Ceritanya, mereka sedang sibuk tesis masing-masing.

Karena hari ini lumayan cerah dan hati saya sedang bersemangat, saya ingin bercerita tentang sahabat saya. Hihihi. Anggap saja saya punya banyak sahabat. Kali ini ingin berkisah tentang Meike dan Satky. Dua manusia unik, sama uniknya dengan saya, uhuk. Meike yang saat ini sedang menyelesaikan tesisnya di UGM dan Satky yang juga (ehm) sedang bergelut dengan tesis MBA-nya di Putra Business School Malaysia, berdua adalah pengobat rindu penahan airmata kala merindukan suasana kota Makassar.

Kami tahu bahwa umur pertemanan kami masih hitungan tahun, bukan belasan atau puluhan tapi saya berharap it will last forever. Kalau dengan Satky, saya sudah menjadi bagian dari omelannya sejak 2009. Lupa bagaimana awal mula kami bercakap dan akhirnya sama-sama “menderita” menghadapi hari demi hari. Tapi, sadar-sadar ya kaya gini. Kami bercerita semuanya. Saya masih ingat masa-masa suram pertama dia tiba di Selangor September 2013 lalu. Begitu menyedihkannya namun tidak semenyedihkan apa yang saya kisahkan padanya beberapa hari lalu.

Hanya kami yang tahu, psst.

Tidak berbeda dengan gadis satu ini, yang punya pemikiran luar biasa mengenai konsep perempuan dalam masyarakat, saya menyukai berada di sekitarnya. Membicarakan sesuatu yang esensial sebagai bagian dari komunikasi antar dua perempuan yang sedang mengusahakan sebuah “pertemuan” di masa depan dengan seseorang yang mungkin “tepat”. Kalau saja kamu bertemu dengan Meike, kamu akan terpacu untuk segera membenahi diri agar menemukan atau ditemukan. Sekali lagi, makna dua kata ini hanya beberapa yang mengerti. Maaf. :p

Kami bertiga pun sering bertukar kisah, menjadi bahan pelajaran masing-masing. Dari luar kami yakin, banyak yang menilai tingkah laku kami baik itu secara personal maupun komunal. Yes, people talk a lot. Me also. I mean, we also. We are people, people. Melontarkan pengalaman yang diesensikan sebagai kebenaran mutlak mungkin bukan hal yang fenomenal bagi kami. Berbagi. Entahlah orang menyebutnya apa, tapi bagi kami berbagi semangat dan ya kadang emosi bisa menjadi perekat yang kuat selama komunikasi terjalin dengan baik. Saya percaya ketika dua hal ini diaplikasikan dalam satu hubungan melalui komunikasi, maka hubungan itu bisa berjalan dengan baik, sangat baik: mengerti dan menerima.

Hal inilah yang kami lakukan. Bagi saya, mereka terlalu berharga jika hilang. Entahlah, masih ada kemelankolisan mungkin tapi ya inilah yang terjadi. Sahabat adalah komoditas langka saat ini. Percaya deh!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s