Culture Shock

“Go get a room, please!”

Saya membatin tatkala melihat sepasang muda mudi sekitar umur 25-an sedang melakukan adegan gigit-gigit dagu di dalam metro train yang saya tumpangi saat itu. Si lelaki sambil menunduk, satu tangan menggantung di pegangan tangan dan satunya dengan erat memeluk pinggang si perempuan. Sedangkan si perempuan? Jangan ditanya, tentunya dengan pose menengadah dan bergelayut erat pada si lelaki seakan-akan lelakinya adalah tumpuan terakhirnya di bumi. *eh

Bukan bermaksud sinis atau apa, hanya saja saya adalah pendatang baru dengan budaya timur yang masih cukup kental dan ditambah dengan budaya siri’­-nya orang Bugis. Disuguhkan pemandangan demikian tentu menimbulkan sensasi menggelitik yang cukup mengganggu. Walaupun sebenarnya penumpang kereta lain terlihat tidak terganggu. Iyalah, pemandangan sehari-hari mereka kok. Jangan harap kamu akan mendapati adegan serupa di negeri khatulistiwa, Indonesia. Oke, mungkin akan, namun jelas tidak dalam waktu dekat ini. LOL.

Tapi bagi saya perbedaan budaya ini memberikan sedikit rasa tidak nyaman. Jelas, karena tidak biasa. Jadi, saya memberikan sugesti kepada diri sendiri: nanti kamu akan terbiasa kok. Akhirnya saya tidak mengalami stres karena hal beginian. I can deal with it. Yah, mungkin juga karena saya dibantu oleh kebiasaan nonton film-film Hollywood dan berujung pada pemikiran-pemikiran cukup ‘liberal’. Eits, bukan berarti saya penganut ya. Cuman, sedikit terkontaminasi dengan nilai-nilai mereka, salah satunya: mind your own business, dude!

Hidup di kota dua benua ini dari awal sudah memberikan banyak kejutan. Mulai dari sekularismenya, kalau yang ini oke sampai sekarang pun masih mengalami, sampai pada fakta bahwa kota ini agak ‘terlalu’ liberal. Tapi, kalau berbicara tentang pandangan politik, negara ini masih memegang teguh yang namanya: nasionalisme tingkat dewa. Soal ini, bakalan ilmiah banget kalau di bahas di blog. Lain kali ya. Mungkin. Hmmm.

Eh, mungkinkah saya mengalami yang namanya culture shock?

Menurut Merriam Webster, culture shock is a sense of confusion and uncertainty sometimes with feelings of anxiety that may affect people exposed to an alien culture or environment without adequate preparation. Sedangkan menurut Kamus Oxford, culture shock is the feeling of disorientation experienced by someone when they are suddenly subjected to an unfamiliar culture, way of life, or set of attitudes.

Well, kalau merujuk dari dua makna minimalis di atas sepertinya kondisiku tidak ter­cover deh. Kata Merriam, ‘without adequate preparation’ itu gak sepenuhnya benar. Saya ke sini dengan persiapan yang cukup baik itu jiwa dan raga. Ehm. Nah kalau kata Oxford, ‘suddenly subjected to…’ sama saja dengan Merriam. I am not suddenly, boom, in here. Jadi? Apakah saya tidak mengalami culture shock? Jawabannya, belum tentu. Mari kita tengok sedikit dari kawan-kawan di The Steger Center for International Scholarship at Virginia Tech. Berikut adalah ciri-ciri yang mengalami culture shock, check them out!

Symptoms of culture shock include:

  1. Homesickness
  2. Boredom
  3. Withdrawal
  4. Excessive sleep
  5. Compulsive eating/drinking
  6. Irritability
  7. Stereotyping host nationals
  8. Hostility towards host nationals

Well, poin ke-7 adalah hal yang paling sering saya lakukan. Sedikit-sedikit bikin stereotype. LOL. Kalau homesick sih muncul karena rasa rindu sama orang-orang yang saya sayangi yang ada di Indonesia. Ciyeh, Masa karena rindu menyebabkan culture shock. Mmm, terserah sih ya. Mau dianggap culture shock atau tidak, tapi sebagai ekspatriat selaiknya saya, ataupun kalian yang menghadapi masalah yang sama, harus senantiasa bertahan. Beradaptasi. Nah, soal ini ada lagi hal yang harus kalian tahu.

Menurut buku You Cannot Go Home Again: A Phenomenological Investigation of Returning to the Sojourn Country After Studying Abroad karya Victoria Christofi dan Charles L. Thompson, ada tiga jenis outcomes yang dihasilkan ketika dihadapkan pada posisi ‘menyesuaikan’:

  1. Some people find it impossible to accept the foreign culture and to integrate. They isolate themselves from the host country’s environment, which they come to perceive as hostile, withdraw into a “ghetto” and see return to their own culture as the only way out. These “Rejectors” also have the greatest problems re-integrating back home after return.
  2. Some people integrate fully and take on all parts of the host culture while losing their original identity. This is called cultural assimilation. They normally remain in the host country forever. This group is sometimes known as “Adopters” and describes approximately 10% of expats.
  3. Some people manage to adapt to the aspects of the host culture they see as positive, while keeping some of their own and creating their unique blend. They have no major problems returning home or relocating elsewhere. This group can be thought to be somewhat cosmopolitan. Approximately 30% of expats belong to this group.

Hmmm, ini hanya sekedar berbagi ya. Bukan tulisan yang benar-benar ilmiah dengan tingkat keakuratan yang bisa dipertahankan di depan penguji. Hanya saja belakangan saya sering merasa bahwa saya sudah terbiasa dengan beberapa nilai kehidupan di sini. Bukannya sok ngeblend, tapi bukankah adaptasi adalah hal yang dilakukan makhluk hidup untuk bertahan dari seleksi alam seperti kata Charles Darwin? Oke, mungkin teori ini sudah ketinggalan atau ternyata telah dipatahkan oleh ilmuan lain. Tapi, saya percaya bahwa adaptasi adalah senjata paling ampuh untuk bertahan hidup dalam budaya yang berbeda dengan budaya yang membesarkan dan membentuk saya. Soalnya, di sini saya ada kewajiban untuk dituntaskan. Jadi, harus bisa sampai pada tujuan dengan selamat tanpa stres, depresi, atau apalah namanya yang bisa menghambat ketercapaian tujuan saya. Elah. Hmmm.

Btw, saya masih mencoba mengeksplorasi budaya lain di sini. Dikit lagi mau jadi pengamat budaya. *lupa diri jadi anak HI

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s