Platonic or Unconditional Love?

love symbol

Well, cinta platonik itu tidak memiliki ketertarikan seksual. Cinta yang dikembangkan atas kedekatan batin yang luar biasa namun tidak ada keinginan mengembangkan kedekatan tersebut yang bisa menyebabkan hancurnya perasaan atau hubungan. Maksudnya, cinta yang dirasakan oleh dua orang (atau lebih, mungkin) yang didasari oleh kemurnian (chastity) dan tidak merasakan adanya ketertarikan fisik. Lebih mendekati hubungan antar sahabat. Kepedulian yang sangat besar dengan kasih sayang tanpa memandang bagaimana keadaan fisik karena memang tidak ada tendensi mengenai hubungan fisik. Terkadang cinta platonik lahir karena kemiripan pandangan hidup ataupun cara memandang sesuatu. Akhirnya muncul kenyamanan saling bertukar pikiran, memecahkan masalah masing-masing secara bersama-sama ataupun masalah bersama, dan tentunya saling menyemangati. Bahkan, cinta ini bisa menjadi sebuah bentuk yang melindungi dimana masing-masing akan berusaha menjaga kehidupan sahabatnya agar selalu baik-baik saja. Hubungan yang tidak ingin melihat sahabatnya dilukai oleh kondisi atau orang lain. Sangat berbeda dengan cinta ‘asmara’ yang disebut sebagai Vulgar Eros oleh Plato.

Nah, kalau cinta tanpa syarat lebih dahsyat lagi. Cinta dari Ibu kepada anaknya yang tidak akan berubah dan tidak meminta balasan bagaimanapun kondisinya. Sebagaimana parah pun perilaku anaknya, seburuk apapun nilai anaknya, perubahan sikap yang diperlihatkan anaknya, atau bahkan perbedaan pandangan mengenai kehidupan tidak akan menjadi alasan berkurangnya cinta yang bisa diberikan Ibu untuk anaknya. Ungkapan “asalkan dia bahagia, saya akan bahagia” bisa menjadi manifestasi dari kecintaan macam ini. Namun, sepertinya hal ini tidak tepat untuk jenis ‘asmara’. Entahlah, saya juga merasa ungkapan di atas agak berlebihan. Nah, kalau Romeo dan Juliet temasuk jenis cinta tanpa syarat ya? Saya rasa tidak, karena jangankan kerelaan Juliet dimiliki orang lain, Juliet dimiliki oleh Tuhan saja Romeo tidak rela. Makanya dia ikut mati. Hmmm..

Biasanya, rasa kasih sayang antar sahabat yang berkembang menjadi ‘asmara’ akan berlindung pada nama cinta platonik. Mengapa demikian? Karena mereka merasa bahwa mereka tidak akan memiliki satu sama lain karena masing-masing telah memiliki kehidupan dan berjalan dalam pathway sendiri. Pada akhirnya, mereka akan membatasi diri pada sekedar cinta tanpa keinginan lebih, yaitu antar sahabat. Namun mereka tidak menyadari bahwa mereka sebenarnya ingkar pada kondisi ‘asmara’ hanya karena tidak bisa memiliki. Sehingga berpalinglah mereka pada jenis platonik karena mereka tidak bisa melepas rasa cinta terhadap sahabat yang tidak mampu dimiliki. Jadi satu-satunya cara ya mengubah jenis cintanya walaupun sebenarnya hal ini bukan hal yang bisa dilakukan. Tapi yang namanya pembenaran atau sugesti, akan selalu dijadikan alasan oleh manusia.

Sahabat saling mendukung dan melindungi, tidak ada keinginan memiliki atau menguasai. Sedangkan ‘asmara’ mengandung unsur ingin memiliki. Maka jelas bedanya kasih sayang dan ‘asmara’. Bedanya lagi, kalau kasih sayang itu mau dibalas atau tidak mereka tidak akan berusaha meminta alias pamrih. Sedangkan ‘asmara’ meminta status keabadian hubungan misalnya sebagai suami istri atau paling sebagai kekasih. Nah cinta platonik, yang lebih mirip kasih sayang, tidak pernah meminta hal-hal semacam itu. Karena pelakunya yakin bahwa kemurnian yang mereka miliki akan mempertahankan hubungan mereka sampai kapanpun.

Jadi apapun jenis hubungannya, maka lihatlah dimana tendensi itu. Jika ada tendensi seksual atau memiliki, jelas bahwa itu bukan cinta platonik walaupun statusnya sebagai sahabat. Sedangkan jika seseorang mengaku mencintai orang lain dengan sangat dalam dan tanpa syarat serta menggolongkan perasaannya sebagai unconditional love maka perlu dilihat apakah kemurnian tersebut meminta balasan atau hanya pembenaran karena tidak bisa memiliki.

Jenis ‘asmara’ yang tak terbalas atau memiliki impossibility gap biasanya akan dibelokkan menjadi cinta platonik atau cinta tanpa syarat. Sayangnya, pembenaran ini sangat irritating. Tapi entahlah, yang punya perasaan kan bukan saya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s