Spoil Me with Loyalty, I Can Finance Myself

Kata orang tua dulu, tidak usahlah perempuan banyak kerja di luar rumah. Tinggallah saja di rumah, urus rumah, besarkan anak, dan tentunya layani suami. Tugas perempuan adalah melayani keluarga sebaik mungkin dengan cara tinggal di rumah. Sedangkan tinggal di rumah saja pekerjaan masih keteteran apalagi kerja di luar rumah? Anak siapa yang urus? Suami? Mau kamu suamimu cari perempuan lain?

Denger beginian, sumpah, bikin kuping panas sih awal-awalnya. Namun seiring berjalannya waktu, akhirnya ‘masuk telinga kanan keluar telinga kiri’-pun bisa diaplikasikan. Siapa yang mau ribet pusing dengan kata-kata yang keluar dari mulut orang-orang yang tidak tahu dasar dan rahasia rumah tangga kita? Satisfying society is tiring and endless job, it is never be a pleasant thing to do. Do you want to try? You would end up in a depression, dear.

Masyarakat masih menganggap bahwa yang berhak dilayani dalam keluarga adalah suami. Pelayan? Ya istri. Sesederhana itu. Istri harus bisa membuat suami senang dan menjaga kesenangan itu abadi selamanya jika tidak mau suaminya berpaling ke perempuan lain. Istri juga harus mampu mengerjakan semua kerjaan rumah tangga dengan baik. Kuncinya: wahai perempuan tinggallah di rumah. Please, I’m not against any religious here, especially Islam. I’m a Muslim too. Tapi, ada banyak hal yang jangan agama dipaksakan untuk bisa dijadikan pembenaran. Tidak sesederhana itu, wahai lelaki.

Saya dibesarkan dengan ibu yang bekerja di luar. Menjadi sangat aware dengan perempuan yang bekerja dan membesarkan anak adalah bagian dari kehidupan saya. Bahkan, saya menjadikan hal ini sebagai panutan. Jadi, please once more time don’t easily judge the women out there who are working for a pence to save. Ngana pikir kerja di luar gak capek? Yasudah, tinggal di rumah aja tunggu transferan gaji dari suami. Tuh kan, dapat celah lagi.

Hanya saja, tinggal di rumah pun menjadi sasaran mulut jahat para social media society or netizens. Unfortunately, they are the right ones. Stay at home moms akan tetap menjadi cibiran: ih sarjana kok ilmunya gak dipake buat kerja. Intinya, istri mau kerja atau tinggal di rumah tugasmu adalah menjaga suamimu dari kelihaian mereka mencari kesalahanmu dan membenarkan perselingkuhan.

Zaman palakor (perebut laki orang, they said) ini jika perempuan tidak merawat diri berdandan segala rupa dan melayani suami dengan baik, wushh suami akan berpaling dan pergi ke pelukan perempuan lain. Walaupun kata eyang Elvy Sukaesih suami akan tetap setia dengan gula-gula saja “mana mungkin suamiku pulang ke rumahmu, tanpa kau hidangkan tanpa kau suguhkan gula-gula yang manis”, tapi kan bisa jadi si palakor menyuguhkan ‘gula-gula’ yang lebih manis. Hayo?

Masyarakat telah membentuk pola pikir bahwa ketika ada suami yang meninggalkan istrinya, maka istrinya harus dievaluasi dari A sampai Z. Apakah dia melayani suami dengan baik? Apakah dia berdandan dengan baik? Apakah dia merawat dirinya dengan benar? Tidak ada yang pernah mencoba bertanya kepada si istri seberapa lelah dia melakukan pekerjaan rumah tangga dari pagi sampai malam ketika suami di luar bekerja di kantor yang nyaman? Man, doing housework chores is pain in the neck (and in the back too). Para suami, cobalah cuti sehari saja dan lakukan pekerjaan rumah. Belum lagi jika anak sedang masa aktifnya, mandi pun akan menjadi hal yang luxury bagi si istri. Jadi, masih mau salahkan dia kalau dia menyambutmu pulang kantor tanpa pakai bedak dan bibirnya tidak diolesi gincu murah yang dibelinya dari uang bulanan yang kau transfer? Belum lagi jika badan istri masih melar pasca melahirkan dan masih menyusui. Mana muat tuh lingerie seksi hadiah perkawinan dulu? Masih mau protes? Untung istrimu sabar dan gak bilang ‘mas, mau coba hamil dan melahirkan?’. Para ibu muda masih sedang berusaha menata berantakannya hormon mereka sejak hami. Jadi, be wise lah sedikit kalau tidak bisa hamil dan melahirkan!

