PERLAWANAN TERHADAP SISTEM INTERNASIONAL: PENGALAMAN KUBA DAN VENEZUELA

KUBA

Kondisi dan letak geografis Kuba sedikit banyak telah memberi pengaruh terhadap perkembangan sejarah. Pendudukan yang dilakukan Bangsa Spanyol juga menjadikan Kuba sebagai negara yang multikultur. Perekonomian Kuba awalnya berputar pada perkebunan kopi yang kemudian merambah pada tembakau yang mampu bertahan. Sehingga, kita mengenal bahwa cerutu Kuba adalah cerutu terbaik di dunia saat ini.

Sama seperti negara Amerika tropis lainnya, perkembangan ekonomi Kuba sangatlah tipikal yang ditandai dengan monoagrikultur, basis buruh, dan agrikultur yang berorientasi pada ekspor. Sehingga, perkembangan ekonomi sangatlah stagnant dan bahkan tidak dirasakan oleh masyarakat kelas bawah.

Pada tahun 1868-1878 terjadi ‘Perang 10 Tahun’ yang menjadi penanda kebangkitan gerakan nasionalis di Kuba[1]. Namun, Spanyol masih bisa menangkis gerakan kemerdekaan ini. Akan tetapi banyak elit Kuba yang tidak menyukai lagi keberadaan Spayol di Kuba. Sehingga mereka berpikir bahwa sudah saatnya arah perekonomian Kuba diubah. Sejak 1880 perekonomian Kuba didominasi oleh perdagangan dan investasi Amerika Serikat. Penduduk Kuba yang kaya banyak pro terhadap AS dan berhasil menyingkirkan Spayol.

Spanyol belum keluar sepenuhnya dari Kuba saat Jose Marti, seorang pejuang nasionalis, melakukan gerilya di pegunungan. Sebagai respon balasan, maka Spanyol mendirikan kamp-kamp konsentrasi untuk memusnahkan pemberontak-pemberontak. Ternyata, AS dengan sigap membantu Kuba dalam melawan Spanyol dengan alasan moral, mengamankan perdagangan mereka, agama, dan penilaian bahwa Spayol telah misrule.

Seakan menggantikan Spanyol, pendudukan militer AS dianggap sebagai ‘pencerahan’ dimana mereka membangun sekolah, jalanan, dan jaringan telegraf untuk menjaga Kuba tetap pada orbit AS. Di lain sisi, Kuba dibiarkan memilih konstitusi sendiri namun AS memaksa Kuba untuk tunduk pada ‘Platt Amendment’ yang memberikan hak kepada AS untuk melakukan intervensi terhadap politik domestik jika AS menilai ada kesalahan dalam kebijakan Kuba. Sehingga, Kuba menjadi wilayah perlindungan AS sampai tahun 1934.

Perkebunan tebu adalah salah satu produk Kuba yang sangat vital perannya. Namun, siklus penanaman tebu ternyata membawa dampak yang kurang baik terhadap buruh. Tebu hanya ditanam antara 5-25 tahun sekali dengan masa panen yang terlalu sering. Masalah yang dihadapi oleh buruh adalah ‘dead season’ dimana mereka tidak memiliki pekerjaan untuk digarap. Buruh, seperti kebanyakan di negara Latin lainnya, juga tidak memiliki uang untuk membeli tanah bahkan mereka tidak diberikan hak memiliki tanah jikapun mereka memiliki sedikit uang. Hal ini diperparah dengan posisi mereka sebagai buruh yang fokus pada perbaikan kondisi kerja dan kenaikan gaji, bukannya petani yang meminta hak pemilikan tanah.

Kontrol AS semakin dominan karena AS adalah konsumen gula terbesar di Kuba. Bahkan, AS adalah satu-satunya partner perdagangan gula Kuba. Sehingga, dominasi yang terjadi sangatlah besar. Pada tahun 1903, Kuba dan AS sepakat saling mengurangi tarif dagang mereka satu sama lain. Sampai tahun 1930 dimana terjadi krisis dunia, Kuba juga terkena dampak langsung karena partner abadi mereka menjadi korban krisis. Hal yang dilakukan oleh keduanya adalah melakukan penyesuaian tarif baru dan pada akhirnya hubungan kedua negara itu menjadi sangat erat.

