Hati dan Logika ala Perempuan (Seakan) Realistis

Saya menulis tulisan ini sebenarnya rada gimana gitu. Well, maunya sih keep silent tapi gatal pengen komen soal si perempuan yang mengklaim dirinya realistis dalam menata dan memilah milih masa depannya. Iya, Selmadena Aqilla. Perempuan yang memilih realistis menerima pinangan Haqy Rais yang saat itu memiliki seorang pacar.

Pasti kalian sudah membaca kisah ini. Pendapat kalian tentu beragam kan? Nah, sebagai perempuan saya juga merasa berhak berpendapat dan kita di sini saling menghargai, bukan? Okay, mari mulai!

Bermimpi ingin menikah muda, di usia 25 tahun. Di saat Haqy Rais melamar Selmadena Aqilla, usianya sudah (atau hampir, saya tidak pasti) 25 tahun dan sang pacar yang sedang menempuh pendidikan kepolisian belum kunjung menampakkan itikad untuk memberikan pernikahan. Iya, Selmadena Aqilla menjadikan umur sebagai alasan bagi dirinya untuk bisa membenarkan apa yang dia lakukan: menerima pinangan Haqy Rais. Mungkin dengan menjadikan patokan umur sebagai alasan, Selmadena Aqilla akan bisa menuai dukungan. Secara, umur mana ada mundur cuy? Jadi, kalau umur jadi alasan tentu siapa bisa menolak? Kenapa gak sekalian bilang ajal, mbak Selmadena Aqilla? Kalau alasan mbak pengen nikah karena ajal siapa yang tahu, ya jelaslah siapa yang bisa menggugat?

Kalau memang tindakan kedua orang yang dimabuk cinta dan terlalu ingin ke masa depan berdua, adakah mereka memikirkan perasaan sang pacar yang terkhianati? Katanya sih, Haqy Rais menghargai pacarnya. Tapi, apa bukti penghargaan itu? Mau kenalan 2 atau 3 bulan dulu kalau oke nikah kalau gak ya gak usah? Hwhat? Saya baru sadar kalau menghargai pacar orang ya tawarkan saja opsi itu. “Sorry bro, gue gak cocok ama cewek lu. Ambil aja. Trims.” Oh iya, buat mereka sepertinya “You can’t fix yours by breaking someone else.” itu gak berlaku. Asalkan bisa nikah, gak peduli pacarnya si Selmadena Aqilla mau hancur bagaimanapun.

Melamar. Sebuah kata yang merupakan awalan proses panjang sebuah komitmen dari pernikahan. Dengan lamaran TIBA-TIBA (well, si Mbak Selmadena Aqilla suka capslock), Selmadena Aqilla menjadi bimbang lantaran dihadapkan pilihan take it now or leave it. Dalam sujudnya, dia berdoa selaiknya perempuan yang bimbang. Apakah menerima pinangan lelaki yang menawarkannya sebuah kepastian atau menanti lelaki yang sedang berjuang saat ini demi masa depan yang lebih baik? Tapi, sepertinya opsi pertama menjadi jawaban atas doa-doanya. Memilih sesuatu yang pasti itu. Entah pasti dalam kategori apa. Yang pasti adalah yang melamar atau yang pasti adalah yang sudah punya modal masa depan yang tidak sedikit? Tentu, Haqy Rais adalah lelaki yang pasti itu: melamar dan sudah punya modal masa depan yang tidak sedikit.

Selmadena Aqilla sadar bahwa hidup adalah pilihan. Bahkan dia tidak mau menyakiti hati Haqy Rais, lelaki yang membuatnya galau. Membuatnya harus memilih. Membuatnya harus realistis. Ya, kata itu. Realistis. Selmadena memilih realistis mengandalkan hati dan logika. Jadi, please.. kata-kata si Mbak sudah jelas. Hati dan logika. Logika yang bersandar pada bagaimana formulasi hitung-hitungan materi (sesuatu non abstrak ya, jangan langsung diartikan harta loh) akan bisa membuatnya berpikir masa depannya aman bersama Haqy Rais. Sementara hati, “Cinta datang karena terbiasa. Aku harus terbiasa.”-nya Selmadena Aqilla bisa kalian artikan, bukan? Bahwa sebenarnya dalam keputusan ini, logic comes first and love (or heart, she mentioned) would follow. Jadi, kenapa masih dihujat sih?