Well, fenomena palakor atau the third wheel dan ‘hijrah’ rame-rame sepertinya lagi in banget di Indonesia saat ini. However technically speaking, yang namanya selingkuh alias affairs ya menurut saya bukan hanya ditentukan oleh faktor istri yang tak mampu berdandan cantik, tapi lihatlah dari sisi suami juga. Tendensi menyalahkan perempuan baik istri maupun the third wheel sungguh sangat nahas, why won’t you see from the husband who is in an affair?

Setelah menikah, istri secara otomatis menjadi tanggungan (some other said burden) suami financially. Yes, saya sepakat. Namun, lantas apakah dengan peralihan tersebut si suami menjadi ‘overpower’ atas si istri? Pasti iya, rasa mampu membiayai seseorang akan menempatkan orang itu ke posisi lebih superior. Jika berlebihan tentu rumah tangga akan menjadi organisasi dengan rantai komando dong, bukan lagi musyawarah mufakat. Sepakat?

Dengan mandirinya seorang istri secara finansial, setidaknya memberikan sedikit jaminan keamanan baginya jika si suami mulai macam-macam. Walaupun tentu hal ini tidak diinginkan ya. Misalnya membiayai perempuan lain, ups. Soalnya, ada kasus dimana seorang istri yang memutuskan untuk menjadi full stay at home mom setelah menikah dan akhirnya ditinggalkan suami tanpa apapun. Dia tidak memiliki pekerjaan sejak menikah dan dia telah menikah selama 20 tahun ketika suaminya meninggalkannya. Apa yang dilakukan sang istri? Tidak ada keahlian yang bisa dijadikan modal bekerja, usia yang tidak lagi muda, harta pembagian yang tak seberapa setelah melalui proses panjang perceraian. Belum lagi jika anak masih bergantung secara finansial. Sungguh cobaan yang berat, tapi ini sesungguhnya terjadi di masyarakat kita. Bahwa perempuan adalah secondary class yang tidak memiliki hak lagi atas dirinya setelah menikah.

Tinggal di rumah menjaga anak dan ‘melayani’ suami adalah pilihan seorang perempuan. Either karena lebih ingin menghabiskan waktu dengan si kecil ataupun karena memang tidak mau susah payah stress bekerja di luar. Tergantung mereka. Dan dengan perempuan yang memilih bekerja di luarpun adalah hak mereka. Tentunya dengan seizin suami. Call me old-school but I still believe that I should ask his permission for this kind of decision.

Ada perempuan yang terlahir dari keluarga kaya sehingga dia tak perlu bekerja keras untuk kehidupan yang layak. Ada perempuan yang harus rela tangannya ‘basah’ untuk membantu suaminya menghidupi keluarga. Ada pula perempuan yang dikaruniai suami yang memiliki pekerjaan mapan dan ada pula perempuan yang menjadi satu-satunya pencari penghidupan sehari-hari. Ada.

Namun herannya, ada pula perempuan ‘gatal’ yang tidak tahu diri di luar sana. Mengandalkan kecantikan fisik, kemahiran bertutur kata dan segala macam jurus mumpuni, mereka masih saja mencoba jalan pintas yaitu ‘merebut’ lelaki orang. Terlepas dari apakah si istri telah atau tidak melakukan semua kewajibannya kepada suami dan keluarga, ‘merebut’ bukanlah tindakan yang bisa dibenarkan dong? Siapa sih yang suka kepunyaannya diambil paksa atau diambil diam-diam? Situ rampok atau pencuri?

Sementara di pihak lelaki, menjadi rebutan antara dua perempuan –istri sah dan simpanan- akan memuaskan batinnya. Siapa sih yang ‘kejantanannya’ diperlihatkan semacam ini? Karena bagi sebagian lelaki, bisa menaklukkan banyak perempuan walaupun (atau terlebih jika) telah beristri adalah sebuah prestasi. Prestasi apaan tuh om? Dapet piala apa? Dapet hadiah apa? Eh, dapat duit kah?

Ironis banget. Saya yang saat ini tidak tinggal di Indonesia merasa miris bagaimana sosok perempuan dibentuk sebegitunya. Perempuan digerakkan untuk menjadi saingan satu sama lain. Siapa yang tercantik, siapa yang terlangsing, siapa yang terpintar, siapa yang termodis dan banyak ter-ter lainnya.

Jadi, jangan salahkan jika ada istri yang ingin kerja di luar dan menghasilkan uang sendiri. Minimal tiap bulan ada yang masuk di rekeningnya dan itu bukan transferan dari suami. Dia bisa menghabiskan uang yang dihasilkannya untuk hiburan dirinya sendiri atau hanya sekedar sipping the sweetness of life.

When a man get an A, it doesn’t mean that a woman should get an A too. Equality means that you get things that you need or deserve. But, how to determine what we need or deserve is still a question. Don’t blame a woman who wants to work outside, don’t underestimate woman who dedicates her full time at home. I know women who have degrees and prefer to be a stay at home mother. I know men who encourages their wives to work also. They are all the same. They want the best for their little family and who are we to judge?

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s