Bisa dikatakan bahwa Kuba pada masa pemerintahan Presiden Machado adalah pemerintahan paling terkorup sepanjang sejarah negara republik[2]. Sifatnya yang sangat represif pada akhirnya memancing munculnya nasionalis-nasionalis Kuba. Bersamaan dengan krisis tahun 1930-an, tidak ada kebijakan yang dikeluarkan oleh Machado yang mempu membebaskan Kuba dari krisis.

Kemunculan oposisi yang berasal dari golongan mahasiswa, pemimpin-pemimpin buruh baik rural maupun urban, reformer kelas menengah, dan politisi yang terpinggirkan menjadikan Machado semakin represif dan seakan-akan AS pasif demi alasan demokratisasi. Tujuan yang dibawa oleh kelompok oposisi ini adalah ‘Kuba yang jujur’ dan ‘hanya Kuba, tidak ada AS’.

Pada tahun 1933, tampuk pemerintahan diambil alih oleh Sersan Fulgencio Batista dimana dia mengklaim bahwa pemerintahan baru adalah revolusi sosial baru. Tapi ternyata tidak. Batista tidak lebih dari pemerintah boneka AS karena kerjasama dengan AS justru semakin erat. Bahkan, Batista tidak segan memecat Grau, seorang pemimpin buruh yang dulunya bersama Batista memperjuangankan kemapanan sosial bersama. Hal ini dilakukan karena takut akan perkembangan paham kiri di Kuba. Selama pemerintahan Batista, banyak terjadi demonstrasi yang menginginkan Kuba terlepas dari orang-orang yang haus akan kekuasaan seperti Machado dan Batista. Demontrasi ini bisa dikatakan sebagai titik cerah karena munculnya kesadaran akan perlunya penggulingan kekuasaan.

a. Amerikanisasi dan Pra-Revolusioner Kuba

Intervensi, pendudukan, dan pemerintahan dari AS memperlihatkan bahwa politik Kuba adalah subordinat dari kepentingan-kepentingan AS. Tidak kurang bahwa hegemoni politik dan ekonomi, yang sulit didefinisikan, adalah pengaruh budaya AS di sepanjang penjuru pulau Kuba pada tahun 1950-an.

Bahasa Inggris adalah bahasa pertama di beberapa tempat domisili atau bisnis orang berkebangsaan AS. Hal-hal baru seperti gangsterisme, perjudian, dan prostitusi telah melebur di kehidupan sosial masyarakat Kuba. Belum lagi musik dan film yang berasal dari industry Hollywood yang sedikit banyak mempengaruhi budaya asli Kuba.

Bukan hanya pengaruh dalam budaya materil namun juga terhadap budaya nonmaterial dimana konsumerisme telah merasuk di kalangan elit Kuba. Mereka tidak segan untuk ke Miami dan New York hanya untuk berbelanja fashion di sana lalu memamerkan di Kuba apa saja yang telah mereka beli. Akhirnya, cara pakaian mereka berubah dan cara hidup mereka yang terlalu meniru Americans.

Ketika kelas elit bergelimang harta, kelas bawah harus berjuang melawan ketergantungan ekonomi yang membelit. Kemiskinan yang diderita membawa mereka pada pilihan untuk berontak dan berjuang. Kelas profesional dan kalangan menengah Kuba mengutuk AS yang dilambangkan oleh gangster, pelaut-pelaut yang kasar, turis, dan elit Kuba yang meniru fashion Amerika Utara dan sayangnya, terlihat sangat konyol

b. Kuba di Bawah Fidel Castro

Pada tanggal 2 Januari 1959, Castro mengambil alih pemerintahan  Kuba. Tujuh bulan kemudian, ia diangkat menjadi presiden. Tindakan pertama yang dilakukan oleh Castro adalah membersihkan pendukung Batista. Selain itu langkah-langkah yang diambilnya adalah dilaksanakannya distribusi tanah bagi keluarga yang belum memilikinya serta penghapusan pertanian sistem sewa, pemilikan tanah untuk orang asing diperketat. Pembagian tanah kepada rakyat merupakan janji Castro dan tentaranya, ketika masih melakukan perlawanan gerilya.

