Indonesia Tanpa Feminis

Hello, been a while (as always).

Sudah pada tahu kan soal gerakan yang ingin menghapuskan feminisme di teritori Indonesia yang memiliki lebih dari 17,000 pulau ini? Yep. Sebuah kampanye online melalui platform Instagram yang meresmikan diri belakangan ini. Kampanye yang menurut saya pribadi adalah sebuah tindakan konyol. Yak, konyol. Mengapa? It’s just like, against feminism in a feminist way. Yha!

Saya yakin kalian sudah tahu juga tentang feminisme dan gerakan-gerakannya di Indonesia dan muka bumi ini. Mari kita bahas saja, kira-kira apa yang akan terjadi pada Indonesia tanpa feminisme.

Tidak akan ada pendidikan bagi perempuan.

Mengapa? Karena bagi kaum patriarki, perempuan ujung-ujungnya akan bekerja di rumah: mengurus suami dan anak. Iya. Ngapain sekolah kalau begitu? Lebih baik ikut pelatihan masak, mengurus suami dan sebagainya. Perempuan tidak berhak bercita-cita. Hak mengenyam pendidikan itu milik laki-laki karena hanya laki-laki yang akan bekerja. Jika perempuan terdidik dan bekerja, maka akan jadi saingan laki-laki dong. Jadi, lebih baik perempuan di rumah saja dan menyiapkan diri menjadi pekerja domestik yang baik. Akhirnya, kemajuan dan pengembangan diri hanya dimiliki oleh kaum laki-laki. Muncullah superiorityatas perempuan‘nih gue berpendidikan dan berpenghasilan’, maka mendominasilah mereka seenak jidat berkelakuan terhadap perempuan. Praktek ini telah berjalan ratusan tahun dan tetap merugikan satu kaum saja: perempuan. Karena menjadi subordinate sudah biasa, sudah tahu rasanya gimana, maka perempuan mau naik untuk setara dari titik bawah ini. Tapi kalau akses ke pendidikan malah tidak ada, dihalangi dan dihapuskan, bagaimana bisa perempuan di Indonesia maju? Modal yang paling penting bagi seorang manusia (bukan jenis kelamin) adalah pendidikan. Titik.

 

Tidak akan ada pekerjaan bagi perempuan kecuali pekerjaan domestik di rumah.

Yep. Tanpa gaji pula. Seperti poin di atas, tanpa pendidikan dan keahlian,how could you apply for a job outside there? Ujung-ujungnya ya pekerjaan domestik yang bagi lelaki adalah pekerjaan perempuan, ketika dilakukan oleh laki-laki, itu akan merusak harga diri mereka. Menikahi perempuan sama halnya menikahi asisten rumah tangga,nanny,guru les anak, koki, tukang cuci, dokter anak (dan umum), perawat dan peran penting lainnya. Tugas laki-laki adalah pergi kerja pagi-pagi untuk cari uang. Maunya ketika pulang sore: istri harus cantik, rumah harus rapih, makanan harus siap dan anak harus bersih. Oh iya, dan sebanyak apapun penghasilan suami (yang kadang tidak masuk akal), istri harus cukupkan dengan cara apapun dan suami tidak mau peduli. Intinya segitu harus cukup. Yha!Plus,istri jangan kerja ya. Di rumah aja. Gini aja terus. Suami tiba-tiba tidak bisa kerja atau jatuhin cerai, istri yang harus banting tulang gantian. Plus pekerjaan 24 jam di rumah. Gimana caranya kalau sejak menikah sudah dilarang kerja, resume kosong. Untung baik kalau ada gelar sarjana, masih bisa coba melamar kerja dimana lah. Tapi kalau career break udah belasan tahun, mau buka usaha kecil-kecilan di rumah bisa kalau ada modal. Kalau tidak? Siapa yang rugi kalau sudah kayak gini?

 

Tidak akan ada kemudahan bagi perempuan di publik.

Contohnya saja, ruang laktasi di kantor dan mall. Tanpa pertimbangan mengenai hak perempuan, kebijakan pengadaan fasilitas semacam ini tidak akan kalian rasakan, para ukhti. Sebagai seorang emak yang sangat pro menyusui sampai usia anak 2 tahun, saya adalah orang yang sangat bersyukur dengan adanya ruang laktasi semacam ini di tempat umum. Bisa bayangkan harus menyusui dengan kemungkinan payudara kelihatan orang lain? Ingin memiliki rasa aman dan nyaman adalah hak segala orang kan? Beda halnya kali ya kalau yang harus menyusui adalah kaum berjakun, mereka pasti sudah memiliki ruang laktasi sejak muka bumi ini terbentuk.

