Glenn, You Did Good!

Kini harus aku lewati

Sepi hariku tanpa dirimu lagi

Biarkan kini ku berdiri

Melawan waktu tuk melupakanmu

Walau pedih hati namun aku bertahan

Lagu Glenn Fredly – Akhir Cerita Cinta yang mengalun sendu dari Youtube playlist pagi ini sungguh memilukan. Tiba-tiba mood pengen nulis sesuatu ‘aneh’ semakin menjadi-jadi. Pffft.

Terkadang, kehilangan seseorang karena dia memilih melangkah pergi dari kehidupan kita adalah hal yang menyakitkan. Sangat menyakitkan. Memberi kesesakan yang tidak bisa terjelaskan bahkan dengan airmata. Butuh beberapa waktu lamanya untuk bisa mengubah ‘status’ orang itu dalam hati, pikiran, dan langkah kita. Merasa kalau hal itu adalah hal tersulit adalah wajar. Sangat wajar. Apalagi ada kenangan indah yang turut serta mempersulit proses pengalihan perasaan itu.

Bukan hanya kenangan indah, tapi juga mimpi-mimpi masa depan yang senantiasa menjadi pengingat bahwa kita pernah bukan hanya hidup di masa sekarang. Kita pernah bermimpi hidup untuk masa depan bersama. Selamanya.

Sayangnya, mimpi itu harus dibuyarkan bukan dengan hal yang lebih indah. Perpisahan. Dia memilih menjauh dari hidup kita. Dengan alasan yang sebisanya dia jelaskan agar kita bisa mengerti. Padahal, tidak ada alasan di dunia ini yang bisa menjadikan perpisahan itu hal yang menyenangkan. Jujur, kata-kata “cinta tak harus memiliki” atau “melihatnya bahagia dengan orang yang dia cintai bisa membuat saya bahagia” atau yang lebih parah “akan kudoakan kau bahagia dengannya dalam sujudku” adalah kata-kata bullshit. Sama sekali tidak menenangkan, fyi.

Tidak mengherankan kalau dia cepat move on. Apalagi kalau level kepo kita sudah sangat meningkat, siap-siap saja airmata harus mengalir lagi. Pasti. Harapan yang membuat kita hidup. Harapan dia akan kembali? Bukan. Harapan kita bahagia dengan orang lain? Mungkin bukan. Lantas? Harapan dia tidak bahagia dengan kekasih barunya? Ini lebih tepat.

Ah, lupakan! Seberapa penting dia yang masih hadir dalam 24/7 hidup kita? Tidak penting sama sekali. Sudah jelas bukan? Dia yang tidak menyadari seberapa besar kita mengharapkannya dan bertahan pada mimpi-mimpi indah itu sama sekali tidak pantas menjadi alasan airmata ini kita peras dari kelenjarnya. Tapi, sebenarnya orang yang kita sayang adalah orang yang paling berpotensi melukai perasaan kita bukan? Terlalu ribet urusan beginian. Ampun.

Tunggu, apakah di kepala dan hatinya dia tidak sedih dengan perpisahan ini? Sungguh, saya penasaran. Semudah itukah? Semudah itu?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s