas. Beberapa poin yang dilakukan oleh Turki memperlihatkan bahwa Turki dengan seriusnya ingin menjadi bagian dari Uni Eropa atau dengan kata lain Uni Eropa berhasil mempengaruhi kebijakan domestic Turki.

Kedua adalah determinasi dari dampak Uni Eropa-nisasi Turki terhadap kepentingan-kepentingan anggota lainnya dan akhirnya mempengaruhi proses penyatuan baik itu dari teknis maupun secara objektif. Maksudnya, banyak sekali kepentingan yang bermain dalam status keanggotaan Turki di sini. Jerman, Perancis dan Belanda berargumen bahwa kondisi ekonomi Turki akan membawa kebangkrutan bagi bank-bank Uni Eropa. Sedangkan Cyprus dan Yunani menganggap permasalahan wilayah persengketaan mereka dengan Turki akan membawa konflik itu ke dalam Uni Eropa dimana Uni Eropa tidak menginginkan ada ancaman terhadap integrasi yang telah mereka bangun. Kekhawatiran-kekhawatiran politik inilah yang telah mencemari proses penyatuan Turki ke dalam Uni Eropa.

Ketiga, Turki sendiri yang menjadi unit analisis dalam determinasi Uni Eropa-nisasi Turki. Momentum reformasi yang dilakukan oleh Turki sejak keinginan mnjadi anggota Uni Eropa sangat total dilaksanakan bahkan dengan perombakan banyak pasal konstitusi dasar mereka. Turki melakukan transformasi politik agar menjadi standar Uni Eropa namun perebutan kekuasaan masih kental terasa dan hasil outcomenya belum bisa dipastikan. Sehingga, keanggotaannyapun masih berada di ambang ketidak pastian.

  1. Konflik Palestina-Israel

Kasus lain adalah Israel yang menduduki Palestina. Dalam hal ini Uni Eropa bertindak berdasarkan dua pilar. Pilar pertama adalah mengamankan Israel dan Palestina dari hak untuk menentukan nasib sendiri. Uni Eropa secara sejarah telah mendukung posisi negara Israel dimana mereka mengakui hak Israel untuk memiliki wilayah dan melakukan hubungan-hubungan kenegaraan. Sedangkan terhadap Palestina, Uni Eropa telah menghentikan dukungannya sejak tahun 1980 yang dituangkan dalam Deklarasi Venice. Namun seiring berjalannya waktu, Uni Eropa mengubah posisinya menjadi lebih netral yang menginginkan perdamaian bagi kedua negara untuk hidup berdampingan bersama dan sejak saat itu, tahun 2000, maka arah kebijakan Uni Eropa berpusat pada proses perdamaian kedua negara tersebut.

Pilar kedua adalah pentingnya untuk menghargai hak asasi, prinsip demokrasi, dan hukum internasional. Kebanyakan deklarasi Uni Eropa mengenai konflik telah memposisikan Palestina sebagai teroris yang mencederai hukum mengenai kekerasan dan bahkan hukum internasional. Sedangkan Israel dianggap telah melanggar Konvensi Geneva Keempat yang menduduki wilayah negara de facto. Namun sayangnya selama masa-masa Oslo, Uni Eropa menjadi diam dan tidak menunjukkan kepedulian. Akan tetapi sejak pendudukan Gaza oleh Israel dan pemisahan jalur Gaza dengan Tepi Barat, Uni Eropa menjadi lebih peka dan menunjukkan beberapa tindakan walau hanya berbatas pada pembuatan deklarasi mengecam tindakan kedua negara yang melakukan kekerasan terhadap warga sipil.

Poin penting yang ditekankan oleh Uni Eropa dalam penyelesaian konflik keduanya adalah diplomasi, pembangunan karakter, hubungan kontraktual. Melalui OPT, Uni Eropa berusaha mendamaikan kedua negara. Walaupun telah terjadi konflik terbuka antara dua negara ini, namun Uni Eropa masih menganggap jalan diplomasi adalah jalan terbaik yang bisa ditempuh oleh kedua negara.