 

Kekerasan domestik terhadap perempuan dan victim blamingakan menjadi hal yang wajar.

Mengapa? Karena bagi sebagian tradisi dan dalam Islam sendiri ada aturan bagi lelaki untuk memukuli istrinya jika dinilai melakukan kesalahan. Tapi Islam bukanlah agama yang kasar dan jahat, pemeluknya saja yang tidak berilmu cukup untuk bisa mengaplikasikan hal ini. Sehingga banyak alasan mengapa perempuan bisa menjadi objek kekerasan domestik dan masyarakat seakan oke-oke saja. Selain dianggap rendah dan lemah, yang secara alami adalah korban empuk, perempuan tidak berhak melawan suami atau ayahnya karena mereka adalah bagian dari ‘tanggung jawab’ para lelaki (kasar) itu. Sangat mudah bagi perempuan dalam keluarga untuk dianggap melakukan kesalahan. Banyak sekali contohnya yang tidak bisa saya paparkan di sini. Namun tanpa gerakan feminisme, perempuan akan selamanya menjadi objek. Belum lagi jika kita bahas, victim blaming kepada perempuan (sebagai korban) akibat dari konstruksi sosial yang telah mengakar lama dan sulit dihilangkan. Kasus pelecehan seksual, perkosaan, pembunuhan, post partum syndrome dan lain sebagainya, adalah contoh kecil dimana perempuan yang menjadi korban sekaligus pihak yang wajib disalahkan. Kan kesel ya?

Oke, mari kita coba bandingkan dengan Arab Saudi, well saya sekarang berdomisili di sini. Di sebuah compound yang dibuat bagi expatriates dan tidak menerapkan hukum Syariah. Tapi ya tetap saja ada hal yang terkontaminasi dan terkulturasi dengan budaya Arab pada dasarnya. Saya cukup gemes dengan pembanding kalian digunakan, ukhtiku. Ya kan kalau mau membandingkan output yang berbeda, at least harus ada kesamaan input factor entah itu lokasi atau waktu. Masa iya sih membandingkan Indonesia sekarang dengan Arab Saudi zaman Nabi Muhammad SAW? Ya kalau mau mencoba lebih adil (dan sedikit ilmiah) bandingkan lah Indonesia sekarang dan Arab Saudi sekarang, atau Indonesia dulu dan Arab Saudi dulu. Tapi, karena saya lagi tidak mau bahas sejarah dan sepertinya saya bisa memberikan sedikit insights mengenai kehidupan perempuan pada dasarnya di sini.

