Ibarat Menari Balet di atas Pecahan Kaca, Rasanya…

Tell me, how to get over someone who obviously reminds you of many things?

Umur segini, twentysomething, gak mungkin gak punya pacar (atau mantan). Ya, okelah mungkin ada beberapa makhluk yang memilih tidak pernah pacaran. Makhluk demikian jumlahnya sama dengan spesies badak bercula satu yang sudah masuk daftar makhluk hidup nyaris punah. Are you? No. Great!

Well, dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa, dan bertanah air, mustahil rasanya tidak pernah merasakan derita percintaan. Entah itu tidak berbalas, cinta pertama yang tidak kesampaian, putus cinta, atau, ditinggal kawin ama mantan. Hwhat??

Rasanya itu seperti nari balet di atas pecahan kaca. Main debus tapi harus senyum manis kaya artis Hollywood menang penghargaan Golden Globe.

Yang namanya mantan atau crush yang gak kesampaian, bakalan bikin lupa hal yang disebut dengan keceriaan. Hidup rasa hambar, melewati hari dengan pedih, sepedihnya lagu ‘Hurt’-nya Christina Aguilera, lagu yang paling semangat yang bisa diputar palingan cuma Daughtry ‘Over You’ tapi habis itu ‘The Man Who Can’t Be Moved’-nya The Script jadi recently played di ipod. Bikin nangis Bombay.

Masa-masa patah hati adalah masa-masa dimana universe againsts you. Dimana-mana pasangan pada PDA, gak di media sosial dan dunia nyata. Mau keluar hang out, keingat tempat-tempat yang kamu kunjungi sama mantan. Semua kenangan manis, asem, asin, dan pahit dengan mantan kamu terurai terburai seperti penggalan-penggalan gambar yang tingkat kejelasan yang sangat tinggi. Mau tinggal di kamar, pasti bawaannya cuman mau buka hape, trus gak tahan mantengin twitter, path, bbm, facebook, blog, dan semua media sosial mantan kamu. Tiba-tiba liat dia biasa aja ato gak update status or picture or check in somewhere sama sekali, atau yang paling parah adalah kalau dalam usahamu (yang udah menyamai Sherlock Holmes) dalam mencari jejak perasaan mantan kamu pasca putus akhirnya membuahkan hasil: dia udah move on dan nge-flirt sama orang lain. It hurts, man. Seakan gak cukup gigit bantal, rasanya gigit kuping petinju Muhammad Ali boleh jadi ide yang bagus. Air mata seakan gak bisa habis, gak kesian apa sama kelenjar airmata?

Kata-kata penenang seperti “Level mencintai paling tinggi adalah membiarkannya bahagia dengan orang lain” tidak lain adalah level bullshit paling tinggi. Apalagi “Mencintai tidak harus memiliki”, aduh babe, you love him then grab him. Tapi yang namanya suasana hati, siapa yang bisa mengatur?

Tapi tenang, saya punya 4 penawar yang mungkin saja berhasil kalau bisa diterapkan. Psst, ini juga dari seorang senior yang tidak ahli dalam urusan move on. Pertama, waktu. Biarkan waktu membuat kamu move on. Tapi yah, konsekuensi memberi waktu kesempatan mengobati luka hatimu adalah MENUNGGU. Dalam kesedihan. Suck! Kedua, buat kesibukan baru. Bikin dirimu sibuk sesibuk-sibuknya, sampai lupa kalau kamu makhluk hidup juga boleh. Kali aja bisa lupa ingatan kalo pernah bahagia ama mantan kamu. *ups. Ketiga, dekatkan dirimu pada orang lain. Nah, kalau bahasa jahatnya ya ‘cari pengalihan aka pelarian’. Yah, cara ini lumayan ampuh bagi sebagian orang. Dengan ada ‘mainan’ baru, tentu mainan lama bisa mudah terabaikan. LOL. Kalau kesemuanya tidak bisa, ada jalan keempat: mati. Tapi kalau ini, sepertinya bukan hal yang tepat. Setuju kan?

Selamat bermalam minggu, ya.. :*

The broken heart. You think you will die, but you just keep living, day after day after terrible day.

(Great Expectations, TV Series, 2011)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s