Perjuangan dan Uang Pannai’

Ambil teh dan pisang gorengmu, mari bicara Uang Pannai’!

Where do I start?

Okay, mari kita mulai dengan definisi yang sesungguhnya dari Uang Pannai’ ini. Banyak orang (bukan orang Bugis dan Makassar) yang salah memahami sebenarnya tujuan pemberian uang ini. Iya, Uang Pannai’ bukanlah mahar yang dalam Islam kita pahami sebagai kewajiban calon pengantin laki-laki yang diserahkan kepada calon pengantin perempuan (sesuai dengan keinginan calon perempuan ini). Bukan. Jadi “lain Mahar, lain pula Uang Pannai’”. Uang Pannai’ adalah sejumlah uang yang diserahkan pihak laki-laki kepada pihak perempuan setelah resmi melamar. Nah pertanyaannya kemudian? Untuk apa uang ini? Akan digunakan untuk apa? Berapakah jumlah wajibnya? Hitungannya bagaimana?

Well, bersiaplah!

Bagi sebagian keluarga, uang ini melambangkan seberapa ‘berharga’ anak perempuan mereka. Jangan kaget jika jumlah Uang Pannai’ ini bisa berjumlah ratusan juta bahkan menyentuh angka milyar. Mari kita contohkan satu anak perempuan yang baru saja dilantik menjadi dokter atau menyelesaikan magister di luar negeri. Kebetulan, perempuan ini adalah anak seorang pejabat atau professor. Kebetulan lagi, dia adalah anak tunggal. Tambah satu lagi kebetulan, bapaknya adalah seorang pemuka adat yang disegani. Kira-kira berapakah Uang Pannai’nya? Apakah sama dengan anak perempuan yang baru lulus SMA yang lahir di keluarga biasa saja dimana bapaknya adalah pedagang kain di pasar? Jelas beda (bagi orang Bugis Makassar). ‘Harga’ perempuan pertama jelas berbeda dengan ‘harga’ perempuan kedua. Kenapa? Ya karena strata pendidikan dan status keluarga yang berbeda. Sehingga ya itu, gengsinya beda.

Uang Pannai’ ini juga melambangkan seberapa ‘mapan’ laki-laki yang hendak melamar ini. Jika seorang laki-laki (dibantu oleh keluarganya atau tidak) bisa menyiapkan sejumlah Uang Pannai’ sesuai dengan permintaan pihak perempuan (setelah nawar atau tidak), maka laki-laki ini dianggap mampu dan boleh mempersunting calonnya. Tapi bermodal Uang Pannai’ besar tidak lantas membuat seorang laki-laki diterima lamarannya loh ya. Tetap ada faktor x lainnya seperti pekerjaan tetapnya, latar belakang pendidikan, status sosial keluarganya termasuk suku apa dia dan beberapa alasan lainnya yang belum terpikirkan. Ngg, tapi beberapa keluarga perempuan rela menikahkan anaknya kepada laki-laki tua kaya atau duda karena diberikan Uang Pannai’ yang banyak sih. Sedih.

Nah, kemudian Uang Pannai’ ini diapakan jika sudah diterima oleh keluarga perempuan? Uang Pannai’ inilah kemudian digunakan oleh pihak perempuan menyelenggarakan pesta pernikahan yang sesuai dengan keinginan mereka. Lah? Pihak laki-laki gimana dong? Dobel dong kalau mau bikin resepsi juga? Sayangnya, untuk kebanyakan kasus: iya. Jadi, bisa dibayangkan semahal apa jika hendak menikah di Sulawesi Selatan bagi seorang laki-laki? Ini belum menyentuh ranah mahar dan seserahan loh. Memang butuh kalkulator dan Excel Sheet biar gak salah perhitungan dan cost effective ala orang Bugis.

Jadi jelas di sini jika Uang Pannai’ itu sebenarnya bertujuan memenuhi gengsi keluarga perempuan yang diberikan ataupun laki-laki yang memberikan. Semakin mahal, semakin keren. Uang Pannai’ ini tidak akan pernah cukup mengcover pengeluaran pesta yang ditujukan untuk menarik perhatian dan decak kagum. Saya tidak heran ada utang setelah resepsi yang harus dilunasi oleh pasangan baru ini (atau keluarganya). Orang Bugis kebanyakan, jor-joran kalau urusan pesta pernikahan. Jangan heran jika pesta pernikahan adalah ajang pamer apa saja yang melekat pada diri seseorang. Sejujurnya, ini adalah budayayang sangatlah toxic. Tidak melulu mengenai gengsi. Ada kehidupan nyata setelah resepsi pernikahan.Sayangnya juga, mereka lupa kalau generasi sekarang adalah generasi pacalla alias julid. Sesempurna apapun resepsimu, akan ada celaan. Percayalah, Marina!

