Current Status: Ex-Student and Indonesian

Mungkin agak latah ya jadinya tulisan saya ini. Soalnya rada ‘in’ soal kritik non penerima beasiswa ke (alumni) penerima beasiswa atau bahkan sesama penerima beasiswa.

Well, saya adalah alumni penerima beasiswa dari The Scientific and Technological Research Council of Turkey (TÜBİTAK) tahun 2015. Selama dua tahun di Turki, TÜBİTAK adalah penopang hidup finansial saya satu-satunya. Walaupun sempat dibekukan karena alasan full background check pasca percobaan kudeta 2016 lalu, TÜBİTAK tetap menjalankan kewajiban membiayai saya.

Nah, perlu diketahui bersama bahwa dana bulanan yang diterima oleh anak beasiswa macam saya (bukan awardee LPDP) itu amat sangat ngepas. Ketar-ketir kalau-kalau USD menguat terhadap TRY (Turkish Lira) sudah hal biasa. Tunggu beasiswa cair adalah mood of the month banget deh. Saldo yang sisa dua digit yang cukup buat sisa hidup beberapa hari adalah pemandangan yang, fiuh, cukup mengenaskan tiap bulan. Apalagi kejadian luar biasa Juli 2016 kemarin di Turki, beasiswa saya dibekukan untuk waktu yang tidak ditentukan. Mimpi buruk apa yang lebih buruk dari ini (bagi seorang mahasiswa miskin macam saya)?

Belum kalau masalah tugas, walaupun saya kuliahnya di Turki tapi kelas internasional selalu mempunyai keunikan sendiri. Saya, perempuan berjilbab satu-satunya di kelas dan harus sneaking out untuk menunaikan ibadah di luar lingkungan kampus, sudah puas jadi bulan-bulanan warga Turki yang kadang racist-nya kebangetan deh. Pertanyaan seperti where are you coming from? Asia. Asia Tenggara. Indonesia. Indonesia Timur. Makassar. Let alone where Makassar is. Where Indonesia is, Turks mostly don’t know. Belum lagi kalau ditanya, beasiswa apa kamu? Kalau menjawab jujur dari pemerintah Turki, si rakyatnya kadang protes abis-abisan. Kalian itu siapa sih sampai Pemerintah membiayai kalian di sini? Memangnya orang Turki sudah habis sampai tidak ada yang bisa mereka biayai? Well, hamba mana tahu jawaban itu, Mak!

Kemudian muncullah #ShitLPDPAwardeesSay di dunia percuitan. Awal mula sih lucu ya, of course I sense jealousy in there. Silakan merapat ke sana untuk melihat perselisihan yang sesungguhnya. Saya merasa tergelitik untuk menulis karena, yah, merasa terbebani saja sebagai mantan mahasiswa berkewarga negaraan Indonesia yang pernah beberapa tahun di luar negeri. Cuitan itu menjadi luas bagai Samudera Pasifik dan kekejamannya mengalahkan Rahwana. Yes, mereka memperluas hashtag itu ke ranah: semua orang Indonesia yang kuliah di luar negeri. Kampret? Iya. Kalong.

Para netizen mempertanyakan bentuk pengabdian para awardees tersebut. Ah, banyaklah pokoknya dimulai dari awardees yang memilih untuk tinggal di luar negeri dan berkarir di sana, menjadi budak corporate, menjadi Stay At Home Mothers, dan banyak lagi lah. Belum lagi jika mereka sudah menyinggung penggunaan monthly allowance untuk upgrading gadget lah, liburan ke luar negeri tetangga lah, beli designer bags lah, dan masih banyak keanehan lainnya. Di sini, aroma kecemburuan itu semakin menguat. Dengan dalih duit mereka dari Indonesian taxpayers, para netizen berhak menghakimi awardees ini. Maka, bereaksilah para awardees ini dengan: bilang aja lo cemburu karena gak lulus LPDP kan nyet. Lucu kan?

Untuk para netizen, bedakanlah para penerima beasiswa itu: pemerintah Indonesia, pemerintah asing, dan orang tua. Kesamaan kami hanya dua: sama-sama warga negara Indonesia dan mahasiswa. Masalah bagaimana pengelolaan duit bulanan, ya it depends on us. On our rational thought and of course, life style dong! Haha.

