Anak Gaul Kekinian

Well, kali ini saya pengen bahas sesuatu yang cukup irritating dan ya sebenarnya cuman opini pribadi. Tapi, bolehlah jadi bahan diskusi ringan.

Jadi gini, socmeds adalah hal yang wajib punya kalau mau gaul ala anak muda jaman sekarang. Ya, katanya sih gitu. Mulai dari Friendster, Facebook, Twitter, Instagram, dan yang paling baru ya Path. Awalnya sih, saya gak begitu minat dengan kepemilikan akun-akun di socmeds itu. Tapi, atas dorongan temen-temen, akhirnya saya punya. Jujur, mereka menggeser ‘nilai’ sms dan telepon menjadi sesuatu yang lebih sakral. Apa-apa berita ya lewat free chat services kaya BBM messenger, path talk, line, and so on. Katanya, gratisan yah walaupun harus beli paket internetan. Ya sebenarnya sama aja kan pake pulsa. Bingung. Well, kalau gak mau ketinggalan ya wajib punya ginian. Fine.

Kalau mau ngobrolin semua socmeds di atas, gak mungkin cukup waktu buat saya nulis. Capek kok. Nah, ternyata ada efek lain di balik munculnya socmeds tersebut yang mungkin gak disadari oleh sebagian kita anak muda. Kita jadi konsumtif. Yap, konsumtif dan ikut-ikutan.

Jargon yang selalu dibawa ama socmeds itu adalah “share something”. Punya socmeds ya apalagi kalau bukan buat “pamer”. Maaf ya, saya lebih suka menggunakan kata pamer ini. Pamer lagi dimana, pamer ama siapa, pamer punya apa, dan segala jenis pamer lainnya yang dibungkus dengan menu “share” di layar hape touchscreen. Nah, budaya pamer ini bakalan nge-hit banget karena ada semacam budaya ‘tanding-tandingan’ ala ala. Okay, let me be clear!

Mari kita ambil contoh, instagram. Salah satu socmeds yang ternyata masih dipakai saat ini walaupun kemunculannya telah disusul oleh Path. Instagram sendiri pertama rilis tahun 2010 dan okay, saya juga punya instagram dengan posting-an pertama sekitar 132 weeks ago. Mmm, 2 tahun setengah gitu lah. Lumayan sih, awalnya karena saya emang suka mantengin foto-foto orang yang bukan selfie tentunya.

Nah, kayaknya sekarang ada pergeseran kan? Kita sepakat kalau yang terjadi di instagram, ingat ya kali ini contohnya cuman instagram dan kita lupain dulu socmeds yang lain, adalah hal yang memiriskan? Well, gini.. Budaya pamer yang saat ini bener-bener nge-trend banget adalah ‘tap for details’ caption yang ada di posting-an foto si pemilik akun. Oke, oke, paling keliatan adalah kalau kamu surfing di instagram milik para fashion bloggers. Ada tuh brands fast fashions yang di-tag biar kesan kece-nya dapet. Misalnya: H&M, Zara, Bershka, dan yang lainnya. Akhirnya, para followers mereka yang notabene adalah anak muda bakalan ngikutin kan? Namanya aja followers. Ya kerjanya ya ngikutin.

Tapi pernah gak kepikiran kalau definisi kece dan keren mereka sama sekali berdampak serius khususnya di kalangan anak muda. Anak muda makin konsumtif dan ikut-ikutan. Beli ini beli itu dengan harga yang cukup mahal. Ada yang baru, beli lagi. Intinya cuman beli, beli, beli, dan beli. Bagi mereka, merek pakaian yang saya sebutkan di atas adalah indikator ke-kece-an seseorang dan mudahnya mereka membuktikan bahwa mereka kece dengan memamerkan via socmeds yang mereka punya. Akhirnya, haters (yang sebenarnya hanya dimiliki oleh selebriti tapi entah kenapa sekarang orang biasa juga sepertinya punya haters) makin gencar menandingi orang-orang pamer ini dengan tentu membeli tandingan apa yang mereka posted. Ribet ya?

Jadi sebenarnya sama saja, budaya pamer dan saling menandingi semakin memperbesar yang namanya konsumerisme di kalangan anak muda Indonesia. Socmeds hanyalah media propaganda agar pamer ala selebriti dan tandingan ala haters makin menjadi-jadi.