  1. Perempuan Saudi tidak bekerja, tidak mau dan/atau tidak perlu bekerja, kalaupun ada sangat kurang. Mengapa? Karena mereka dimanjakan dengan gaji suami mereka. Mereka berkecukupan. Gaji yang kalau kalian bandingkan dengan perempuan cleaning service, yang sampai pensiunpun tidak akan dapat setengah dari gaji bulanan pegawai negeri sipil Saudi. Iya, mereka tajir melintir. Tak bekerjapun, mereka dapat duit dari pemerintah atau mereka kebanyakan buka toko. Tokonya cuman atas nama mereka, karena yang ngurus ya orang-orang impor alias pekerja migran. Ibarat kata, ya penghasilan pasif. Kenapa? Karena orang asing tidak bisa buka toko di sini. Semuanya harus atas nama orang Saudi. Beda hal kalau orang Saudi bekerja sebagai employee, gajinya bisa 2x lebih dari expatlain dengan posisi yang sama. Perempuan di sini tidak perlu memerah keringat untuk bisa hidup dengan privilege yang bagi kebanyakan rakyat Indonesia harus diusahakan, jika tidak mau terbelakang sampai ke generasi selanjutnya.
  2. Ketika menikah, perempuan di sini (yang kalian klaim adalah kiblat arah gerakan kalian) disiapkan mahar minimal sebanyak/senilai 100 unta. Ya, silakan hitung sendiri setajir apa mereka dan yang paling penting adalah: menyediakan asisten rumah tangga. Iya, si mbok-mbak perempuan Indonesia kita yang rela bekerja jauh ke sini dan meninggalkan keluarga demi menghidupi generasinya agar tidak seperti mereka, agar generasinya bisa menyesap keberhasilan dan kemudahan. Kalian harus tahu, asisten rumah tangga adalah hal wajib yang disiapkan oleh calon suami mereka jika hendak meminang gadis Saudi? Nah, bisa bayangkan hidup gadis Saudi ini pasca menikah? Bak ratu. Tugas mereka hanyalah mempercantik diri dan memperbaiki hubungan silaturrahmi dengan keluarga lain. Apa-apa urusan domestik dan anak ya minta Mbok, suruh Mbak. Sementara perempuan di Indonesia masih banyak yang harus membantu ekonomi keluarga demi kehidupan yang telah kalian punyai, wahai ukhtiku. Jika dasar dari segalanya adalah pendidikan yang layak tega kalian hilangkan, kapan perempuan kita akan maju? Yang ada kita jalan mundur kan, shay?
  3. Perempuan tidak dibolehkan menyetir, barusan saja aturan ini dihilangkan. Kenapa? Karena mereka dimanjakan dengan supir jika suami/ayah mereka tidak bisa mengantarkan mereka. Tidak ada bus, karena mereka terbiasa hidup dengan privasi Dimana-mana naik taksi lebih enak kan dari naik omprengan? Apakah perempuan di Indonesia seberuntung mereka? Tidak, cyin. Mereka harus rela naik angkot, ojek dan bahkan jalan kaki demi menempuh pendidikan dan menjalani pekerjaan mereka. Larangan menyetir bagi perempuan ini juga dihilangkan demi mengurangi pekerja asing karena hampir semua supir di sini adalah pekerja migran. FYI, visi 2030 Saudi adalah Saudi tanpa orang asing. Jadi, perlahan mereka tidak lagi memanjakan perempuannya minimal dalam berkendara. Saudi aja sudah berpikir maju, mau perempuannya mandiri. Lah? Masa uktiku yang berpendidikan ini pengen mundur sih?
  4. Perempuan dihormati di lingkungan kerja. Jika ada perempuan yang bekerja, mereka diberikan spacesendiri yang tidak bersinggungan dengan teman kerja mereka yang berjenis kelamin lelaki. Nah? Di Indonesia, apakah hal ini ada? Tentu tidak, ukhtiku. Yang ada, perempuan di lingkungan kerja sangat rentan sama yang namanya demoralisasi dan dominasi patriarki. Rajin gooling ya ukhti, dan perbanyak iqra’ kasus di Indonesia semengerikan apa orang bisa mensabotase karir seorang perempuan. Di sini saya diwanti-wanti oleh First Aid at Work trainer saya, “always ask consent to the one whom you’d like to help. If he is unconscious, ask his guardian. If his guardian is absent, then you couldn’t do anything but call 911. Even you’re trained, don’t ever put yourself into a could-be-messy-and-worse situation. Don’t forget that you’re in Saudi Arabia.” Hal ini memperjelas bahwa di sini, bersentuhan mahram saja sangat haram bahkan untuk pertolongan pertama yang adalah bertujuan ‘saving a life’. Sementara di Indonesia, tubuh perempuan adalah milik semua orang. Seenak jidat dicolek, dipandang, dihina, di-, di- lainnya. Iyuwh!
  5. Perempuan diharuskan mengenakan abaya. Itu loh, semacam jubah panjang dan warnanya mostly Mengapa hitam? Konon katanya, itu menyamarkan bentuk badan dan membuat mereka lebih langsing. Iya saya paham, di negara panas ini warna hitam tentu menyengat, bukan? Tapi, jangan lupa. Mereka tidak berlama-lama di bawah terik matahari untuk menjual koran, menjajakan dagangan atau mendorong gerobak kaki lima. Mereka bahkan tidak berjalan kaki pulang kuliah, pergi kerja atau jajan ke warung. Mereka pakai mobil berpendingin yang lengkap dengan supir. Mereka tidak menunggu di halte, mereka menunggu di lobby atau ruang tunggu berpendingin. Jadi, abaya hitam itu bukan masalah bagi mereka. Oh iya, menyoal niqab. Kadang mereka memakai niqab ya karena alasan praktis: lagi tidak make up-an, shay. Tidak tau kah kalian bahwa Sephora di Saudi itu ramainya kann maen? Mereka itu make up junkies, kalau boleh saya kasih informasi tambahan. Lihat kuku mereka yang cantik dan kulit tangan yang halus kayak pantat bayi. Ya karena tidak pernah kerja keras di luar rumah, cuci piring aja tidak, shay. Ogah doi mah.
  6. Selanjutnya mari kita bahas mengenai poligami di sini. *drumroll* yihaa. Di sini, lelaki berhak menikahi maksimal 4 perempuan. Hukum Saudi memperbolehkan, tertulis. Laki-laki di Saudi berhak berhaji 5 tahun berturut-turut jika mereka memiliki 4 istri yang berhaji di tahun-tahun berbeda ditambah hak mereka berhaji sendirian. Sementara perempuan dan laki-laki single hanya boleh berhaji 1 kali dalam 5 tahun. Jadi jumlah berhaji yang dibolehkan adalah sebanyak jumlah istri yang dimiliki oleh seorang laki-laki, dengan alasan sebagai mahram yang menemani. Banyak kok, teman saya yang berniat menikah lagi setelah punya satu istri. Syaratnya? Ya sama. Seperti menikah pertama kali. Semua disiapkan. Sama persis. Rumah juga, tentunya. Intinya, financially secured lah ya. Alasannya? Praktek poligami di sini sungguh adalah sebuah tradisi. Murni tradisi. Karena bapaknya, pamannya, kakeknya, bapak kakeknya, kakek kakeknya dan tarikan silsilah keluarga ke mereka dari atas, melakukan poligami. Tradisi yang bagi sebagian perempuan Saudi sudah tidak relevan lagi dengan kehidupan mereka. Tradisi yang bagi mereka adalah sebuah ketidak adilan, yang akan mereka hapuskan Nah, bagi laki-laki Saudi yang mengenyam pendidikan tinggi di luar Saudi dan kecipratan (atau keguyur) budaya Barat dalam hal relationship mereka tidak lagi berfokus bagaimana memperbanyak istri tapi meningkatkan kualitas hubungan mereka. Hard to admit, but they are a family man. Walaupun kadang songongnya tidak ketulungan ya. Oh iya, dan yang berpoligami itu bukan golongan relijius loh ya. Bukan ustad dan imam dan apalah, you name it dan mengatas namakan ajaran Islam, tapi laki-laki berwarga negara Saudi yang masih memegang tradisi beristri ganda. So, bandingkanlah dengan kasus poligami di Indosia. Silakan beropini sendiri.

