Surat Kakak Perempuan kepada Dua Adik Lelakinya

Kepada kalian, dua adik laki-lakiku yang sekarang sudah dewasa..

Hai!

Sebelum membaca ini, mungkin kalian akan menganggap kakak perempuanmu ini lebay dan lagi galau abis. Iya memang. Saat ini, kakakmu ini, sedang merindukan masa-masa dimana kita masih berada bersama bersua di bawah satu atap: rumah. Jarak dan waktu yang membentang menjadi penghalangku mengulang kebersamaan itu, wahai adik-adikku. Resiko yang harus aku ambil ketika aku dengan mantapnya memilih menuntut ilmu di sini demi membuat kalian, Etta, dan Ammi kita sedikit bangga. Semoga…

Masih kuingat saat kita tumbuh bersama, pautan umur kita yang hanya berselisih 1.5-3 tahun membuat kita tumbuh sebagai teman. Di antara kita tidak ada sapaan kakak-adik, barulah depan orang tua sapaan itu kita lontarkan. Demi membuat mereka percaya bahwa kita akur. Walaupun mereka pun tahu tidak ada satu haripun terlewatkan tanpa pertengkaran antara kita bertiga. Kalian berdua laki-laki, tentunya kalian lebih memilih main bersama. Kalian menganggap aku perempuan tidak boleh ikut bergabung dengan kalian. Saat aku ingin nimbrung, kalian lantas berkata bahwa ini mainan lelaki. Maka menjauhlah aku. Tapi, entah kenapa aku tak lelah mencoba dan sadar-sadar kitapun bermain bertiga. Jika kalian cekcok, kalian akan berlomba menarik hatiku untuk beraliansi melawan satu sama lain. Untunglah itu hanya terjadi saat kalian masih kecil. Betapa bahagianya aku, dek. Sekarang kalian tak lagi bertengkar seperti masa kanak-kanak dulu.

Kita memang bukan kakak-adik yang selalu jalan bersama kemana-mana. Kita adalah kakak-adik yang selalu tahu kapan saatnya membantu satu sama lain. Kalian yang selalu bersama dari kecil sampai SMP. Sekelas, sepermainan, dan saudara. Sedangkan aku, sedari itu selalu mencari sesuatu sendiri. Mungkin karena Ammi tidak memberi kita saudara perempuan untuk menemaniku. Tapi, tak apalah. Bahagiaku memiliki kalian tidak akan terganti.

Masih lekat di ingatanku saat kamu, si bungsu yang saat itu masih SMA bilang “Putusin gak tuh orang! Kalau berani ke rumah lagi, aku gak segan-segan mukul.” Padahal badanmu masih ceking dan kurus, tapi kamu berani mengancam akan memukul lelaki yang kamu pikir telah menyakiti hati kakakmu ini. Betapa terharunya aku, dek. Permintaanmu itu aku laksanakan, dek. Sekarang aku sudah bersama lelaki yang jauh lebih baik dari dia. Entahlah. Tanpa teguran itu mungkin aku tak akan membuka mata sesegera mungkin setelahnya. Terima kasih mengingatkan aku, dek.

Kamu si tengah, yang selalu ada kala aku minta dijemput dimanapun itu, menjadi andalanku sepanjang masa. Kesiapanmu selalu membuatku selamat sampai di rumah tanpa rasa was-was selarut apapun saat itu. Dengan sepeda motor andalanmu, yang suara knalpotnya sudah kamu modifikasi, kamu selalu bisa menjadi andalanku. Walaupun setelahnya kamu selalu minta ditraktir, tapi aku suka. Kamu membuatku dibutuhkan, setelah aku membuatmu dibutuhkan. Simbiosis yang kita jalani begitu indah, dek.

Kalian tidak selalu membuatku senang, kadang dengan kemalasan kalian bangun pagi dan bergerak, aku harus marah-marah seperti ibu tiri. Aku pasti terlihat menyebalkan. Takut tetangga mendengar, aku harus membuat suaraku serendah mungkin. Tak jarang, aku menangis emosi karena kalian. Tapi setelahnya, kalian selalu tahu bagaimana caranya membuatku tertawa. Akhirnya aku menangis sambil tertawa: menyebalkan.

Lebaran lalu, aku masih ingat saat keluarga begitu mengagumi kalian yang sudah bertumbuh besar laiknya lelaki sejati. Aku yang tak segan menggamit lengan kalian berjalan dengan percaya diri atau bersandar manja pada pundak kalian: mereka adalah adik-adikku. Wajah kalian semakin tidak mirip denganku. Tapi, sifat kalian dan sifatku akhirnya bisa semakin menyatu. Kita semakin bisa berkomunikasi dengan baik. Kalian semakin dewasa, dek.

Kalian sudah dewasa, sudah saatnya bisa menentukan jalan hidup kalian sendiri. Etta dan Ammi percaya sama kita, itu adalah hadiah terbaik. Tidak semua orangtua dengan baiknya percaya sama anak-anak mereka. Tetaplah menjadi anak kesayangan Etta Ammi, dek. Biarkan mereka menikmati masa tua mereka tanpa rasa khawatir akan kita. Saat ini aku sudah bisa mandiri, beberapa saat lagi kalian akan mandiri dengan cara kalian sendiri. Jadilah apa saja yang kamu mau, tanpa beban. Karena aku, Etta, dan Ammi percaya kalian tidak akan mengecewakan kami. Karena kami tahu dan yakin bahwa kalian tidak akan lupa berbagi karena masa-masa sulit telah kita lalui bersama yang membuat kalian menjadi lelaki tangguh. Aku percaya itu, adik-adikku.

Dari kakak perempuan kalian yang sangat merindukan kalian…

Advertisements

2 comments

    1. halooo nunu.. wah makasih.. jadi ingat batua sm rumahnya nunu ini tempat main. hahaha.. iyaa nanti saya sampaikan, nunu.. blognya nunu saya add link yak! 😀

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s