Assalamualaikum, Istanbul

Sedikit mengutip dari judul film yang baru rilis sebelum saya menginjakkan kota Istanbul ini, saya mencoba sedikit menjadi sosok melankolis kali ini. Berada jauh dari teman, sahabat, dan keluarga adalah hal yang cukup menyesakkan. Saya telah menjadi bagian dari kota Makassar sejak 23 tahun lalu dan sekarang saya menikmati pemandangan kota Istanbul dari jendela kamar di flat yang sederhana ini. Pengobat rindu hanyalah video call, BBM messenger, Whatsapp, dan beberapa jejaring sosial lainnya. Merindukan kehangatan Makassar di tengah dinginnya Istanbul semakin mengingatkan saya bahwa kesendirian ini benar terjadi. Bukan hati bermaksud melankolis, hanya saja saya memang masih membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan, budaya, dan juga kenyataan.

Saat ini, banyak sekali kenangan yang tertinggal jauh beribu mil di Kota Daeng itu. Ketidak amanan yang saat ini menjadi berita utama semakin membuat saya was-was dengan keadaan keluarga dan teman saya di Makassar. Semoga Allah senantiasa menjaga mereka dengan baik. Amin. Hanya doa dan harapan yang bisa menjadi tumpuan bagi saya di sini mengetahui bahwa mereka semua baik-baik saja.

Tentu saja di awal kedatangan saya di sini, banyak hal yang terjadi. Cukup kaget dengan budaya yang ada, bahwa tidak semua orang yang manis di hadapanmu adalah orang yang tulus adanya. Kenyataan itu memukul rasa percaya bahwa senasib sepenanggungan di negeri orang memang ada. Tapi tidak bisa pula saya menyamaratakan hal itu. Banyak orang yang memang berniat tulus dan tanpa pamrih. Ada. Mungkin.

Menjalani masa-masa awal berpisah dengan kehidupan yang selama ini saya jalani bukan hal yang mudah. Walaupun bagi sebagian orang berkuliah di luar negeri adalah hal yang mengasyikkan, oke saya pun sepakat, tapi bagi saya berada di sekitar keluarga dan sahabat adalah hal yang terbaik yang pernah saya miliki. Kali ini, merasakan hal itu adalah hal yang sangat mahal. Maafkan kemelankolisan saya.

Menjadi bagian dari kota berpenduduk 16 juta jiwa ini membutuhkan kesabaran ekstra, baik itu berkaitan dengan mencari kesempatan beribadah, bersosialisasi dengan sesama orang asing dan native Turkce, atau bahkan usaha menemukan makanan yang cocok di lidah. Pertama tiba, saya dihantam dengan kenyataan bahwa suhu di Istanbul adalah 2°C, berharap bahwa suhu akan menaik merupakan penyemangat. Sayangnya, suhu semakin menurun dan akhirnya salju itupun turun dengan deras. Bahkan, kuliah diliburkan 3 hari karena badai salju.

Luar biasa.

Tapi saat ini saya harus belajar menguasai perasaan, bahwa yang saya lakukan sekarang bukanlah hal yang diperuntukkan bagi saya sendiri. Ada banyak hal yang menjadi nyata dengan keberadaan saya di sini. Bagaimana meninggalkan kisah lama yang tak bersahabat dan memulai kisah baru yang menantang. Pada akhirnya saya harus menyadari, memahami, dan menerima kenyataan. Itu saja. Saya berharap telah dan akan belajar banyak walaupun baru 15 hari berada di sini.

Maaf kemelankolisan ini masih berlanjut.

I met this man.

Entah harus mendeskripsikannya seperti apa dan memulai perkenalannya dari mana. Seseorang yang ditakdirkan berpapasan dalam kehidupan, mungkin? Oh, semoga saja berpapasannya tidak hanya sekedar lalu. Harapan yang muncul dari kekecewaan di masa lalu semakin memperteguh bahwa harapan yang membuat saya hidup. Menumpukan harapan pada diri sendiri, dirinya, dan kami. Mungkin itu lebih tepat.

Kata beberapa teman, kamu pantas bahagia. You deserve happiness. Kalimat yang mungkin bagi sebagian orang akan terdengar sangat cliché tapi bagi saya kalimat itulah yang membuat saya akhirnya berani mengambil keputusan besar ini. Everyone of us learns from what we call it a past. Sampai saya berpikir, mungkin masa lalu menjadi masa lalu karena seseorang di masa depan telah menunggu untuk menemukan saya atau ditemukan oleh saya.

Entahlah.

Melankolis ini masih berlanjut dan akan terus berlanjut

PS. I have a date with this man. I gotta go. See ya.. :*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s