Pengakuan dan Validasi

It’s been (again) a while.

Ditemani es kopi dan playlist yang mood booster disertai suasana gloomy Saudi hari ini, saya ingin ‘berbincang’ mengenai dua tipe orang yang saya dikotomikan. Nah, kali ini izinkan saya mendiskusikan satu aspek penting dalam diri kita sebagai Homo Sapiens yang relations-oriented. Pengakuan.

Iya. Menurut Barth, pengakuan diperlukan oleh manusia sebagai bentuk nafas bagi kesehatan psikologi sama seperti oksigen bagi tubuh fisik kita. Hanya saja, ada perasaan lain yang mengekor; narcissism yang menuntut adanya perhatian dan pengakuan seberapa hebatnya kita (dibanding orang lain). Barth mengelaborasi bahwa narcissism ini sehat selama kita mengakui kebutuhan ‘narsis’ orang lain. Entahlah. Sepertinya sulit diaplikasikan jika fokus atas diri kita sendiri bisa membutakan. Seeing others’ achievements only to overlook it or even to beat it. So again, the focus is only on themselves.

Saya sendiri melihat orang tipe yang dijelaskan oleh Barth di atas adalah tipe ‘Me People’ dimana ada kebutuhan yang continuous untuk memancing pujian dan pengakuan dari orang lain atas apa yang dilakukan, dikenakan atau dimilikinya. It is okay. Really. It is. Compliments and validations are basic psychological needs and I couldn’t imagine how life is with people taking you for granted. Hanya saja, fokus terhadap pemenuhan kebutuhan ini sungguhlah costly. Terkadang bagi ‘You People’ seperti saya, it is just emotionally-draining. Belum jika menghitung jumlah exact amount of money untuk mendapatkan pujian atas materi yang kita lekatkan pada self-branding kita, maka bagi saya itu adalah sebuah hal yang sungguh not-so-worth-doing. Atau waktu dan usaha yang kita investasikan untuk melampaui pencapaian orang lain yang bisa kita lakukan juga hanya untuk pemenuhan kebutuhan atas pengakuan dan validasi.

Pertanyaannya? 

Apakah saya mengenakan barang bermerk? Well, yes. One or two. 

Apakah itu worth-spending? Well, again. Yes. I made myself money, I would like to buy myself, sipping a bit of sweetness of life. But then, it’s not because I’d like to be seen with these things. It’s just a self-treat. Let me assure you, you wouldn’t find anything on my Instagram, Twitter or Facebook page anything about how I’d like to be labelled.

Apakah saya senang jika dipuji orang lain atas barang yang saya miliki? Well, no. I feel cringey as f. To be honest, just please let me alone. The last thing I want when putting my make up on (in a very very rare occasion) or wearing my best clothes and shoes is to be admired (or complimented). That’s why I, seldomly, give much compliments for others. It is not because they don’t deserve it, it is just me thinking not everyone liked to be complimented principally if I seem not so sincere. Then I choose to not to.

Lantas, apa yang membuat saya ‘full’ akan nafas psikologi ala Berth? If I am to choose what defines this much, I’d answer the Divergent’s Abnegation faction is the perfect definition. I find satisfaction when I hear ‘thank you’ from others. Not that I depend on ‘thank you’ for doing everything. It just tops off my feeling afterwards, crossing out my weariness. It doesn’t really matter to me what people think of my look, or my belongings. Helping people and seeing their relief makes me ‘high’ and it is just addictive. When they thank me, it makes me a good day just to think that I make their day. 

Kembali ke topik di atas, bahwa ada validasi yang diinginkan oleh tipe ‘Me People’ ini. Mengapa mereka membutuhkan validasi dan pengakuan? Karena mereka memiliki self-esteemyang hanya bisa dibangun oleh, ya itu tadi, validasi dan pengakuan dari orang lain. Saya percaya bahwa tipe orang seperti ini merasa memiliki kepercayaan diri yang kurang. Jika saja mereka berpikir bahwa apa yang mereka lakukan, apa yang mereka kenakan atau apa yang mereka punya sudah lebih dari cukup (dan berhenti membandingkan dengan orang lain), tentunya mereka tidak akan fishing for compliments and validations (from others). 

Satu hal yang saya pahami dari tipe seperti ini bahwa mereka terlalu ‘keras’ bagi diri mereka. It is so hard for them to give themselves a ‘don’t-try-so-hard-to-impress-others’ notion in a sense of seeking for compliments and they feel full after.Mereka adalah orang yang berjuang dengan insecurity, anxiety of life-changing situation or other reasons I couldn’t think of for now. Sehingga mereka fokus hanya kepada diri mereka sendiri dan salah satu jawaban (atau jalan pintas) adalah mendapat pengakuan dan validasi dari orang lain. Jadilah mereka attention seekers, compliments fisher or you name it. Kita juga harus melihat sejarah masa lalu, apakah mereka tumbuh berkembang dengan kritik atau pujian. Family history yang dipenuhi dengan kritik (mungkin dengan tujuan agar mereka lebih kompetitif) bisa menjadi salah satu faktor pembentuk sebuah pribadi yang ‘Me People’ ini. Atau justru karena selalu diberikan pujian, maka validasi dan pengakuan adalah hal tak terpisahkan dari diri mereka. Sehingga, mereka membutuhkan hal itu untuk bernafas. Sementara di lain sisi, it is so damn crucial for me to value myself and validate what I am doing,sehingga saya bisa move on ke hal penting lainnya seperti membantu dan bermanfaat bagi orang lain dengan segala keterbatasan dan anxieties. Cukup bagi saya pengakuan yang datang dari diri saya sendiri. 

Saya berterima kasih kepada orang tua saya yang mendidik saya seperti ini. Saya beruntung menjadi anak yang tidak ‘mendendam’ dan memendam penyesalan kenapa ini kenapa itu kepada orang tua saya. Tugas saya selanjutnya adalah memastikan anak saya kelak bisa memvalidasi dirinya sendiri dan tidak bergantung kepada orang lain untuk membangun apalagi membiarkan orang lain menghancurkan kepercayaan dirinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s