Pelecehan dan Kekerasan Seksual

It’s been a (super) long time and I really need a break from my hard-work-to-keep-me-sane project. 

This topic is a bit taboo, some people said. To me, they are just avoiding something that they couldn’t handle. This isn’t taboo, this is very much important.

Beberapa waktu ini saya membaca banyak sekali berita dan artikel mengenai kekerasan seksual, khususnya perkosaan. Saya percaya kekerasan seksual bisa terjadi dimana saja, terutama di tempat umum. Pertama kali saya mengalami pelecehan seksual di tahun 2012 saat saya menunggui kakak sepupu saya di parkiran salah satu lembaga bimbingan belajar di daerah Toddupuli, Makassar. Tidak lama, ada seorang laki-laki mengendarai motor matic mendekati saya, kiranya dia sedang mencari slot parkir. Rupanya, dia sedang intentionally mendekati saya yang memang saat itu sedang berdiri di samping motor kakak saya. Saya masih ingat, dia mengenakan celana super pendek macam yang digunakan untuk bermain tenis dan dia, dengan bangganya, memperlihatkan penis-nya dan berlalu. Saya? Histeris lah. Kemudian berlari ke dalam gedung. Kedua, saat itu saya sedang berada dalam bus di kota Istanbul di awal tahun 2016. Bus itu mengarah ke Taksim dari daerah Duğmecilar dengan kondisi bus yang agak penuh saya berdiri di bagian tengah yang menurut saya lebih lowong. Di belakang saya, ada seorang lelaki usia 30-an akhir yang mengenakan setelan kerja. Dari perawakannya, dia termasuk lelaki yang ‘baik-baik’ dan penilaian saya terbukti salah ketika dia dengan sengaja menggesekkan tangannya ke bokong saya. Belajar dari pengalaman, saya hanya memandanginya dengan tatapan-“do it again and you’ll be in trouble”terbaik saya. Dia mengalihkan tatapan, berjalan maju ke arah supir dan turun di halte selanjutnya (yang untungnya) kurang dari satu menit. Ketiga, ini adalah pengalaman yang paling tidak saya sangka terjadi yang baru terjadi bulan September 2018 lalu. Saat itu, saya sedang menunaikan ibadah umrah. Ya. Di depan Ka’bah semasa melakukan tawaf, ada seseorang meremas bokong saya. Awalnya, saya menduga ini hanya perasaan saya yang mungkin dikarenakan berdesakan. Namun, lama kelamaan saya merasa yakin ada yang tidak beres. Saya menunggu dan di saat yang tepat, saya mencengkeram pergelangan laki-laki itu. Tepat. Saya melihat langsung di matanya dan laki-laki itu mengenakan pakaian ihram yang artinya dia juga sedang melaksanakan ibadah umrah. Sinting? Sudahlah. Jangan ditanya lagi.

Teman saya ada yang diremas payudaranya oleh pesepeda saat sedang berjalan sendiri pulang ke rumahnya. Ada juga yang sedikit dipaksa seorang dokter kulit ternama di masanya di Makassar untuk memeriksa payudaranya dengan dalih memastikan ada jerawat atau tidak. Ada juga yang sedang jogging di salah satu track di lapangan besar di Makassar, yang saat itu sedang ramai, diperlihatkan penis oleh laki-laki yang juga saat itu sedang jogging. 

Saat saya menerima pelecehan tersebut, saya tidak mengevaluasi diri saya, terutama pakaian saya. Kenapa? Karena saya memakai hijab dan pakaian saya termasuk modest walaupun tidak syar’i kecuali pada saat kejadian ketiga itu, saya memakai pakaian yang super tertutup. Beberapa teman yang saya sebutkan di atas juga, pada saat kejadian, berpakaian modest jika dibandingkan dengan jenis pakaian yang lebih terbuka atau ketat.  Namun, tetap saja saya dan perempuan-perempuan lainnya menerima pelecehan seperti itu. Let alone yang verbal ya!

Kembali lagi ke hebohnya kasus-kasus pelecehan dan kekerasan seksual belakangan ini. Di lingkungan akademik, dimana kita saya beranggapan bahwa level intelektualitas seseorang lebih tinggi dibanding orang-orang di jalanan, kasus semacam ini akan minim atau justru tidak terjadi. Namun, sekali lagi saya salah. Apa yang menimpa Agni dan seluruh mahasiswi di Indonesia adalah bukti nyata bahwa edukasi seksual adalah hal yang amat sangat penting. Silakan baca di tautan berikut, tulisan dari Tirto.id ini bisa membuat Anda cukup emosi.

Apa yang membuat saya cukup emosi adalah bagaimana konstruksi sosial yang mewajibkan adanya victim blaming sebelum menghakimi si pelaku. The way she dressed and behaved. Saya bukan mendukung barisan perempuan yang menolak berhijab di luar sana, yang unfortunately menjadi korban pelecehan dan kekerasan seksual. Tidak sama sekali. Saya hanya tidak setuju jika pelecehan dan kekerasan seksual dijadikan barometer evaluasi cara perempuan berprilaku dan berpakaian. Hello?

Sudah seharusnya kita, para warga Indonesia, menyadari bahwa permasalahan utama dalam kasus semacam ini adalah kurangnya empati terhadap korban. Apa nilai kemanusiaan kita sudah tergerus habis? Ini perempuan loh, seorang manusia yang hidup dan bernafas seperti kita. Dia memiliki vagina yang tidak seenaknya saja bisa dipenetrasi oleh kaum berjakun saat mereka horny. Lantas muncullah sebuah pertanyaan yang amat sangat menjijikkan, lo pake baju yang bener lah gue horny lo mau tanggung jawab?

Saya, yang berhijab ini, masih saja menerima pelecehan seksual. Jadi, anggapan bahwa yang perlu diperbaiki adalah cara berpakaian adalah salah. Sangat salah. Edukasilah anak lelaki Anda sekalian untuk menghargai perempuan sebagai sesama makhluk hidup. Tidak usahlah mention bagaimana para penegak hukum condong untuk mengerdilkan korban agar semua proses hukum cepat berakhir. Belum lagi salah satu solusi yang ditawarkan adalah mempertemukan korban dan pelaku, yha! Emosi gue. Lo pikir ini masalah sengketa laha? Jual beli apartemen? Sekali-kali, nalarnya dipake ya.

Kalau berbicara soal ini, saya memang agak emosional. Hal ini yang membuat saya yakin bahwa edukasi mengenai perilaku seksual adalah hal yang paling penting sama seperti edukasi finansial dan survival life skill. Jika saja mungkin saya berada di Indonesia dengan lingkungan yang sangat kurang supportif, saya memiliki dua pilihan: menjadi semakin apatis atau justru gila sendiri. Pada akhirnya, saya memilih untuk paling tidak mengemukakan hal ini kepada orang terdekat saya dan berusaha agar keluarga dan teman perempuan-perempuan saya untuk stay alert dan berani speak up. Little actions speak more than doing nothing, for sure.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s