Di bidang ekonomi, pertumbuhan mencapai 5% dalam catatan tahun 1983. Namun, ada kegagalan dalam kebijakan ekonomi Castro pada akhir tahun 1960-an, yakni kegagalannya untuk menaikkan produksi gula dan akhirnya memporak-porandakan perekonomian negara. Uniknya Castro sebagai pemimpin berani mempublikasikan permintaan maaf di depan umum. Di sinilah letak kunci kekuasaan Fidel Castro, yaitu kemampuannya meyakinkan rakyat. Dalam bidang sosial pendidikan, perubahan yang cukup radikal dilakukan pemerintahan revolusioner di Kuba. Jalur utama pendidikan tidak lagi diintervensi Gereja Katolik. Dalam perkembangan era kekuasaan Castro dan pemerintahannya, Kuba mengalami berbagai kemajuan juga.

Namun sebagaimana negara-negara di Amerika Latin lainnya, Kuba juga memiliki problem sosial berkaitan dengan masalah tanah, pertanian, pengangguran, dan kesehatan. Kuba di bawah kepemimpinan Castro di bidang kesehatan juga mengalami kemajuan. Sejak saat itu kebijakan sosial menghasilkan buah yang cukup baik. Sistem kesehatan unggulan, seluruh masyarakat melek huruf, dan hubungan antar-ras agak baik juga. Distribusi kekayaan jauh lebih merata dibandingkan dengan, misalnya, negara tetangga Amerika Serikat.

Banyak pengamat kiri yang menyimak prestasi Kuba ini, pertumbuhan ekonomi yang lumayan, dinas-dinas sosial yang bagus, hubungan antar-ras yang tidak serasis banyak negeri lain dan menarik kesimpulan bahwa revolusi Kuba sudah membangun sebuah masyarakat sosialis yang bagus.

Namun kemajuan yang dialami oleh Kuba ini tidak serta merta diterima baik oleh negara lain, termasuk AS. Sikap AS terhadap pemerintah revolusioner yang baru segera berubah dari berhati-hati menjadi curiga hingga akhirnya menjadi frontal. Setelah castro menasionalisasi properti-properti yang dimiliki oleh AS, bersekutu dengan Partai Komunis dan bersahabat dengan Uni Soviet, AS memutuskan hubungan diplomatik dan ekonomi dengan Kuba dan memberlakukan embargo perdagangan dan perjalanan yang masih berlaku hingga kini.

Pada April 1961, AS melaksanakan Invasi Teluk Babi, sebuah usaha yang gagal untuk menyingkirkan Castro dari tampuk kekuasaan. Operasi-operasi berikutnya untuk menurunkan Castro gagal. Castro menjadi salah satu pemimpin di dunia yang berkuasa paling lama. Fulgencio Batista meninggal di Spanyol pada usia 72 tahun pada 6 Agustus 1973. Pada akhir Juni 2006, Fidel Castro yang bermasalah dengan kesehatannya secara sementara mengalihkan kekuasaannya kepada adiknya, Raul. Fidel Castro secara resmi baru mundur dari jabatannya pada Februari 2008.

Memulai kepimpinannya di Kuba, Raul Castro mengumumkan serangkaian langkah reformasi. Jumlah pegawai negeri akan dikurangi secara drastis. Tiang penyangga sistem ekonomi birokratis di Kuba sekarang mulai retak. Bisa diperkirakan, bahwa pada saat langkah-langkah pembaruan ini mulai diterapkan, rakyat Kuba akan menuntut ruang gerak yang lebih besar lagi bagi sektor swasta. Saat ini, negara masih menguasai 90 persen perekonomian. Rencana perampingan birokrasi diumumkan tidak lama setelah Kuba membebaskan 52 tahanan politik. Bagi Raul Castro, langkah-langkah ini adalah indikasi bahwa rezim di Kuba masih kuat. Tapi pada kenyataannya, posisi pemerintah makin lama makin lemah.