Sampai saat menikah pun, Selmadena Aqilla mengakui belum ada cinta itu. Namun, at last Selmadena Aqilla bisa menumbuhkan benih-benih cinta itu karena melihat bahwa kegigihan si Haqy Rais membuktikan kesungguhannya dengan menikahi Selmadena Aqilla. Selmadena Aqilla harus juga dong berkorban: korbankan perasaan pacarnya.

Walaupun berat, keputusan itu diambil Selmadena Aqilla dengan berat. Mengutarakan kejujuran kepada sang pacar bahwa dia memilih lelaki lain yang telah menawarkannya kehidupan masa depan duluan. Okay, Selmadena Aqilla yang dibantu kedua orang tuanya untuk memantapkan hubungannya dengan Haqy Rais akhirnya bisa move on. Menikah.

Bagi saya, Selmadena adalah sosok yang berani. Berani menyakiti hati orang lain yang telah memintanya menunggu walaupun masih lama. Berani menyatakan bahwa dirinya realistis dengan memilih Haqy Rais yang tentu sudah punya nama besar di belakangnya. Berani mengambil keputusan yang tentunya tidak lepas dari apa yang akan terjadi di masa depan. Dan, berani dihujat banyak orang.

Bagi saya (lagi), Selmadena Aqilla hidup di dunianya. Dunia dimana dianggapnya dia adalah sebuah inspirasi bagi makhluk-makhluk tidak berjakun untuk harus realistis dalam memilih pasangan hidup. Duh, sudah barang tentu kita perempuan adalah makhluk yang memang mengandalkan perasaan dan kadang menjadikan kita lemah. Tapi, menjadi perempuan yang gampang teralihkan oleh sebuah alasan logis justru menjadikan kita perempuan yang tidak berhati. Kalau saja urusan ini menyangkut negara, tentu logika menjadi first point. Namun ini menyangkut masa depan yang berkaitan dengan setiap jengkal tindakan kita, adakah Selmadena Aqilla berpikir bahwa hati adalah sebuah benda yang sangat fluktuatif. Terbolak balik. Tidak menutup kemungkinan Haqy Rais akan berpikir “Gue nikahin cewek realistis, bro. Besok kalau ada yang nawarin dia lebih baik dari pernikahan gue, kira-kira dia bagaimana ya?”. Hanya sebuah dialog fiksi, cuy. Yakalik..

Lantas, saya tidak sepenuhnya against her at all. Ada beberapa poin yang disampaikan Selmadena Aqilla yang menurut saya memang pantas dijadikan pertimbangan. Misalnya, laki-laki harus serius dan punya timing and goals. Laki-laki harus meyakinkan perempuan untuk bisa bersama dengan dia suka duka, ehm. Laki-laki juga tidak akan membuat perempuan menunggu sesuatu yang tidak pasti. Well, adakah sesuatu yang pasti di muka bumi ini? Oh, dan katanya Selmadena Aqilla “wanita harus menemani dari NOL, harus RELA MENUNGGU” dan jujur saya ngakak. Mbak sendiri, udah nemenin dari NOL dan RELA NUNGGU belom? Lucu loh.. Sumpah! Oh, sorry mungkin Haqy Rais yang dimaksud ya? Ups. Lucu lagi.

Perempuan memang membutuhkan kepastian namun perempuan juga harus tetap memiliki dignity. Perempuan memang berhak menentukan pilihannya, namun jangan sampai pilihan kita mengorbankan yang namanya harga diri.

Bagi saya, Selmadena Aqilla sangat jelas bukanlah inspirasi, namun bukan juga seseorang yang harus dihujat.

Better you chin up, turn, and walk away while crying nobody sees. Instead of complimenting  and puffing yourself in your wishful thinking. Oh you sweetheart, poor you..

PS. Saya menggunakan nama lengkap karena saya merasa tidak memiliki hubungan dekat untuk menulis dengan nama kecil saja. *lebay

Advertisements

One thought on “Hati dan Logika ala Perempuan (Seakan) Realistis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s