Catatan Awal Kuliah (Episode 1)

Tepat 1 tahun 6 bulan lalu saya wisuda bersama 6 orang teman angkatanku lainnya. Kami bertujuh adalah seven “sexy” sisters pertama yang melaju sebagai Sarjana Ilmu Politik (S.IP) dari Jurusan Ilmu Hubungan Internasional Angkatan Rapuh (red: tahun masuk 2009). Mengapa seven sisters padahal ada dua lelaki fenomenal dalam grup ini? Ya karena kami mau sok-sok keren saja seperti 7 perusahan energi raksasa dunia (Royal Dutch Shell, Chevron, ExxonMobil, British Petroleum, dan sisanya yang satu sama lain terakuisisi). Tapi toh tidak mencerminkan banget ya? Tidak nyambung malah. LOL.

Nah, sebagai korban kandang paksa pertama yang diharuskan ujian skripsi duluan dengan ancaman teman-teman yang lain tidak akan maju, maka saya dan partner in crime saya Purnamasari Nadjun melenggang ke ruang ujian Kamis itu. Walhasil, kelima yang lainnya maju berturut-turut seperti antrian bebek yang lagi menyeberang jalan-jalan kampung. Hmmm.

Tapi sebenarnya saya mau cerita tentang kisah mengapa saya berakhir di Jurusan HI ini. Well, bukan cerita yang fenomenal dan luar biasa sih. Tepatnya ada sejarah dibalik terpilihnya Jurusan HI sebagai ujung tombak pendidikan tinggi bagi saya. LOL.

2008. Dengan euphoria anak SMA kelas 3 yang sebentar lagi akan menanggalkan seragam putih abu-abu yang sudah dicoret guru BK karena kekecilan, saya mengajukan aplikasi untuk jalur bebas tes di Universitas Negeri Makassar. Hanya karena saya suka biologi dan nilai Bahasa Inggris saya lumayan pas, maka saya memilih Jurusan Biologi Bilingual. Itu loh, yang belajarnya pake Bahasa Inggris. Yah, selain itu alasan saya juga simple kok, karena diantara semua ilmu IPA hanya biologi lah yang tidak mewajibkan saya pintar matematika. HAHAHA. Pengumuman.. Eng Ing Eng.. LOLOS. Eh, LULUS. Ahh, sama saja.

Eits, bukan pengen jadi guru loh ya. Ini jurusan sains, bukan keguruan. Yah, lumayan keren lah. Tapi, ya namanya anak kota Makassar, saya tetap pengen punya jas almamater merah dong. UNHAS. Universitas Hasanuddin, berlambangkan ayam jantan dari Timur. Uh oh..

Seperti biasa, cari aman dong, saya keep lah pengumuman ini. Tapi lagi, disuruh bayar uang kuliah berjuta-juta duluan. Lah, tes SNMPTN saja belum. Maka gugurlah. *sapu halaman sekolah*

Rejeki di Biologi emang tidak kemana. Lepas UNM, maka UNHAS pun memilih. Eeaa eeaa.. Tapi, wah banyak tapi yah daritadi. LOL. Biologi tak seperti yang kubayangkan. Bayangan kuliah dengan buku diktat tebal berbahasa Inggris, jalan di pelataran kelas ketawa ketiwi dengan teman, di lab bisa ngelirik asisten yang cakep, dan di kelas bisa ngacungin tangan karena bisa jawab pertanyaan dosen, semuanya hanya keindahan sinetron dan film belaka. Catat!

Kenyataannya:

  1. Ke kampus harus pakai rok gelap dan baju ukuran XXXXL. Yaelah, mana punya saya baju rok begini, senior? Pernah sekali saya pakai rok putih, layaknya pasukan pengibar bendera, eh saya ditegur. Padahal tidak transparan sama sekali loh. Heran. Sekalinya senior, pake celana skinny kok tidak ditegur sih? Yah, kalo ini tau kok jawabannya: makanya, jadi senior dong.
  2. Ngerjain laporan lab harus pakai mesin tik. Hello? Kitty. Mesin tik? Itu udah jadi barang antik. Namanya menyepelekan barang antik kalau ke kampus harus nenteng mesin tik, tau. Tapi yaudahlah, maklum saja. Toh punya mesin tik artinya bisa bagus: kolektor benda antik.
  3. Setiap masuk lab, harus respon dulu. Respon adalah prosesi tanya jawab antara laboran dan praktikan yang mengharuskan si praktikan menjawab dengan benar pertanyaan laboran. Nah kalo ini, saya tidak pernah gagal respon loh. Xixixixi.
  4. Wajib ikut perkaderan. Kalo tidak ya, jangan harap kamu bisa bebas melenggang di depan himpunan dan BEM. Oke, kalo ini saya ikut walaupun sebatas perkaderan fakultas. Di MIPA UNHAS, maba (mahasiswa baru) diwajibkan ikut perkaderan tingkat fakultas baru kemudian juruan. Jadi lewat dua kali gerbang deh sebelum benar dikukuhkan sebagai mahasiswa Biologi. Jadi? Status saya sekarang? Punya NIM belum tentu resmi gitu? Tidak ada pengakuan gitu? Aduh. Sayangnya (atau untungnya), saya hanya berakhir di fakultas. Perkaderan jurusan adalah ketidak mungkinan yang mutlak. Maklum, orang tua tidak memberi izin mendaki gunung lewati lembah yang dilakukan perkaderan tingkat jurusan. Uh oh. Pernah sekali, saya dan beberapa teman dipanggil ke depan saat pengumpulan. Pengumpulan adalah proses kami, mahasiswa baru nan imut, dikumpul di satu tempat untuk diberi pengarahan mengenai proses perkaderan ini. Nah, saya terkenal jarang datang maka dipanggillah saya. Bersama beberapa teman yang suka bolos itu, saya disuruh baris menghadap teman-teman yang bebas panggilan yang sedang duduk manis menonton kami. Kira saya mau diapain, ternyata si senior memanggil teman kami yang dinobarkan sebagai maba sangat rajin datang untuk memberi kami tamparan pengingat di masing-masing pipi halus kami. Satu per satu kena tampar. Tiba giliran saya? Uh oh.. “Jangan berani tampar saya!”. Mungkin temanku ini kaget saya pasang muka intimidatif, enak aja main tampar, siapa kamu? Maka dengan berani saya memilih dihukum scout jump Capek sih, tapi belum genap 50x saya sudah disuruh berhenti. Nyari masalah? Tidak. Saya cuma gak mau ditampar. LOL.
  5. Ada lagi namanya TC (Teliling Campus alias Lari Muter-muter Kampus) yang wajib diikuti oleh seluruh maba. Namanya sih TC tapi sampai sekarang saya tidak tahu apa kepanjangannya. Sumpah. LOL. Namanya lari keliling kampus, ya pasti capek lah. Kurang lebih berapa kilo ya? Ah, jauh lah pokoknya. Nah, kagiatan ini mewajibkan kami pakai celana olahraga. Maka dengan polosnya, kami alumni SMAN 5 Makassar (nama keren sekolah kami: SMUNEL) memakai celana olahraga kebanggan kami. Dasar nasib, ya kami dibilang sok keren mentang-mentang SMUNEL. Lah? Ada apa coba dengan SMUNEL? *bakar celana olahraga* Nah, TC ini saya cuma ikut 2x kalau tidak salah ingat. Maklum, malas olahraga.

Berhadapan dengan derita itu, saya menyerah. Tidak semua derita yang saya alami ada di atas. Di atas hanyalah teori gunung es, hanya sepersekian diantara seperbanyak lah. Tapi more less seperti itulah. Kehidupan kuliah tidak seindah yang saya bayangkan. Maka dipicu oleh satu kejadian di depan BEM, saya bersumpah akan meninggalkan MIPA UNHAS. *special effect: petir menyambar* Sejak itu, saya belajar dengan tekun. Datang kuliah cuma di mata kuliah Kimia, Fisika, Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, PKn, dan matakuliah umum lainnya. Mata kuliah jurusan? Tidak. Berbekal buku persiapan SNMPTN seadanya dan soal online yang juga seadanya, saya belajar untuk SNMPTN 2009.

Usaha memang sebanding dengan tekad dan hasil, maka saya lulus di Jurusan Ilmu Hubungan Internasional melalui jalur SNMPTN. Nah, sebenarnya saya tidak mau kuliah di sini. Tapi, pilihan apa yang saya punya? Kembali ke Biologi? Swallow my pride? Hell NO, my friend. Maka, saya menelpon kedua orang tua saya meminta restu untuk mengundurkan diri dari Biologi dan ya sekalian minta uang pendaftaran maba HI sih. LOL. Dasar untung, orang tuaku memang menyayangiku dengan sepenuh jiwa dan raga. Restu mereka akhirnya membawaku ke HI. Tapi eits, di sini pun masih tidak seperti yang saya bayangkan loh. Banyak hal yang mengejutkan.

PS. Tidak ada maksud dan tujuan tertentu dalam tulisan ini. Murni hanya menceritakan masa lalu yang bisa saja dianggap kelam, bercahaya, atau apalah. Toh yang melalui juga saya sendiri. *kunyah beling*

To be continued..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s