VENEZUELA

Setelah keruntuhan Uni Soviet oleh Amerika Serikat pada perang dingin, AS muncul sebagai kekuatan baru dan kemudian menjadi sebuah Negara adidaya dan menyebarkan paham liberalime yang ia miliki. AS kemuadian menerapkan paham neoliberalisme ke Negara-negara berkembang. Neoliberalisme ini pada awalnya dianggap akan membantu Negara-negara berkembang tersebut dalam membangun Negara namun pada kenyataannya sistem ini hanya memberikan membawa penderitaan. Produk neoliberalisme yang hadir sebagai solusi kemajuan suatu Negara seperti IMF, WTO dan World, ternyata hanya tidak berjalan sesuai dengan semestinya. Salah satunya adalah Venezuela.

Bantuan luar negeri yang mengalir di Negara-negara berkembang ini, bukan bantuan tanpa pamrih. Dengan bantuan yang diberikan modal asing bebas mengalir dan eksploitasi sumber daya alam pun dengan mudah dilakukan sehingga keuntungan terbesar berada di Negara pemilik modal, dan pada akhirnya Negara berkembang seperti Venezuela akan terikat oleh utang luar negeri yang hanya akan membawa sebuah penderitaan, karena kesusahan untuk membayar utang luar negeri dan asing yang bebas menguasai sumber daya alamnya. Ini merupakan bentuk dari ketidak berhasilannya sistem neoliberalisme yang diterapkan.

Venezuela adalah salah satu negara yang telah menjadi lahan uji coba neoliberalisme oleh negara-negara kapitalis besar. melalui organisasi-organisasi jebolan amerika seperti IMF, WB, WTO didukung dengan sistem pemerintahan yang korup di bawah Rezim Carlos Andres Perez telah berhasil melambungkan inflasi venezuela sebesar 80 persen, pengangguran mencapai 14%, kemiskinan meningkat hingga 65% dan jumlah penduduk dalam taraf miskin meningkat 84%. Kebijakan pemerintah dalam menurunkan upah riil sebesar 40% juga menyebabkan kemerosotan ketersediaan tenaga kerja di bidang pertanian sebesar 90%.[3] Meskipun kaya akan minyak namun, dibawah pemerintahan yang pro terhadap sistem neolib, membuat minyak Venezueala dikuasai oleh pemodal-pemodal asing Chevron Corps; Royal Dutch Shell, Repsol, dan Exxon.

Kondisi perekonomian yang semakin memburuk menjadi dasar kuat akan perlawanan yang dilakukan Hugo Chavez, seorang mantan letnan kolonel militer, yang pergerakannya didasarkan pada filosofi dan ideologi dari Simon Bolivar, untuk melakukan perlawanan terhadap sistem neolibealisme. Diawali dengan kudeta milter 1992 namun gagal, Chavez melakukan perjuangan secara demokratik dengan memobilisasi rakyat dalam pandangan revolusioner. Terpilihnya Chavez sebagai presiden pada tahun 1998, menandai sebuah momen penting terjadinya transformasi politik paling dramatis dalam sejarah bangsa Venezuela.

Sejumlah kebijakan-kebijakan radikal dikeluarkan sebagai upaya dalam meruntuhkan praktik-praktik neolib di venezuela antara lain yaitu melakukan amandemen terhadap konstitusi 1961 melalui referendum. Referendum berlangsung pada tanggal 19 April 1999 dan termanifestasikan pada dua pertanyaan. Pertanyaan pertama mengenai keputusan rakyat terhadap convoking konstitusi dan pertanyaan kedua apakah rakyat menyetujui prosedur yang ditetapkan oleh presiden. Sebanyak 92 persen dari rakyat memilih ‘ya’ terhadap pembentukan convoking konstitusional dan 86 persen menyetujui prosedur yang ditetapkan oleh Presiden. Setelahnya kebijakan perbaikan akan kondisi perekonomian, kesehatan, dan pendidikan di Venezuela berlangsung. Penguasaan sumber ekonomi secara oligarkhis mulai dihapuskan, kemudian dikembalikan kepada rakyat melalui otoritas negara.

