Catatan (tidak) jelas tentang Icha dan Dwi

Sore itu.

Ruangan terasa dingin, sedingin suhu di Malino. Kamu tahu Malino? Malino adalah daerah pegunungan yang sering dijadikan objek wisata di Sulawesi Selatan. Semacam Daerah Puncak kalau di Bogor. Hati mau AC mati saja, tapi kalau AC mati justru keringat dan akumulasi bau badan (bukannya tidak sedap) akan memenuhi indera penciuman. Ditambah suasana perdebatan semakin menegang dan sepertinya butuh didinginkan. Berharap saja AC ini bisa mendinginkan sedikit temperature dalam ruangan ini.

Di sebelah kiri saya, ada Icha yang sedang membaca komik serial Jepang yang sedari tiga hari lalu belum diselesaikannya. Katanya, dia sudah membaca komik itu sewaktu dulu sekali. Jadi, ceritanya selama tiga hari ini dia baca apa? Mungkin dia sedang membaca hati seorang teman. Kebetulan, dia tidak ahli dalam hal ini. Mungkin dia sedang latihan saat ini.

Berbeda dengan yang ada di samping kanan saya, Dwi, karena sejak kemarin dia baru masuk ke usia 21 maka gelagatnya semakin menjadi-jadi. Bukan hanya menjahili saya, tapi jilbabnya juga penuh dengan cokelat. Maklum, dia memang suka sekali kue. Kue. Kue. Dan, kue.

Yah, diibaratkan sebagai ibu dan anak, kedua orang ini memang mirip. Mulai dari bentuk badan, tinggi badan, kegemaran, cara memakai jilbab, dan sejak menjadi maba (red: mahasiswa baru) mereka tidak pernah pisah kelas. Hmm, tidak. Ternyata, mereka pernah pisah kelas di semester 4 untuk mata kuliah TERORISME DAN KEJAHATAN TRANSNASIONAL yang untung bagi Dwi karena dia mendapat dosen yang agak ‘soft’ dibanding Icha yang menurut saya agak buntung karena dapat dosen yang agak ‘ketat’.  Tapi diingat-ingat, di mata kuliah itu saya sekelas dengan Icha. Jadi bisa dibilang saya juga ikutan buntung. Oh iya, nilai kuis pertama saya pun saat itu kalau tidak salah C-! Apa?? Sumpah, bukan guehh banget! *dijitak*

Sepertinya, Icha dan Dwi saat ini sedang asyik memperhatikan kondisi forum. Tapi bedanya, Icha tertawa-tawa sendiri padahal di forum justru pembahasan kesannya serius. Nah, si Dwi akhirnya memutuskan meminjam komik keramat Icha itu. Lima detik. 10 detik. 15 detik. “Gambarnya jelek.” Sifat mencelanya muncul kembali, percuma.. percuma cantik kalau sudah 21 tahun tapi masih mencela.

Hujan? Tidak hujan? Sepertinya hujan.  Hujan saja deh.

Akhirnya saya melihat seorang wanita manis nan rupawan berjilbab hitam sedang membawa nampan berisi gelas-gelas teh. Asap mengepul dari deretan gelas dalam nampan itu ternyata sangat menggoda bagi Icha. “Imel. Imel. Sini dong! Saya. Saya. Teh. Sini!” setengah berteriak Icha memanggil dek Imel yang sangat menggoda dengan nampannya. Akhirnya, Imel datang. Icha begitu riang mendapat segelas teh hangat. Namun, saya kurang yakin kehangatan teh ini akan bertahan lama. AC di atas kami seakan tidak rela melihat kami bertiga menyesap teh hangat di sore hari dalam forum ini.

Saya masih melanjutkan menulis kondisi kedua teman saya ini. Icha tiba-tiba keluar ruangan. Ada apa ya? Dia sepertinya mendapat telepon dan mengingat volume bicaranya yang agak tidak biasa maka dia memilih keluar. Dia keluar tanpa tehnya. Hmmm, dan ketika dia kembali maka dia akan mendapati teh ini menjadi dingin. Bukan karena AC tapi karena marah ditinggalkan oleh Icha padahal tadi Icha sudah meminta memohon dan memelas untuk mendapat teh. Habis manis sepah dibuang? Tidak teh, Icha mungkin tidak melupakanmu. Toh dia pasti akan datang untuk menghabisimu. Hahaha.

Nah, mengapa si Dwi diam-diam membisu layaknya seorang puteri raja yang telah disihir oleh ketampanan pangeran. Nah, saya mencoba mencari arah pandangannya. Ternyata. Dia sedang memandangi seorang senior yang sedang berbicara selama 5 menit nonstop. Wow, susah ya? Bicara nonstop 5 menit? Imel, si kakak nanti butuh teh lho. Kerongkongannya pasti kering. I bet.

Ternyata, selama keheningan tadi (saat Icha keluar) si Dwi sedang asik memperhatikan contact BBMnya. Sepertinya itu hanya alibi yang dikatakannya. Dia pasti sedang merasa miris. Di BBnya tidak ada PING PING atau BBM dari makhluk berjakun yang diimpikannya. Ya jelaslah, mimpinya juga ketinggian. Lorenzo si pembalap. Mana mungkin si Lorenzo tiba-tiba menjadi teman BBMnya. Lorenzo pake BB saja belum tentu. Lorenzo kenal Dwi saja tidak. Lorenzo tahu Dwi saja hidup tidak.

Maaf Dwi, ini sepertinya susah. Kata Dewi Cinta.

Kembali ke pokok. Dwi memang memperhatikan hapenya yang selama ini tidak bergetar, tidak berbunyi, dan lampu merah LEDnya tidak berkedip. Dwi, terima nasibmu. Mungkin sinyal tidak menembus ruangan ini sehingga semua BBM, pesan, ataupun telepon tertahan di luar sana. Saat ini semua pesan, BBM, maupun apalah yang sedang menuju hapemu (kalaupun memang ada) saat ini mereka pasti merasa sedih. Sedih untuk Dwi karena tidak ada pesan-pesan ‘sayang’ yang masuk di hapenya kecuali dari saya dan beberapa teman dekatnya.

Oh iya, dua hari lalu Dwi genap (atau ganjil) berumur 21 tahun. Nah, dua hari lagi giliran Icha yang akan 20 tahun. Sepertinya, rencana indah saya untuk ‘mengerjai’ Dwi yang gagal kandas karam karena kurang waktu akan saya alihkan ke Icha. Mengingat Icha yang lebih kecil, lebih ringan, dan lebih fleksibel. Memangnya Icha apaan? Rencana keren yang sudah tertata rapi nan elegan.

Akhirnya, mereka berdua duduk tenang di samping saya. Sesekali mereka menertawakan tulisan saya ini dan seketika forum melihat mereka dengan alis yang terangkat sebelah. Hahaha. Bukan salah saya. Kalian saja yang membacanya. 😛

Sore itu.

Lucu.

Menyenangkan.

Membawa kehangatan di bawah dinginnya AC ruangan.

Saya sadar bahwa saya beruntung memiliki dua orang ini: Khairun Nisa (19) dan Dwi Purnama (21)

Suatu senja di Ruang Mubes HIMAHI FISIP UNHAS,

terlambat di post karena masalah teknis,

HAPPY BIRTHDAY ICHA!!!! :*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s