K O M I T M E N

Saya tidak tahu.

Sebuah komitmen dalam menjalin satu hubungan serius bisa berakhir dimana. Yang saya tahu adalah komitmen hanya akan menyakitkan jika benar didasari oleh sesuatu yang tidak fundamental. Apakah komitmen itu seperti kisah Romeo dan Juliet yang berakhir pada kematian? Atau Laila dan Majnun yang benar berakhir pada kegilaan? Entahlah.

Kematian dan kegilaan. Apakah manifestasi dari komitmen bisa separah ini? Tentu tidak di zaman sekarang. Bisa jadi ada kasus, namun sungguh jarang bisa ditemui. Kebanyakan orang malah akan memilih memutuskan komitmen itu. Kehidupan metropolitan yang banyak diadaptasi oleh bukan hanya masyarakat kota namun juga rural, telah menjadi gaya hidup yang hampir fixed. Kenyataannya, siapa sih yang mau mati konyol seperti Romeo? Siapa pula yang mau menjadi Majnun dan hidup di rumah sakit jiwa? Aduh, apa susahnya menghapuskan komitmen?

Mulailah pada komitmen ke diri sendiri. Lalu kemudian berkomitmen dengan orang lain.

Mulailah dulu komitmen jangka pendek. Lalu kemudian berkomitmen jangka panjang.

Pada dasarnya, komitmen mengajarkan diri kita untuk bisa teguh dalam pendirian seperti yang selalu dipelajari di SD, SMP, sampai SMA dalam pelajaran Pendidikan Moral Pancasila yang kemudian berubah menjadi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan berdasarkan perubahan kurikulum pendidikan saat itu.

Serapan nilai luhur ini akan mengantar kita pada kebaikan, yakni berani untuk berkomitmen. Saya bukanlah tipe yang skeptis dengan komitmen walaupun berkali-kali gagal. Bukan pula trauma sampai saya tidak mau mencoba lagi untuk berkomitmen. Satu hal yang saya sadari: saya selalu salah berkomitmen dengan orang.

Penting untuk mengenal partner dalam berkomitmen. Bagaimana dia bisa membantu saya untuk tetap menjalankan komitmen yang disepakati. Tentu timbal balik. Saya pun harus membantunya dalam konsistensi perjalanan komitmen itu sendiri.

Lagi, satu hal yang juga penting dalam komitmen adalah tujuan akhirnya. Sama seperti organisasi, dalam menjalin hubungan, tentu ada tujuan bersama yang akan dicapai. Jika tujuan telah tercapai, organisasi itu harus dibubarkan. Toh apa gunanya lagi? Berbeda dengan organisasi, kebersamaan yang diciptakan oleh komitmen adalah mencapai tujuan tertentu yang tak lekang oleh waktu. Yaitu stick together.

Pertanyaan penting mendesak: bagaimana mempertahankan komitmen itu?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s