HIMAHI FISIP UNHAS: Dimana semuanya bermula…

HIMAHI… Apa itu HIMAHI?

Sudah lewat dua tahun saya punya blog ini. Selama itu pula banyak sekali cerita yang saya post maupun tidak saya post. Salah satunya adalah tentang HIMAHI FISIP UNHAS, sebuah ‘rumah’ yang saya tempati selama saya menjadi mahasiswi HI UNHAS. Rumah yang mengajarkan saya banyak hal dan memperkenalkan banyak orang.

Di sana, saya berkembang menjadi seseorang yang lebih baik dan saya akui banyak sekali perubahan yang terjadi pada diri saya sejak saya ‘tinggal’ di rumah itu. Rumah yang secara harfiah memberikan perlindungan, memberikan rasa aman, dan memberikan saya keluarga yang baru. Rumah itu telah menjadi bagian dari hidup saya sejak pertama kali saya menginjakkan kaki di sana.

Rumah itu memberikan dan mengajarkan saya banyak hal. Sungguh, saking banyaknya saya tidak tahu harus memulai darimana pemberian dan pelajaran yang saya dapat di dalam rumah itu. Saya tidak ingat ini kata-kata siapa atau pepatah darimana bahwa

“setiap orang adalah guru dan setiap tempat adalah sekolah”

namun kata-kata itu begitu terpatri jelas di kepala saya. Dan, HIMAHI menjadi sekolah terbaik untuk saya dan keluarga di sana menjadi guru terbaik dalam fase hidup saya saat ini.

Di sana ada senang, sedih. Ada tawa, ada airmata. Ada baik, ada buruk. Ada suka, ada duka. Ada cinta, ada benci. Ada takut, ada berani. Banyak sekali. Saya tidak bisa menulisnya semua di sini. Semua yang saya alami di sana adalah pelajaran berharga dan telah membentuk saya menjadi pribadi seperti saat ini.

Tahun 2009, saat saya maba saya disambut dengan sesuatu yang tidak akan saya dapatkan dimanapun. Saya dipaksa belajar dan sempat membuat saya ingin pergi saja. Tapi, ada yang menahan langkah saya. Entah, sekarang saya sudah lupa. Dan ketika saat itu saya memutuskan untuk pergi, maka saat ini saya tidak akan memaafkan diri saya.

Tahun 2010, untuk pertama kalinya saya menjadi kakak yang diberikan tanggung jawab mengurus adik baru. Bukan hanya itu, saya harus mengurus rumah dengan kakak saya yang lain. Menjadikan rumah ini nyaman untuk kami tempati. Bukan hal yang mudah, tekanan demi tekanan terus datang. Saling menguatkan. Ya, saya kuat karena teman-teman saya, kakak-kakak saya, dan mereka pun sebaliknya begitu.

Tahun 2011, saya kembali diberi tanggung jawab mengurus rumah setahun lagi. Tanggung jawab yang lebih besar karena saya dan teman-teman harus mengajari adik-adik saya dan tetap melaksanakan tanggung jawab secara organisasional dalam bingkai kekeluargaan. Organisasi dengan basis kekeluargaan.

Banyak yang mampu bertahan dan banyak pula yang terkikis oleh derasnya ombak gelombang tekanan. Saya bangga karena saat ini saya masih bertahan dengan karakter saya. Dalam hati saya terdalam, setiap orang akan mampu bertahan ketika ia memiliki karakter yang kuat. Tekanan tidak akan menghabisi saya. Karena saya percaya, bahwa tekanan justru akan menjadikan saya lebih kuat. Tangguh.

Rumah itu selalu ada di sana. Dengan pintu terbuka dan kehangatan yang abadi.

Malam ini, secara resmi, saya tidak lagi mengurus rumah itu secara organisasional. Saya hanya akan menjadi kakak yang mendampingi adik-adiknya mengurus rumah. Mengurus rumah adalah belajar. Entah pelajaran apa yang kelak didapatkan oleh adik-adik saya, tapi saya selalu berharap yang terbaik bagi mereka. Karena saya yakin apa yang saya dapatkan dari rumah ini, apa yang diberikan rumah ini kepada saya, adalah hal yang sangat baik dan bermanfaat.

Saya akan merindukan saat-saat menjadi pengurus, menjadi kakak yang sibuk, berada di bawah tekanan, dimarahi kakak yang lebih tua, tertawa bersama teman-teman, bertengkar dengan kakak adik atau teman, dan banyak kenangan lain yang sudah saatnya dirasakan oleh adik-adik saya.

Sumpah, rasanya sesak. Sumpah, rasanya sedih. Dan sumpah, rasanya tidak enak.

Selama dua tahun saya menjadi pengurus. Sekarang, saat saya dibebas tugaskan secara resmi seakan sebagian diri saya hilang. Entah saya yang berlebihan atau apa, tapi rasa sesak itu berdiam saat ini. Mungkin ketika esok pagi saya bangun, rasa itu telah berubah menjadi semangat. Semangat untuk tetap berada di rumah. Menemani adik-adik yang akan mengurus rumah.

Selamat malam, rumah. Selamat menanti warna baru.

Terima kasih atas segalanya.

Dengan segenap cinta dan sayang,

.dee.

Advertisements

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s