Jakarta: Sebuah Kisah

Peluhnya berjatuhan. Sepertinya ia lelah.

Ia menyeka dengan tisu seadanya dari dalam kantong tas hitamnya. Tas yang umurnya lebih tua dari pekerjaannya saat ini. Namanya mungkin keren, sekretaris. Tapi gaji 2,5 jutanya tidak cukup membiayai kehidupannya di ibukota. Kosan saja sudah habis 500 ribu, belum ongkos busway dan angkot, belum lagi ongkos makan, dan tentunya sekretaris harus selalu tampil menarik jadi gaji seadanya itu harus dibagi lagi untuk ongkos makeup. Hidupnya susah. Tapi ia tetap jalani. Ini pilihannya. Meninggalkan kota kelahirannya karena iming kejayaan Jakarta.

Subuh hari ia sudah siap, mengunci kamar dan pagar kosan sesegera mungkin agar gajinya tidak terpotong kalau-kalau ia terlambat walau hanya semenit. Berdesak-desakan di busway sudah jadi bagian dari paginya. Sampai di kantor, untung kalau tidak terlambat, ia harus segera menyiapkan semua berkas yang diminta bosnya kemarin. Jam makan siang, ia masih sibuk mengetik surat dan mengurus jadwal untuk bosnya. Seperempat sebelum istirahat berakhir, ia menyempatkan sholat dhuhur. Jadi, makan pun dia kadang tidak bisa. Karena sudah biasa, dalam tasnya selalu ada roti sobek pengganjal perut.

Tapi, Jakarta tidak begitu kejam padanya. Sebutlah Pak Subekti, pria umur pertengahan 40-an yang selalu menawarkan diri mengantarnya pulang. Sayangnya, ia tidak begitu saja menerima tawaran itu. Pak Subekti sudah punya istri dan anak yang menantikannya pulang saat makan malam. Jika ia diantar Pak Subekti, tentu makan malam itu akan menjadi supper karena Pak Subekti akan sampai di rumah paling cepat pukul 10 malam. Ia gadis yang baik, tidak mau menyusahkan apalagi menjadi benih perusak rumah tangga orang. Maka ia pulang sendiri, dengan harapan busway tidak sepenuh biasanya supaya ia bisa duduk dan tidak terus-terusan berdiri sampai di Patung Pancoran.

Sampai di rumah, makan malam bukan lagi merupakan kewajiban. Badan kurusnya sudah menjadi semakin kecil, kisut. Tapi lelah membuatnya langsung tidur setelah menunaikan kewajibannya pada Yang Maha Kuasa dan mencuci mukanya supaya kotoran ibukota tidak menimbulkan jerawat baru. Maklum, sekretaris.

Kalau ada kesempatan, sesekali ia online menyapa teman-teman dan kerabatnya. Tidak bertemu mereka tapi bercakap di dunia maya bisa jadi penghiburan di akhir harinya. Kadang tertawa terbahak-bahak, tapi tidak jarang ia mematikan ponselnya dan jatuh tertidur dengan berlinangan air mata menahan rindu. Tidak ada teman. Tidak ada keluarga.

Adzan subuh membangunkannya. Kadang, kalau ia lelah bukan main, alarm menjadi juru bangunnya. Selalu begitu. Harinya monoton. Gaji pas-pasan tidak bisa membawanya berwisata ke mall-mall mahal. Beli baju baru di Mangga Dua saja sudah lumayan. Berharap berbelanja di PI atau GI adalah lelucon baginya.

Sudah hampir setahun ia menerjang kerasnya ibukota, sepertinya ia sudah tidak sanggup lagi. Mungkin bulan depan ia akan kembali ke kota kelahirannya, kota yang penuh hangat kasih sayang ibunya, canda tawa sahabatnya, dan pelukan hangat kekasihnya. Ia akan pulang. Segera.

Advertisements

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s