Haruskah Bugis?

Saat ini, perkawinan sesama suku masih sering menjadi penghalang bersatunya dua orang yang (mungkin) saling mencintai. Hahaha, saya agak susah menulis kata yang ada susunan huruf C-I-N-T-A. Agak gimana gitu, bukannya tidak percaya. Hanya saja menurut saya, makna susunan huruf-huruf itu sangatlah sakral. Sudahlah, kali ini saya tidak membahas kesakralan susunan huruf-huruf itu. Tapi saya ingin membahas mengenai adat istiadat Bugis yang melarang pernikahan antar suku.

Nah, dalam adat Bugis ada kebiasaan yang mungkin tidak tertulis mengenai pernikahan antar suku yang tidak diizinkan jika kita berdarah Bugis. Bahasa kerennya, selain dengan suku Bugis, tidak boleh ada pernikahan. Kecuali mau kawin lari dan otomatis akan memutus hubungan darah dengan ayah, ibu, kakak, adik, dan semua keluarganya. Istilahnya, dibuang. Bagi saya, tetap saja sebenarnya si pelaku kawin lari adalah anak dari ayah dan ibunya secara genetis dan biologis. Tidak mungkin tiba-tiba dia bukan anak dari ayah dan ibu kandungnya hanya karena ia kawin lari dengan orang yang bukan suku Bugis.

Bukan hanya dengan non suku Bugis, tapi seorang Bugis tidak bisa menikah dengan sembarangan orang walaupun masih orang Bugis. Taruhlah misalnya seorang anak lelaki dengan nama “Andi” di depan namanya, yang menandakan ia memiliki posisi sebagai bangsawan di daerahnya. Sebut saja misalnya namanya Andi Afif dan dia ingin menikah dengan perempuan Bugis yang tidak punya “Andi” di depan namanya. Maka, hal ini bisa dibiarkan terjadi. Berbeda dengan anak perempuan dengan nama “Andi” di depannya yang ingin menikah dengan suku Bugis yang tidak ber-“Andi”, maka kemungkinan besar dia tidak diizinkan. Hal ini dikarenakan, jika lelaki yang ber-“Andi” menikah dengan perempuan tanpa “Andi” maka anaknya tetap menyandang nama “Andi”. Berbeda dengan kasus kedua yang tentu garis keturunan “Andi” yang dimiliki oleh ibunya tidak akan diwariskan ke anaknya kelak karena terhapus oleh ketidak adaan “Andi” di ayahnya.

Kasus di atas masih berupa pernikahan Bugis dengan Bugis namun diperantarai oleh perbedaan status kebangsawanannya. Garis keturunan patriarkal yang sangat kental di suku Bugis sedikit banyak memberi pengaruh pada pemilihan suami atau istri demi keberlangsungan status kebangsawanan sebuah keluarga. Mari kita bicara tentang pernikahan Bugis dengan non Bugis.

Sebenarnya hampir sama di atas, selain fakta bahwa orang Bugis selalu menginginkan pasangan anaknya adalah orang Bugis juga dengan status yang minimal sama. Orang Bugis juga menghindari pernikahan beda suku dengan pertimbangan bahwa ke-Bugis-an mereka akan luntur. Namun, menurut saya pribadi, saat ini kejadian seperti ini sangat langka terjadi. Sudah banyak pasangan Bugis-Non Bugis. Bahkan, orang Bugis sendiri banyak yang cenderung mencari non Bugis sebagai pasangannya.

Konservatis yang menganggap bahwa pasangan mereka atau keturunan mereka haruslah orang Bugis juga sudah sangat jarang ditemui. Menurut saya, amalgamasi suku sangat biasa terjadi bahkan suku menjadi tidak terlalu dipertimbangkan jika seseorang ingin menikah. Permasalahan yang timbul hanyalah sekitar pertanyaan mengenai akan menggunakan adat apa pada prosesi ijab qabul (aqad nikah). Nah, biasanya kalo kedua keluarga sudah sepakat, maka seems like no problem with this amalgamation.

Jadi, menurut saya sangat tergantung bagaimana kesepakatan dua keluarga ini entah mereka masih konservatif atau sudah tidak terlalu mempertimbangkan suku sebagai tolok ukur penyatuan dua orang dalam sebuah pernikahan. Bahkan, menurut saya pribadi, suku tidak menjamin baik tidaknya seseorang. Selain dari kepribadian orang tersebut, memang kita harus melihat garis keturunan dan sejarah orang ini, namun kesukuan seseorang tidak menjadi jaminan sebuah pernikahan akan langgeng atau akan tidak langgeng. Misalnya saja, seorang Bugis belum tentu tidak ada sejarah perceraian dalam keluarganya atau skandal perselingkuhan misalnya.