Yes. I have my own authority in what and where I spend my money. Whatever the money is, that’s mine not yours. That’s first. Second, the money I’ve got is from the government of the country where I live in. So, how much I spent in this country will be a part of its economy. Third, the scholarship scheme I was in didn’t ask us (the awardees of course) to stay there. It asked us to immediately come back to our own country. Fourth, our research is based on our own interest. There is no issue on how we conduct our research as long as it’s done. Now, see the differences?

Regardless where we study (abroad or not) and which scheme is we are, yang namanya belajar itu berat bo. Our Instagram feed is our dream life. That’s how we, students or ex-students, sip a bit of sweetness that life has offered. Ketika posting foto cantik dikit dikatain: jalan-jalan mulu, banyak duit ya, enak ya di luar negeri, dan sebagainya. Pas upload story lagi di perpus belajar atau presentasi: dibilang pencitraan lah, sok lah, dan sebagainya. Yak! You would never please the society.

However, bentuk pengabdian para awardees itu akan berbeda-beda. Kita hanya bisa memberi kritik atau mengingatkan kewajiban satu sama lain. Urusan mereka memanifestasikan bentuk pengabdiannya, itu bukan urusan kita (saya maksudnya). Kalau mau lebih wah, itu menjadi tanggung jawab mereka dan Tuhan. Janji akan ditagih, bukan?

Well, one of the reason I don’t want to take that scholarship is that I’m not that ready to take those consequences. Saya memiliki bentuk pengabdian bagi Indonesia dengan cara yang berbeda bersama kawan-kawan seperjuangan di Turki kemarin. Mengabdi kepada Indonesia tidak harus menjadi awardee, bukan?

Bagi para awardees yang telah diberikan keberkahan tersebut, jangan terlalu dangkal melihat bagaimana netizen bereaksi. Menjadi mahasiswa pasca sarjana tentu menjadikan kita sedikit lebih wise, kan? You don’t know how we struggle out there, wahai para netizen. Then, sing waras sing ngalah. Sing waras, sing tahu diri. Itu aja.

Advertisements

2 thoughts on “Current Status: Ex-Student and Indonesian

  1. wahhh…akhirnya sampe ke sini juga isu dari negeri twitland, hehe.. Sebenarnya mau ngulas juga, tapi ndak jadi.i Malu, tulisanku jelek dan nanti kena .bullying. Jadi, karena kuliah di Turki itu sulit bin rumit binti ruwet nan njlimet. Belum lagi, ngerasakan langsung menulis Tesis, presentasi, tanya jawab dengan enam dosen penguji dalam bahasa bekas negeri Ottoman (pengalaman personal). Ya, hampir putus asa sih waktu itu! Untungnya, do’a orangtua dan orang-orang terkasih selalu menjemput disetiap pengujung satu dari tujuh (baca: Sabtu, haha) ., akhirnya saya memutuksan untuk mengabdi dengan cara saya sendiri. Berbagi cerita dan menepi sejenak dari riuhnya promosi belajar di luar negeri. Sebab, hanya di sinilah (Indonesia) martabak telor, es pisang ijo, sate ayam, dan ikan asin buatan ibu lebih enak dari kebab dan melankoliknya musim dingin.
    Maaf nih, jadi panjang…hihi..

    Terima kasih sudah berbagi, Amdy! 😀

    Like

    1. Duh bang, soalan kuliah di Turki mah kamu hebat banget deh! Pake defense bahasa tersulit keempat di dunia pula. Salut! One of our golden moments lah ya di sana itu. Support system paling oke dan gak pamrih. Yuhu. Kalau soal promosi belajar di luar negeri, yang jadi pasar banget saat ini, saya juga off kak. Masih belum bisa nanganin konsekuensinya. TS jauh lebih menantang dan bermanfaat. Maunya sih bang udah di Indonesia (buat mengabdi langsung dengan segala kondisi kekinian, termasuk makanan) tapi masih harus merantau dulu. Rindu suasana Makassar.

      Sampai berjumpa, bang.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s