Kisah Red Velvet dan African

Sebut saja sebuah kemalangan. Ya, atau paling tidak sebuah kerugian.

Sore itu, saya dan seorang teman saya -sebut saja namanya Fitri- sedang bolos dari pembekalan KKN di kampus. Maklumlah, selain materi yang nyaris menidurkan, suasananya juga tidak mendukung. Di luar terlalu cerah untuk dilewatkan. Maka boloslah kami.

Tujuan pertama: mencari tas. Yah, kata mencari ini bukan dalam denotasi mencari karena hilang tapi lebih mirip ke keinginan membeli. Fiuh.

Setelah keluar masuk distro dan muter-muter jalanan, maka ditentukanlah tujuan kedua. Makan kue or something sweets. Hmmm.

Karena selera yang terlalu tinggi tidak dibarengi dengan kemampuan atau dasar otak ngirit, maka niat membeli tas digantikan dengan tujuan kedua kami.

Kami lalu meluncur ke sebuah kafe yang kami lewati waktu muter-muter tadi. Nampak sepi dari luar, tapi kata seorang teman kami, sebut saja namanya Dwi, kue di sana cukup enak. Kalau soal makanan, saya tidak meragukan pilihan Dwi. Dia lebih tahu rasa makanan ketimbang nama pahlawan Indonesia.

Walhasil, setelah kami masuk dan duduk, si mas-mas penjaga datang dan menyodorkan menu.

“Mas, ada Red Velvet?” tanya Fitri sambil membolak-balik menu di tangannya.

“Ada.” Jawab si Mas.

“Eh? Enak ya? Belum pernah coba. Hihihi.” Saya pun nyengir. Jadi si Mas balik nanya saya.

“Mbak mau juga?”

Mikir. Sepertinya, dari namanya, aneh deh. Selain tidak pernah coba, saya memang tidak pernah coba. Sepertinya saya sering dengar. Eh, bukan sering sih, tapi pernah. Think. Think. Think. Aha! Filmnya si Rachel McAdams sama si ganteng Channing Tatum itu, THE VOW. Wew, kue romantis ya?

“Tidak deh. Satu aja Mas.”

Mas berlalu.

Mbak penjaga toko datang dengan sepotong kue berwarna merah dengan lapisan keju dan taburan kacang goreng yang sudah ditumbuk agak kasar. Ada karamelnya.

Maaf, kalau sudah menyangkut keju-kejuan, saya menyerah. Oke, saya mengaku saya tidak suka.

Jadi, saya mulai mencari kue lain yang lebih masuk akal di etalase. Pilihan saya jatuh pada kue bolu cokelat yang ditaburi almond. Dari tampilan, sepertinya enak.

“Mbak, kue ini dong satu!”

Kue saya pun datang. Santap sore dimulai. Satu suap. Dua suap.

“Yah, lumayan lah.” Lanjut ke suapan selanjutnya dan selanjutnya.

“Aku tak sanggup lagi.” Fitri tiba-tiba bersuara setelah beberapa detik keheningan. “Enek.” Dia melanjutkan bahkan sebelum saya merespon kalimat pertamanya.

“Oh ya? Coba!” maka satu suap Red Velvet pun masuk ke mulut saya.

Oh my God!!! Rasanya… begitu… menyedihkan. Jika saya tidak memegang adat norma kesopanan dan mengingat ini tempat umum, kue itu tidak akan bertahan lebih dari 2 detik di mulut saya.
Entah bagaimana perubahan ekspresi wajah saya saat itu, tapi yang jelas Fitri dengan santainya tertawa selagi saya berjuang menelan keju dan rasa aneh kue berwarna merah itu. Pertama, keju. Kedua, strawberry raspberry atau buah berry-berry merah lainnya yang memberi rasa pada kue itu. Ketiga, karamel. Oh God, how I hate those things! Dan saya terpaksa menelan semuanya sekaligus.

Belum habis saya kunyah, saya langsung mengambil air putih dan menenggak sampai rasa itu benar-benar hilang. Shit.
Ternyata, rasa tidak enak itu menimbulkan efek baru. Efek mengamati sekeliling kafe ini. Di sebelah kiri kami ada dua ibu-ibu pulang kantor.

“Saya tidak membayangkan punya seorang ibu yang nongkrong di sini setelah dari kantornya.” Fitri membuka sesi perbincangan.

“Sama. Seandainya pun ibu saya nongkrong di sini, pastinya saya harus ada. Saya tidak ikhlas.”

“Belum lagi dua bapak-bapak yang kegenitan itu.” Tampang jijik mulai diperagakan Fitri. Mirip.

“Yang mana?” saya mulai celingak celinguk.

“Itu, yang pakai baju cokelat, yang dari tadi mondar-mandir.”

“Oh.” Yayaya. Ternyata Fitri benar. Memang si bapak itu dari tadi mondar-mandir menelpon dengan ponselnya dan entah dia sok atau memang pembicaraannya asik sekali. Tapi, dari cara bicaranya saya bisa menyimpulkan si bapak itu memang genit. Yaik.

“Untung bapak saya bukan orang seperti itu. Hiiyyyy.”

Sambil mengobrol ringan dan sesekali membalas sms di ponsel masing-masing, kami mencoba memakan kue masing-masing. Selamat ya Fit, habiskan Red Velvet-mu! Hahaha.

Akhirnya, karena mungkin tidak tega atau memang lapar, Fitri mencoba menghabiskan kue itu dengan cara yang sangat aneh. Sebisa mungkin, kue itu tidak menyentuh lidahnya. Eh? Serius ding!

Setelah memutuskan bahwa saya tidak sanggup menghabiskan kue African (nama kue yang saya pesan itu) ini, maka kami memutuskan keluar saja.

Lalu saat ke kasir, bisa ditebak ya apa kejadian selanjutnya. Harga satu potong kue itu TIGA PULUH RIBU RUPIAH. Saya ulangi ya, SATU KUE dengan harga TIGA PULUH RIBU RUPIAH. What theff??

Oke, kalau kuenya enak ya tidak apa-apa, tapi ini? Red Velvet yang asli tidak enak dan African yang memang biasa saja. Dengan harga begitu? HELL NO!

Finally, dengan diiringi lagu Talking To The Moon-nya Bruno Mars, kami bersepakat NO MORE THERE lagi. Selain karena harganya tidak sebanding ya, karena harganya tidak sebanding.

That’s it!

Yah, that was just an ordinary story. Ordinary. So, thanks for reading.

Sincerely,
dee

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s