Saya orang Bugis, bukan berarti saya tidak bangga menjadi orang Bugis. Saya bangga sekali. Namun, saya tidak menyukai bahkan menyepakati beberapa orang yang menolak menikahkan anaknya dengan pacarnya hanya karena pacarnya itu bukan suku Bugis. Nah, jika dia bukan orang Bugis apakah itu berarti dia tidak pantas untuk anaknya? Maksud saya, yah sekali lagi suku tidak menjadi jaminan. Memangnya kenapa jika dia bukan Bugis? Karena status kebangsawanan? Atau ketidak percayaan pada beberapa suku tertentu sebagai pasangan yang baik bagi anak atau kemenakan atau keluarganya?

Jika seseorang Bugis menolak menikahkan anak lelakinya dengan seorang perempuan Jawa misalnya, saya tidak bisa menangkap apa alasan yang tepat dan masuk akal. Walaupun, pada akhirnya saya harus kembali pada kata-kata mujarab “everyone’s different” tapi sekali lagi di dunia virtual yang semakin canggih ini, kita tidak bisa hidup pada sebuah alasan yang mudah dipatahkan. Kita hidup berpegang pada adat, budaya, dan harapan, serta alasan yang menguatkan kita. Bukan sebuah alasan yang melemahkan.

Inspired by S.S.S. and I bet you’ll get the right thing from now on.

Advertisements

12 comments

  1. disatu sisi memang ada kemungkinan kehilangan budaya jika pernikahan lintas suku, dan cenderungan anak dari perkawinan itu mengarah kepada budaya setempat. tetapi itu tidak juga asalkan semua bisa mengisi budaya pada keluarganya masing-masing.

    Like

  2. boleh tau gak adminnya siapa? jujur, saya pun agak risih dengan adat istiadat andi dan bugis itu. saya punya temen dengan gelar itu dan beberapa orang bugis. Bagaimana mungkin mereka menilai suku lain lebih rendah dari mereka? Bila muslim mengapa unsur “kasta” itu tidak dihapuskan? tidak ada yang membedakan umat kecuali ketaqwaannya kepada Allah. Dan itu juga yang menjadi alasan mengapa dalam betawi tidak ada batasan antara kaya miskin atau yang lainnya. -,- numpang curcol

    Like

    1. Adminnya orang Bugis kok, Fifi. Sebenarnya kaum Bugis yang menganggap ‘rendah’ suku lain kebanyakan karena primordialisme sih. Kalau sekarang, sudah jarang kita temui kasus yang saya paparkan di atas. Orang tua saya juga gak mandang suku kalau mau menikahkan saya. *alamat curhat nih
      Tapi iyasih, kebanyakan mereka melihat ‘bibit, bebet, bobot’ calon menantu mereka. Mungkin karena mereka khawatir kelangsungan hidup anaknya. Tapi kembali lagi, bisa dibilang ini human nature orang tua kali ya? Bukan cuman Bugis, saya percaya semua orang tua mau anaknya dapat pendamping hidup yang baik. Secara materi dan nonmateri.
      Namun, yang kadang membuat saya agak kesal juga kalo dapat komentar “Wah, cewek Bugis nih. Pasti mahal.” Fifi ngerti gak? Soal tradisi ‘pannaik’ dari Bugis yang mungkin sudah terkenal seantero Indonesia. Hehehe

      Like

  3. Saya (jawa) hrs mengubur dalam2 cita2 saya brsma pacar (bugis) krn ortunya dia mewajibkan jodoh anaknya hrs dr bugis jg. Kami sdh berusaha sekuat tenaga meyakinkan..tp nihil. Kl mw kawin lari, pacar saya akan dicoret dr daftar keluarga intinya.

    Like

    1. Kasus kaya gini sih bisa dibilang udah jarang terjadi, mungkin pacarnya Rini yang bugis berasal dari keluarga nigrat atau paling ngga ya mereka mementingkan garis kesukuan.
      Kawin lari bukan pilihan kok. (:

      Like

  4. Hadeeehhhhh . smoga suku ataupun gelar yang di sandang tidak menjadi penghalang untuk pasangan yg ingin merajut tali kasih , ciahhhh hahahaha

    Like

  5. Bagai mana kak klo saya ingin menikahi suku lain selain bugis, mslah nya orang tua saya melarang keras saya bisa menikah dgen nya.
    Boleh donk kak saran utk aku supaya bisa menikah dgn pcar ku,

    Like

    1. Halooo Fitriani,
      Sebenarnya tidak ada salahnya menikahi pilihan kamu dan orang tua kamu juga mungkin hanya ingin yang terbaik. Kamulah yang paling tahu semua kondisi dan karakter orang-orang yang berpengaruh dalam hidup kamu. Tentukan pilihanmu! (:

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s