Ternyata tulisan saya kali ini agak panjang ya? Semata semuanya karena gemas belaka. Sebuah gerakan kampanye online yang menginginkan kemunduran bagi kaum perempuan justru dilakukan oleh kaum perempuan itu sendiri. (Mungkin) kurangnya membaca, mengkaji lebih luas dan dalam mengenai isu feminisme, menjadikan kalian wahai ukhti dan perempuan-perempuan lainnya narrow-minded dan mengatas namakan Islam sebagai anak panah untuk membenci para feminis yang berjuang bagi kalian. Privilegesyang kalian dapatkan saat ini justru adalah hasil jerih payah pendahulu kita yang memperjuangkan bagaimana perempuan bisa setara dan maju. Iya Islam memang memuliakan perempuan, namun pada prakteknya di Indonesia kemuliaan itu masih sangat jauh. Memurnikan ajaran Islam bukan semata-mata hanya berbentuk kontekstual yang berdasar pada kata dan literasi semata. Ada konten substansial yang perlu kita semua baca dan dalami. Saya pun masih membaca dan belajar. Jangan terpana oleh sejarah masa lalu yang mungkin sangat tidak relevan dengan kondisi kita saat ini. Kita semua bisa melek huruf dan angka saat ini saja adalah hasil perjuangan para feminis (yang saat itu tidak meminta balasan) tanpa kenal lelah.

Feminisme tidak berniat menghapuskan sebuah budaya atau tradisi jika tradisi itu memuliakan perempuan. Feminisme membengkokkan outlook kita sebagai perempuan dan bagaimana perempuan harus dihargai oleh tradisi. Cara pandang dan bentuk perjuangan kita mungkin berbeda, namun tujuan kita sama: setara. Kenapa? Ya karena selama ini kita tidak setara alias selalu di bawah. Susah memang jika meta bahasa kita berbeda, ukhtiku. Namun satu yang perlu kalian tahu bahwa jika kita perempuan saat ini telah mulia, maka gerakan yang kalian ingin hapus saat ini tidak akan ada. Ingat, cara kita mungkin berbeda dan feminisme mungkin tidak disebutkan dalam Al-Quran. Yet the very core of feminism itself is proposing equality for us, women. If you don’t want to be equal and only desire to live like in the past our ancestors had, then it’s your choice to Benjamin Button-ing then.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s