Bantuan kedua yang dilakukan oleh Uni Eropa selain diplomasi adalah pemberian asistensi ekonomi terhadap Palestina disertai dana bantuan yang nilainya memang banyak. Pertanyaan yang muncul adalah bagaimana bantuan ini diserahkan tanpa ada kepentingan Uni Eropa yang ada dibalik ini. Namun, diakui bahwa bantuan ekonomi yang diberikan oleh Uni Eropa sangat bermanfaat bagi Palestina. Banyak hal lain yang dilakukan oleh Uni Eropa untuk membantu penanganan konflik kedua negara ini. Diantaranya membentuk EUCOPPS, EUBAM, dan melakukan pembangunan kapasitas di Palestina. Saya menilai pembangunan kapasitas ini melalui bantuan teknis adalah semacam jalur masuk pengaruh yang akan ditanamkan oleh Uni Eropa terhadap Palestina.

Dalam proses evolusi konflik Israel dan Palestina, Uni Eropa bukanlah actor utama melainkan hanya actor pembantu. Namun, peran yang dimainkan oleh Uni Eropa cukup besar. Dalam tahun-tahun Oslo, Uni Eropa memberi bantuan dan dukungan terhadap PA dan proses perdamaian tanpa memberi perhatian yang banyak terhadap tindakan-tindakan yang diambil oleh PA serta Israel yang dinilai telah melanggar hak-hak asasi manusia dan hukum internasional telah member perpanjangan pada grip-grip OPT.

Pengaruh yang telah diberikan oleh Uni Eropa terhadap perkembangan konflik yang dialami oleh Palestina dan Israel sedikit banyak lebih condong ke pemberian bantuan terhadap Palestina dan pengecaman terhadap Israel. Uni Eropa menilai bahwa sebenarnya, kedua negara inilah yang berada di daftar teratas kerjasama kontraktual yang dilakukan oleh Uni Eropa walaupun hal ini sebenarnya menurut saya tidak terlalu benar adanya.

Hubungan antara Uni Eropa dan Israel berada dalam ekskalasi krisis namun hubungan Israel dengan Amerika Serikat telah membawa Israel pada posisi tawarnya di dunia internasional yang lumayan bagus dibandingkan dengan Palestina yang tidak di-back up oleh negara besar manapun. Palestina menyambut baik bantuan Uni Eropa yang juga memperlihatkan bias dukungan Amerika Serikat terhadap Israel. Walaupun demikian, Palestina dan Israel tidak serta merta ingin menjadi bagian dari Uni Eropa.

  1. Konflik Iran-Iraq

Perang Teluk adalah momentum besar bagi Uni Eropa untuk masuk ke dalam ekskalasi hubungan kedua negara tersebut. Pasca Perang Teluk ini sendiri, embargo ekonomi yang dilakukan terhadap Iraq telah membawa dampak yang cukup signifikan selanjutnya. Hubungan Uni Eropa dengan Iraq berakhir. Uni Eropa membekukan asset financial dan suspensasi terhadap semua hubungan perdagangan kecuali suplai makanan dan obat-obatan untuk bantuan kemanusiaan. Sejalan dengan resolusi yang dikeluarkan oleh Dewan Keamanan PBB, Uni Eropa menjatuhkan sanksi terhadap Iraq dengan kondisi akan mengembalikan hubungan baik keduanya apabila Iraq bersedia memenuhi poin-poin resolusi tersebut.

Dalam tubuh Uni Eropa sendiri, banyak pertentangan mengenai hal ini. Misalnya saja untuk invasi ke Iraq, Jerman dan Perancis lebih memilih member bantuan kemanusiaan yang bersifat lebih manusiawi. Sedangkan Inggris, Italia, dan Spanyol memenangkan suara untuk agresi militer yang dibantu juga oleh Amerika Serikat. Pada akhirnya, Uni Eropa mau tidak mau menjalani pilihan mayoritas.

Seiring berjalannya waktu, Iran yang dulunya dibela oleh Uni Eropa sekarang berbanding terbalik perkembangan statusnya. Justru Uni Eropa-lah yang gencar melakukakan embargo ekonomi akibat pengembangan nuklir yang dilakukan oleh Uni Eropa itu. Sehingga, pola kebijakan luar negeri yang dulunya pro Iran sekarang malah kontra Iran. Akibatnya, hubungan Iran dan Uni Eropa semakin memburuk sampai saat ini.

Tulisan ini merupakan review dari buku yang berjudul European Foreign Policy: Does Still Matter Chapter 6 Europe, the Mediterranean, and the Middle East A Story of Concentric Circles oleh Nathalie Tocci and Benedetta Voltolini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s