Pertanyaan Pamungkas

Bulan Ramadhan sudah hampir habis, sedihnya… Tapi itu berarti lebaran akan tiba dan musim mudik jelas menjadi hal yang tidak terelakkan juga. Karena saya tinggal berbeda kota dengan Ammi Etta, maka tahun ini saya harus mudik ke Kolaka, Sulawesi Tenggara. Sayangnya, momen lebaran ini semacam pisau bermata dua bagi saya. Well, di sisi satu saya begitu menyukai segala sesuatu yang berhubungan dengan keluarga. Saya, dua adik lelakiku, dan kedua orang tuaku. Namun, tentu lebaran haruslah berkumpul dengan keluarga besar. Nah, ini dia masalahnya.

Berdasarkan pengalaman tahun lalu, maka kali ini akan muncul beberapa pertanyaan pamungkas oleh tante-tante yang cerewet dan (mungkin) menganggap saya sudah perawan tua. “Wah, sudah sarjana ya? Mau kerja dimana nanti?”, “Eh, sudah kerja ya? Kapan nikahnya?”, “Kok gak ada kabar-kabar ada calon menantu sih?”, “Jangan-jangan sudah ada nih. Kenalkan dong!” atau paling parah “Kamu gak laku-laku ya?”

Sebenarnya, saya tidak suka dengan pertanyaan macam itu. Jelaslah. Saya bukan tipikal cewek yang setelah sarjana, bisa langsung dinikahi. Buat apa Ammi Etta menyekolahkan saya sampai sarjana jika hanya untuk menikah setelah wisuda? Meninggikan uang pannaik? Tidak. There’s so many things I should do, reach, see, and feel before the marriage bond hold me tight. Because I am pretty sure what to do and what to not do when the ring is already in my finger.

Saya tidak heran mengapa sepupu-sepupu sebaya saya baik yang dekat atau yang jauh sudah menikah lebih dulu. Bahkan ada beberapa yang umurnya lebih muda dari saya dan telah menikah. Pertama, orang tua mereka memang orang tua yang mudah saja memberi izin menikahkan anaknya. Jika calon besannya sudah mapan, mereka tidak melihat calon menantunya lagi. Toh, besannya tentu tidak akan membiarkan anak dan menantunya kelaparan kan? Begitulah kurang lebih. Kedua, mereka (sepupu-sepupu saya) memang tidak memiliki sesuatu untuk dicapai atau mengiyakan saja pernikahan untuk mereka diatur. Hmmm, atau bahkan mungkin mereka menikah dengan pacar-pacar mereka sendiri dan berpikir inilah waktunya walaupun umur mereka bahkan belum sampai seperempat abad. Ketiga, baik orang tua dan anak-anaknya ini sudah tertekan dengan kondisi keluarga besar yang sering mempertanyakan pertanyaan pamungkas itu. Ini yang paling lemah.

Syukurnya, kedua orang tua saya bukan tipikal orang tua di atas dan saya sendiri bukan tipikal anak di atas. Baik saya dan kedua orang tua saya sudah memiliki rencana jangka panjang yang sama sekali tidak melibatkan adanya prosesi ijab qabul sebelum hal tersebut tercapai. Jangan pikir orang tua saya orang tua yang ambisius ya! Tidak. Mereka hanya mendukung sepenuhnya apa yang saya inginkan dan melindungi dari serangan-serangan lebaran semacam yang di atas. Bagi mereka, selama saya bahagia dan tujuan yang ingin saya capai itu baik, kenapa tidak?

Saya sadar benar apa pernikahan itu dan batas-batas yang diciptakan pernikahan untuk saya. Di masa depan, saya tidak mau menyesali apapun. Lambat menikah pun bukan hal yang harus saya sesali jika ini harus menjadi konsekuensi. Sayangnya, ini yang tidak dipahami oleh pendekar-pendekar sakti dengan pertanyaan pamungkas itu. Kalaupun mereka paham, mungkin mereka tidak mau menerima alasan-alasan saya ini. Yasudahlah..

Budaya Bugis memang begitu. Jika ada seorang ana’ dara yang di usia 23 ke atas dan belum ada tanda-tanda untuk menikah, serasa keluarga besar ingin turut serta mencarikan pendamping. Aduh, saya masih bisa kok. Tenanglah. Tanda-tanda apa misalnya? Punya calon.

Sudahlah (lagi).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s