Yang Penting Nikah Dulu, Nduk

Beberapa waktu lalu bermunculan tulisan mengenai betapa pentingnya menikah ketimbang sekolah. Bahwa banyak perempuan cantik di luar sana yang masih ‘nganggur’ karena disinyalir memilah milih laki-laki. Mereka dianggap ‘menunggu’ laki-laki tampan, baik, dan kaya. Karena menolak ‘ikhwan’ yang agak dibawah standar mereka, akhirnya mereka jadi nganggur.

Benar jika cantik saja tidak cukup, agama harus menjadi nomor satu. Namun, standar apakah yang Anda tetapkan untuk agama seseorang? Hijab syar’i kah? Tidak pernah pacaran kah? Rajin ikut kajian kah?

Saya curiga tulisan lelaki-lelaki ‘nyinyir’ ini didasari oleh pengalaman sakit hati ditolak oleh perempuan cantik dan akhirnya menikahi satu perempuan yang menerima dia apa adanya. Jangan salahkan perempuan yang menolak Anda dong. Mereka pun punya standar. Mereka masuk ke dalam preference Anda, tapi Anda tidak masuk preference mereka lantas itu salah mereka? Coba Anda jawab sendiri dengan akal, jangan pakai perasaan dulu.

Lantas, karena ucapan seseorang yang Anda anggap sebagai panutan Anda lalu mengatakan bahwa yang berhak (atau pantas atau seharusnya atau apalah you name it) S2 sebelum menikah adalah lelaki saja. Sementara perempuan apakah harus menikah dulu baru kemudian lanjut S2 jika menikah adalah salah satu impiannya? Karena jika S2 dulu maka lelaki akan mundur perlahan? Situ kenapa? Takut di undangan calon istri bertitel panjang daripada situ?

Tak usahlah Anda pusingkan kenyiyiran perempuan terhadap perempuan lainnya, Anda sudah nyinyir cross gender saja sudah memperlihatkan dimana kelas Anda. Hanya saja banyak hal yang perlu Anda lihat, dari sisi berbeda. Karena saya melihat Anda sebagai lelaki yang hidup dalam insecurity, tapi untunglah (jika) Anda sudah menikah.

Perempuan memilih menikah belakangan bukan berarti dia tidak laku atau asyik pilah pilih dong ya. Jelas selalu ada alasan dibalik sebuah keputusan. Tapi sayang, Anda melihat dari sebuah ego lelaki Anda yang percaya bahwa perempuan ‘tidak laku’ adalah perempuan kelewat pemilih dan tidak dapat dipilih karena overqualified. Kalau sifat natural lelaki tidak mau berada di bawah naungan perempuan, maka sederhana saja… silakan cari yang kualifikasinya berada di bawah Anda. Selesai perkara.

Pernikahan memakan proses yang panjang. Jelas. Saya sendiri menikah setelah mengenal suami saya bertahun-tahun, tidak maulah saya menikah dengan lelaki yang tidak saya kenal baik sebelumya. Tapi, tidak harus Anda menyuruh (atau menyeru) perempuan-perempuan single di luar sana untuk memulai proses pernikahan.

Saya berkawan dengan banyak perempuan luar biasa yang sudah berumur matang menurut rumus usia pernikahan ala orang tua. Namun mereka terlihat bahagia dengan kehidupan mereka. Bahagia dengan pekerjaan mereka dan memilih untuk stay single daripada asal nikah aja. Orang tua mereka baik-baik saja, Anda saja yang jenggotnya terbakar banyak perempuan single and qualified and happy.

Namun sayangnya, mostly masyarakat Indonesia yang ikut kajian tertentu menganggap bahwa golongan perempuan ini adalah golongan ngenes dan perlu disadarkan. Oh come on! Sejak kapan ‘yang penting nikah dulu’ lebih baik dibandingkan stay single, wahai saudaraku? Menetapkan standar bukan hal yang hina, yang mau nikah ya yang milih dong ya? Memangnya hanya lelaki yang punya privilege memilih pasangan hidup? Sementara perempuan hanya diberi kesempatan berkata ‘tidak’ pada 3 lamaran saja dan dilarang menjadi initiator sebuah lamaran?

Anda, sebagai lelaki yang harusnya lebih bijaksana, menjadi sosok yang justru melanggengkan pilihan para perempuan mandiri di luar sana untuk menunda pernikahan jika benar Anda adalah perwakilan para laki-laki yang berpikiran sama.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s