T E R S E R A H

Saya tidak pernah suka kata ‘terserah’. Kata itu sama sekali tidak punya garis. Yap. ‘Terserah’ selalu berada di tengah. Antara sebuah ‘ya’ dan ‘tidak’. Stuck.

How can you handle the situation when you just stare at something you can’t decide? I am your situation. You are smart and obviously can reach what you want. And for now, I am waiting what is your next step. Don’t expect that I will move first because I love to watch you!

Kembali ke awal, sama seperti saya tidak suka ‘terserah’, saya juga tidak habis pikir dengan kata-kata populer terkenal dan sering digaungkan, “cinta tidak harus memiliki”. Oush. Honestly, I did mention that I don’t like to mention a ‘cinta’. Tapi melihat tanda kutip di atas, setidak-tidaknya tidak, I am.

Kalau cinta, ya kejar. Kalau cinta, ya bikin dia supaya cinta. Kalau cinta, ya miliki. Tapi tolong, jangan bayangkan tipikal psikopat. Entah ya, kalau dia menjadi psikopat karena cinta. Oush. Tapi bagi saya, sepasang kekasih, wait.. kekasih? Oke, saya ganti dengan kata pasangan saja. Sepasang pasangan. Pasangan. Back to the topic, pasangan yang dulunya saling menyayangi dan akhirnya berpisah karena keadaan, it supposed to be together. Kenapa? Ya karena pada dasarnya mereka sayang walaupun keadaan tidak mendukung. Analoginya, hujan turun ketika kita mau keluar dan sayangnya tidak punya payung. Well, bisa kan kita tunggu hujannya reda? Atau bisa kan kita tidak keluar saja? Atau mungkin, kita terobos saja hujannya? Paling cuman demam dan flu, lagipula kalau saya sakit kan ada kamu yang obati, ada kamu yang jaga. Hahaha. Semua ada jalan.

Walaupun tidak sesederhana itu, saya juga tidak naïf. Saya sadar terlalu banyak kompleksitas yang hadir dalam sebuah hubungan. Terutama hubungan dewasa. Namun, kita masih bisa mencari jalan keluar. Oke saya akui, berpisah mungkin adalah salah satunya. Akan tetapi, itu adalah jalan terakhir dan masih ada harapan kita bisa bertemu di masa depan. Mungkin.

Tapi, saya juga tidak mau menyukai orang yang naïf. If you happy I am letting you go. Bisa tidak kamu yang bikin saya senang? Kalau kamu memang cinta, kalau kamu memang sayang, bisa tidak kamu saja yang ada di hadapan saya? Bisa tidak kamu menyingkirkan orang yang mungkin bisa bikin saya senang? Dan setelahnya, kamu yang menyenangkan hidup saya. Saya bukan seperti perempuan lain. Kamu tahu itu. Saya sadar bahwa hidup bukan hanya senang, selalu ada negasi untuk sebuah hal, dan negasi untuk senang adalah susah. Bisa tidak kamu saja yang bikin saya mau senang dan susah dengan kamu?

Terus, apa hubungannya sama kata ‘terserah’ dengan tingkat kenaifan kamu dalam cinta. Jiah, cinta lagi deh kesebut. Nah, di sini saya telah melihat bagaimana tingkat kenaifan kamu dengan kata ‘terserah’ dan ‘cinta tidak harus memiliki’-mu. Okelah, saya telah menilai dengan sempurna bagaimana sebenarnya saya bagimu. Sebagaimanapun sikap dan sifat saya terhadapmu, kalau kamu tidak suka ya bilang saja. Jangan negasikan hubungan tidak jelas kita dengan kata-kata pamungkasmu itu.

Well, sudah banyak saya berkoar-koar dan sepertinya kamu semakin tidak jelas dengan semua ini. Selamat malam, anyway..

Advertisements

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s