Senja dan Kenangan

Saya selalu suka ketika matahari beranjak ke belahan bumi sebelah: magical golden hour. Iya. Senja selalu berhasil membawa satu atau dua kenangan tertentu yang enak saja dia munculkan. Saya belum menemukan satu kata tepat untuk menggambarkan perasaan saya ketika kenangan-kenangan itu muncul. Sedih? Tentu bukan. Senang? Tidak juga. Kecewa? Bukan juga. Gembira? Hmm. Tidak.

Mungkin lebih tepatnya adalah penggabungan antara semua jenis perasaan itu. Hal yang selalu mengunggah rasa ingin dan tidak. Saya juga heran, mengapa saat senja? Apakah ingatan saya lebih tajam di saat itu? Atau, alam memberi satu kesempatan bagi saya di waktu ini untuk kembali ke tahun-tahun lalu dimana masih ada memori tersimpan jelas? Entahlah. Saya hanya ingin menikmati senja dan kenangan yang dibawanya.

Ada rasa hampa. Iya. Mungkin jenis perasaan ini lebih mendominasi struktur segala rasa itu. Semacam ada lubang yang harus diisi dan dipenuhi. Tapi dengan apa? Dengan membiarkannya terisi oleh kenangan bawaan senja itu? Dengan mencoba merasakan kembali perasaan yang tercipta saat kejadian itu dulu? Atau dengan menikmatinya bersama kehampaan?

Ah, dan satu lagi. Kesadaran bahwa kenangan itu –yang adalah sebuah anugrah dimana kita pernah hidup di masa lalu– tidak akan bisa kembali membuat perasaan hampa itu semakin jelas. Sama seperti hujan yang kata orang-orang bisa membangkitkan satu rasa dan kenangan tidak indah, mungkin bagi saya hujan itu senja. Bedanya, senja bisa membangkitkan kenangan dan rasa hangat bahwa saya pernah merasakan satu kejadian dimana saya tidak menyesal pernah memiliki itu.

Dan oh, cuplikan kenangan yang muncul itu pasti acak. Dari tahun 1990-an sampai hari kemarin dengan orang yang berbeda, lokasi berbeda namun dengan suasana yang mirip: senja. Ah sudahlah, mungkin saya hanya sedang bernostalgia dengan beberapa kenangan yang masih bisa diingat oleh otak saya ini. Karena hanya ingatan yang bisa membawa saya menjelajah kembali ke masa-masa dulu kepada sebuah rasa hampa dan hangat yang belum terdefinisikan oleh sebuah meta bahasa. Kepada sebuah gabungan perasaan yang ingin dan tidak ingin. Iya, rasa jengah dan jenuh di present time ini menjadi pemicu mengingat senja dan anak buahnya. Senja yang selalu menjadi saat kesukaan saya; entah untuk dinikmati bersama dengan teh hangat dan keluarga, ataupun sendiri dengan flashback singkat ke masa lalu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s