Sosialisme muncul sebagasi salah satu ideology yang menentang neoliberalisme. Ideology ini dianggap sebagai jalan yang tepat oleh Hugo chaves sebagai bentuk perlawanan terhadap imperialisme. Melalui kekuasaan legitimasinya, Chaves menasionalisasi aset-aset dan sumber daya ekonomi(minyak) dari pemilik modal, kemudian menggunakan aset-aset tersebut untuk membiayai program-progam sosial dan publik terutama masalah kesehatan, perumahan, pendidikan, dan pelayanan-pelayanan publik lainnya. Dan dengan keuntungan penjualan minyak dan serta peningkatan pajak perusahaan tersebut, pemerintah Venezuela kemudian mampu memberikan kredit tanpa bunga kepada kaum tani yang tidak memiliki tanah; juga bagi kaum perempuan melalui Bank Pembangunan Perempuan; biaya kesehatan dan pendidikan gratis; kenaikan upah kesekian kalinya sejak Chavez berkuasa sebesar 30%, perumahan gratis, dan seterusnya.

Dibawah pemerintahan Hugo Chavez petumbuhan ekonomi venezuela berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Komisi Ekonomi Untuk Amerika Latin Dan Karibia (ECLAC), diketahui bahwa kemiskinan di Venezuela telah mengalami penurunan dari 48,6% pada tahun 2002 menjadi 27,6% pada tahun 2008. Selain itu, ECLAC juga menemukan bahwa Venezuela merupakan negara dengan tingkat ketidakseimbangan distribusi pendapatannya pada tahun 2010 adalah paling kecil di Amerika Latin. Di bidang kesehatan, sistem kesehatan publik dijalankan langsung di Barrio  dengan bantuan dokter Kuba. Pusat pelayanan kesehatan gratis untuk rakyat Venezuela sudah meningkat dari 4.000 menjadi 13.000. Selama periode 2003 sampai 2010 terdapat sekitar 432 juta kunjungan dari rakyat ke klinik-klinik yang melayani kesehatan gratis. Sementara itu, di bidang pendidikan, laporan UNESCO pada tahun 2010 menunjukkan bahwa tingkat partisipasi pendidikan tinggi di Venezuela adalah 83%, dan saat ini menempati posisi ke-5 di dunia dan ke-2 di Amerika Latin setelah Cuba dalam hal pengembangan kebudayaan.[4] Pemerintah, melalui kontitusi juga menetapkan bahwa semua bank swasta di Venezuela diwajibkan menyediakan setidaknya 10% kreditnya untuk mendanai proyek-proyek pemerintah. Bank-bank swasta yang tidak memenuhi perintah konstitusi maka akan segera dinasionaliasasi oleh negara. Bank-bank swasta besar di venezuela pada umumnya seluruhnya berada di bawah kendali Banco Bilbao Vizcaya Argentaria yang berpusat di Spanyol.

Sosialis berkembang pesat di Venezuela. Sosialisme ini merujuk pada Revolusi Bolivarian yang berdasarkan pada  semangat solidaritas dan kerjasama yang dianggap oleh Hugo Chavez sebagai pembangunan. Ini membuka gerak solidaritas hubungan antar manusia dan kelompok. Revolusi Bolivarian ini mengedepankan pembangunan kesatuan ekonomi baru yang dibiayai Negara yang berkebalikan dengan model kapitalis.  Selain itu, Revolusi Bolivarian juga bergaung di arena internasional. Dan telah banyak tindakan-tindakan Hugo Chavez yang menantang hegemoni AS di Venezuela. Kesenjangan ekonomi dan pengerukan sumber daya alam dan manusia oleh modal asing telah mendorong rakyat menciptakan gerakan revolusioner dan merebut suatu pemerintahan yang digunakan untuk menciptakan tatanan sosialis.

