Antara Dupa, Korek Kayu, dan Obor

Mari bicara asmara! Uhuk. Berat ya?

Ibaratkan kisah asrama dengan nyala api. Panas. Jadi, sudah bisa ketahuan kan arah tulisan saya kali ini? Eits, saya tidak berbicara ke arah kiri ya! Determinasi panas tolong jangan diarahkan ke Eva Arnaz atau bintang panas tahun 80-an lainnya. Kita batasi saja definisi nyala api ke arah bagaimana hubungan itu bisa bertahan dan memberi cahaya ke kehidupan masing-masing. Heat bukan hot. Ciyeh.

Pertama, dupa yang nyalanya antara ada dan tiada tapi wanginya minta ampun. Jika diibaratkan bahasa keren “forever alone”, dupa adalah manifestasi yang paling tepat. Hanya ada bara dan asap. Habisnya perlahan tapi pasti. Jenis ini entah pernah mengawali atau mengakhiri kisah cinta dengan sempurna atau hanya sebatas pada level ‘gebetan’. Singles yang berjenis dupa bisa dibagi dua: tidak laku atau high standards expectation. Untuk masalah pembenaran jenis ini akan sering mengeluarkan quote andalan: akan indah pada waktunya, my friend. Kalau sudah gini, maka apalah arti ketika kisah (yang entah ada atau tiada) mereka dipertanyakan?

Kedua, korek kayu yang cepat menyala namun cepat pula padam tapi bisa menyalakan sumber cahaya lain. Widih. Ini yang cukup parah. Hahaha. Bagaimana sebuah kisah dinyalakan dengan sangat cepat namun sayang sekali harus berakhir pada kegelapan ketika habis api membakar kayu. Level ini cukup berani. Berani memulai dalam jangka waktu yang cukup singkat dan berani pula mengakhiri juga dengan jangka waktu yang sama. Rentan dengan sakit hati karena kisah cinta cepat berakhir tapi di lain sisi bahagia karena bisa dengan mudah merasakan 1001 ups and downs jatuh cinta. Ups.

Terakhir, obor yang susah nyala dan susah padam pula tapi bikin hidung yang menghirup bisa hitam. LOL. Menyalakan obor bukan hal yang begitu sulit sih, tapi dibandingkan dua jenis yang di atas, jelas obor mengharuskan terlaksananya usaha yang lebih. Memadamkan juga cukup pelik. Entah jenis ini baik atau tidak. Mmm.. Mempertahankan kisahnya sampai batas yang tidak diketahui. Sayangnya, jenis ini begitu sulit memadamkan kisah yang telah usai. Tsah. Untuk jenis ini, lagunya The Script – The Man Who Can’t be Moved sangat cocok: …coz if one day you wake up and find that you’re missing me. And your heart starts to wonder where on this earth I could be,thinking maybe you’ll come back here to the place that we meet. And you see me waiting for you on the corner of the street so I’m not move on… Kalau yang nungguin mirip vokalisnya sih, mau. Tapi.. Ah sudahlah! LOL.

Saya dan kedua teman perempuan saya yang lain sering mengasosiasikan diri sebagai representasi masing-masing dupa, korek kayu, dan obor. Sering bertukar kisah mengenai sebenarnya hakikat dari kami sebagai perempuan. Setelahnya, kami selalu berakhir pada kesimpulan sederhana dalam memahami perempuan: simply complicated. Tapi kita tidak berbicara tentang hal ini dulu ya. LOL.

Tapi ada satu yang jelas, dimana-mana yang namanya “jatuh” pasti sakit.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s