He Made Me Falling in Love, Dee

Sore ini, teman saya meminta untuk ditemani ke rumah dua dosen saya. Untuk tanda tangan lembar pengesahan skripsinya. Sudah hampir setahun dia menganggurkan skripsi ini. Padahal sudah kerja di salah satu perusahaan internasional. Mungkin dia sudah bosan saya teror dengan ‘kapan skripsimu selesai?’ atau ‘ijazahmu sudah kadaluarsa di akademik’, makanya hari ini dia bertekad menyelesaikan apa yang seharusnya sudah selesai berbulan-bulan lalu. Hmmm.

Tapi apa yang saya dengar adalah kisah luar biasa yang ternyata terjadi selama kami tidak bertemu dalam waktu yang cukup lama. Sebut saja Conchita, seorang teman yang luar biasa, teman yang selalu berhasil membuat saya terpingkal-pingkal saat tersenyum pun terasa sulit. Satu hal yang palling saya suka adalah ketika dia memeluk saya dengan begitu erat. Rasanya semua masalah hilang seketika.

“Dee, I finally found someone.” Begitulah awal percakapan kami menuju rumah dosen yang kami tuju. “Dia berhasil membuat saya jatuh cinta. Dia memahami saya dengan sangat benar. Dia orang yang selama ini saya butuhkan. Mengapa butuh waktu begitu lama agar kami bertemu?” sumpah. Kali ini dia bikin iri setengah mati. Namun, saya masih ingat betapa berat kisah yang baru saja dia lalui. Boleh saya ceritakan?

Well, Conchita dan Samuel sudah berpacaran selama 5 tahun. Bagi saya, keduanya sangat kompak dan kocak. Bahkan, saya memimpikan memiliki pacar yang satu frekuensi kegilaan. Hmmm, akan tetapi di tahun ke-4 hubungan mereka, Samuel memutuskan menjalin kisah rahasia dengan Ina, teman gereja mereka. Hanya Conchita yang tidak tahu. Teman-temannya tidak ada yang melapor. Entah karena takut dengan Conchita, tidak enak mungkin, atau apalah. Tapi jujur, tindakan mereka ini adalah tindakan yang bodoh. No excuse.

Setelah Conchita berhasil menyelesaikan ujian skripsi Oktober lalu, di saat itulah Samuel mengakui hubungannya. Saya tidak bisa membayangkan sosok Conchita yang begitu kuat dan tegar bisa hancur. Seminggu tidak mau keluar rumah, tidak mau bertemu dengan siapa saja, dan tidak mau berhubungan dengan siapapun. Bahkan saya tidak diberi kesempatan.

“Dee, kata-katanya sungguh menghancurkan saya. Dia minta saya mengizinkannya untuk bahagia, karena perempuan ini bisa membuatnya bahagia. Jadi, selama ini dia tidak bahagia dengan saya? Dee, 5 tahun Dee. 5 tahun.”

Berada satu lingkungan dengan mantan dan pacarnya bisa membuat Conchita lama untuk move on. Namun, sepertinya Tuhan begitu menyayanginya. Dia mendapat pekerjaan yang cukup menyita waktunya. Akhirnya perlahan, pekerjaan membawanya pergi dari masa lalu. Sepertinya, menurut Tuhan itu saja tidak cukup. Maka, dikirimkan seseorang untuknya. Begitulah Conchita anggap sebagai berkah dibalik cobaan.

“Ceritakan tentang lelaki ini!”

“Dee, dia datang di saat saya sedang hancur. Dia melihat kehancuran saya yang sangat dalam. Bahkan dia menerima kondisi itu. Dia berhasil masuk ke dalam hatiku tanpa saya sadari. Tiba-tiba dia ada.”

“Kamu cinta sama dia?”

“Iya. Kalau kamu tanya 3 bulan lalu, mungkin saya belum bisa menjawab. Sekarang, saya benar yakin saya cinta dia.”

“Trus, dia dimana? Kalian berbicara masa depan? Secepat itu?”

“Dia di Ambon, jauh. Kami berkomitmen untuk menjalani semua dengan perlahan. Tidak terburu-buru. Menikah adalah long term kami, Dee. Doakan! Semoga hubungan ini bisa bertahan sampai tua.”

“Wait, kamu kenal dia berapa lama Conchita? Bagaimana mungkin kamu mempercayakan hatimu untuknya? Maksud saya, apakah ini tidak terlalu cepat?”

“Dee, dia telah membuat saya jatuh cinta. Bagaimana dia bisa mengerti saya dengan sangat benar. Bagaimana dia bahkan tahu bagaima saya sebenarnya tanpa saya menjelaskan dengan panjang lebar. Dee, dia telah membuat saya jatuh cinta.”

Saya percaya teman saya ini sudah menemukan apa yang dia butuhkan. Seorang yang bisa menopangnya dari keterpurukan pengkhianatan. Bahkan orang yang tidak peduli dengan masa lalunya karena apa yang dia pedulikan adalah masa depan dengan Conchita. Seorang yang begitu match dengan Conchita. Kalau bertemu, saya mau bilang terima kasih. Walaupun terima kasih tidaklah cukup.

Singkat. Pertemuan kami begitu singkat. Saya masih ingin bercerita dengannya. Dengan kisahnya yang begitu banyak pelajaran untuk diambil. Mempercayai orang. Menemukan orang.

Iri? Jelaslah. Siapa yang tidak mau bahagia? Siapa yang tidak mau mendapat orang yang tepat? Kata Conchita, waktu yang akan menjawab. Bersabarlah! Somewhere, dia ada di luar sana. Entah kamu telah mengenalnya atau belum, tapi waktu akan mempertemukan kalian. Tenang sajalah.

Advertisements

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s