Dalam menjalankan politik luar negerinya yang anti-amerikanisme Presiden Hugo Chavez menggariskan politik luar negeri dengan prinsip independensi Venezuela dan melawan campurtangan AS dan partisipasi dalam pembentukan dunia yang berdasar multipolar yaitu pendekatan dengan Eropa. Chavez telah menawarkan minyak pemanas murah kepada warga Eropa berpenghasilan rendah untuk membantu mereka melewatkan musim dingin. Chavez menyampaikan tawaran itu dalam pidato kepada lebih dari seribu aktivis sayap-kiri di Wina.

Selain itu, dalam rangka terciptanya dunia yang multipolar inilah Hugo Chavez mendorong terbentuknya komunitas Amerika Latin dan menganjurkan perlawanan terhadap neo-liberalisme. Gerakan sosialisme di Amerika latin ini dikonotasikan sebagai semangat melawan dominasi AS. AS ingin menjadikan Amerika Latin sebagai salah satu wilayah strategis dari politik ekonomi pasar bebas AS, tapi mendapat tantangan keras Amerika Latin dengan pembentukan Pasar Umum Amerika Latin (Mercado Comun del Sur atau MERCOSUR). Secara ke dalam, negara-negara Amerika Latin juga melakukan perjanjian bilateral untuk melindungi invasi atau dominasi AS dalam bidang perdagangan dan jasa. Tidak kalah menarik pula, neososialisme Amerika Latin bersifat pragmatis, bukan ideologis. Berbeda dengan sosialisme atau komunisme di China, Vietnam, dan Korea Utara yang menjadi ideologi tertutup, sosialisme di Amerika Latin identik dengan kerakyatan.

 Revolusi Republik Bolivarian Venezuela adalah inspirasi bagi kekuatan rakyat di mana pun di muka bumi. Venezuela adalah inspirasi. Revolusi Bolivarian sebuah kemenangan sekaligus pembuktian sosialisme adalah keniscayaan. Ia kini menjadi simbol masyarakat sosialis abad ke-21. Maka, mereka yang meyakini sosialisme sebagai sistem kehidupan sosial, perlu membela negara mana pun yang sedang berjalan di atas kemenangan revolusi rakyat.

 Chavez yang menyadari akan perlunya meningkatkan solidaritas bagi negara-negara radikal di kawasan Amerika Latin kemudian membentuk ALBA pada tahun 2004 lalu. Negara pembentuk ALBA meliputi: Saint Vincent-Grenadines, Antigua- Barbuda, Dominika, Nikaragua, Kuba, Bolivia, Ekuador dan Venezuela. Proposal terbaru yang dikeluarkan oleh Venezuela yaitu zona ekonomi bersama yang anti-neoliberal.. hal ini memperhitungkan akan kondisi global saat ini: krisis kapitalisme. Dengan demikian diperlukan arsitektur baru, yang memungkinkan ekonomi Amerika Latin bisa lebih aktraktif.  Yakni melalui kebijakan Sistem Tunggal Pembayaran Kompensasi Regional (SUCRE), dan pembentukan Bank ALBA.[5]


[1] Thomas E. Skidmore, Modern Latin America, 2001, Oxford University Press: New York

[2] Ibid

[3]Nurani Soyomukti.(n.d). Revolusi Bolivarian hugo chavez dan. Diakses dari http://id.shvoong.com/books/dictionary/2091058-revolusi-bolivarian-hugo-chavez-dan/ tanggal 19 april 2012

[4] Are de peskim. 2011. Revolusi Bolivarian dan capaian penegakkan ham di venezuela. Diakses dari http://www.berdikarionline.com/opini/20111128/revolusi-bolivarian-dan-capaian-penegakan-ham-di-venezuela.html tanggal 19 April 2012

[5] Negara-negara Alba Tinggalkan model neoliberalisme. 2012. Diakses dari http://www.amperanews.com/negara-negara-alba-tinggalkan-model-neoliberalisme  tanggal 19 April 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s