Kalian tahu kan berapa banyak keuntungan yang didapat oleh produsen fast fashions itu sejak kemunculan dari socmeds ini? Tuh liat aja H&M yang baru muncul di Indonesia jadi hot item or must-have one, padahal bagi orang yang tinggal di luar negeri, brand ini biasa aja. Tapi di Indonesia? Aduh, gak usah ditanya deh. Tiba-tiba banyak bermunculan ‘insta-celeb’ yang dengan girangnya memamerkan atasan, bawahan, tas, sepatu, dan sebagainya dengan nge-tag official accounts dari brands yang saya sebutkan tadi. So, there they are: new insta-celebs with a thousand of followers since they mentioned ‘tap for details’ captions and #ootd hash tag to gain more likers for their posts. I mean: really?

Akhirnya, istilah fashion blogger semakin banyak digunakan oleh orang biasa tanpa latar belakang fashion untuk melanggengkan yang namanya budaya pamer merek ini. Kalau cara pakaian kamu oke dan banyak yang nanyain atau banyak yang memuji, maka jadilah kamu fashion blogger. Okay, fashion is a passion they said. Tapi, sebenarnya itu menjadikan orang semakin konsumtif. Okelah, mari tengok beberapa fashion bloggers or insta-celebs. Mereka kadang memamerkan walk-in closet mereka yang penuh dengan bebendaan yang kata mereka sendiri sudah old-fashioned dan mereka udah bosen gak mau pake. Aduh.

Kita minggir sejenak dari trendsetter. Mari kita ke followers yang sebenarnya lebih parah kondisinya. Kenapa parah? Terkadang, mereka yang tergolong followers rela menghabiskan uang jajan demi yang namanya ke-kece-an. Bukan cuman dalam hal pakaian, tapi juga tempat nongkrong. Ya dimana-mana nongkrong di café bakalan habis duit walaupun pesannya cuman es teh doang. Tapi coba deh kalo pesen cake dengan minuman dengan sajian yang sangat tidak tega untuk diicip. Bisa habis berapa coba dalam sekali nongkrong itu? Dan, pernah ngalamin kan ada adegan dimana kamu lagi duduk nongkrong di café (okay saya gak tau dalam rangka apa, saya gak mau nge-judge) trus ada beberapa orang take a picture dulu kue ato minumannya? Akuilah. Ada. Bahkan gelas reusable or wax disposal Starbucks bisa jadi objek pamer yang lagi in.

Memamerkan sesuatu yang lagi nge-hit adalah sesuatu yang wajar bagi sebagian orang yang tanpa menyadari mereka begitu konsumtif. Socmeds are there to exist those ‘must-show-off’ stuff. Yakin deh. Ke-kece-an seseorang bukan karena dia bisa menggunakan merek-merek fast fashions apapun atau yang masuk kuliah dengan menenteng gelas Starbucks atau juga yang selalu check-in lagi nongkrong dimana. Belum lagi kalau kita bahas tentang definisi sebenarnya dari socmeds dan asal muasalnya. Panjang, om.

Saya gak menyalahkan kepemilikan seseorang atas socmeds yang mereka punya. Para fashion bloggers itu kan sebenarnya lagi endorse merek. Wajarlah mereka pamer, toh dengan pamer mereka dapat duit. Lah kalau yang ngelakuin pamer-pameran itu masih berstatus followers? Okay, mungkin juga sih mereka mikir dengan pamer-pameran itu mereka bisa naik status dari followers jadi trendsetter. Well, itu hak kalian deh. Mau ini itu.

Tapi, bijaklah dalam melihat sesuatu. Bukan bermaksud menggurui, namun alangkah kerennya kalian kalau kalian mengetahui apa dibalik apa dan melakukan sesuatu karena kalian telah tahu. Jangan sampai kalian ngelakuin apa-apa, ikut-ikutan biar keren, tapi tidak tahu agenda apa di balik itu. Ya mungkin karena saya anak HI makanya rada gimana banget soal socmeds and giant business of fashions di luar sana. Saya cuman pengen berbagi karena miris kalo pantengin socmeds sendiri. Apa-apa serba dipamerin. Bukan iri ya, tapi kasian aja.

Hmmm, saya sedikit surfing tadi sebelum nulis ini. Saya attached beberapa links buat kalian ya! Setidaknya saya gak ngomong kosong nih. Selamat membaca!

The Huffington Post

http://www.huffingtonpost.com/shannon-whitehead/5-truths-the-fast-fashion_b_5690575.html

 The Guardian

http://www.theguardian.com/lifeandstyle/2011/may/08/fast-fashion-death-for-planet

The Mail

http://www.dailymail.co.uk/femail/article-1389786/Britains-bulging-closets-Growth-fast-fashion-means-women-buying-HALF-body-weight-clothes-year.html

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s