Sebenarnya sejarah Uang Pannai’ ada beberapa versi, salah satunya dimulai sejak masa pendudukan Belanda dimana banyak gadis Bugis yang dilamar dan dijadikan isteri oleh para serdadu Belanda. Para gadis ini kemudian ditinggalkan setelah pendudukan atau jatah tinggal mereka habis. Sehingga para keluarga perempuan yang ‘tidak enakan’ ini menetapkan jumlah Uang Pannai’ yang tinggi agar anak mereka sulit dipersunting oleh serdadu asing ini. Ada juga versi yang mengatakan bahwa Uang Pannai’ adalah bagimana mengukur kesiapan laki-laki untuk menghidupi istri dan anaknya kelak setelah menikah. Jadi, untuk menikah dengan bermodalkan cinta saja bagi para tetua Bugis tidaklah cukup. Seorang laki-laki harus memiliki ‘materi’ yang dianggap cukup membuat dapur rumahnya mengepul. Diciptakanlah Uang Pannai’ ini supaya perempuan Bugis tidak langsung terjerat puisi cinta laki-laki hidung belang di masanya dulu. Nah? Saat ini terjadilah sebuah bias atau pergeseran makna. Bahwa Uang Pannai’ tidak lagi adalah sebuah perlindungan atas kehidupan perempuan setelah jadi istri, melainkan ajang pertarungan gengsi orang tua atas anak mereka.

Tidak sedikit yang gagal menikah karena hal ini. Tidak sedikit yang gagal meminang gadis Bugis dan mengarahkan pandangan pada gadis dari suku lain. Tidak sedikit memilih gadis yang lebih ‘affordable’ untuk dinikahi walaupun tidak cinta (mungkin) dan banyak ‘ketidak sedikitan’ lainnya yang terjadi di masyarakat Sulawesi Selatan.

Budaya Siri’ (malu) adalah hal yang memperparah kondisi ini. Malu kalau anaknya hanya dihargai sedemikian uang. Lebih baik bilang tidak dengan dagu terangkat daripada dihargai tidak sesuai dengan permintaan. Parahnya, terkadang dalam sebuah keluarga perempuan yang paling keras menolak adalah justru om, tante, kakek, nenek atau keluarga jauh. Mereka inilah yang aktif mengompori orang tua atau calon pengantin untuk mempertimbangkan penawaran Uang Pannai’. “Jangan mau kalau cuma segitu. Anakmu tidak semurah itu.” adalah kalimat klasik yang sering wara-wiri dalam rapat keluarga perempuan untuk membahas jumlah Uang Pannai’.

Kita bicara konteks sekarang ya. Jadi sebelum laki-laki dan/atau keluarganya datang melamar perempuan Bugis, biasanya si perempuan dan laki-laki telah berdiskusi dulu mengenai demand keluarga perempuan dan kemampuan keluarga laki-laki. Baru kemudian mereka mengutarakan kepada keluarga mereka hasil diskusi itu. Jika sepakat, pihak laki-laki boleh datang melamar dan menentukan tanggal dengan jumlah Uang Pannai’ yang telah disepakati. Jika belum sepakat, maka prosesnya lebih panjang lagi. Bisa menunggu sampai ada yang mengalah atau justru berakhir sampai di situ. Namun ada juga pihak laki-laki yang langsung datang ke orang tua perempuan untuk mendiskusikan jumlah Uang Pannai’ ini face to face. Bisa dibayangkan intensity-nya seperti apa dan konflik apa yang bisa terjadi? Seorang perempuan dimanifestasikan dalam sejumlah uang. Karena jalan kedua ini dinilai terlalu vulgar (iya ini termasuk hal tabu untuk didiskusikan langsung) dan bisa gagal sepakat juga. Maka tidak jarang hal ini agak dihindari dan mempercayakan para calon pengantin untuk berdiskusi dengan keluarga masing-masing untuk mencari kesepakatan ‘harga’. Barulah setelah itu, persiapan nikah bisa jalan (ya kalau sepakat).

Perlu diingat ya, jika diskusi internal keluarga mengenai jumlah Uang Pannai’ yang pantas diminta atau digelontorkan itu dipenuhi dengan “jangan mau kalau segitu, anakmu itu dokter”, “segitu terlalu banyak, dikiranya anaknya putri kerajaan Inggris kah?”, “segitu saja sudah habis di catering, bagaimana mau sewa ballroom Hotel X”, atau “kalau dia minta segitu, mending kau kawini saja si X” dan beberapa arogansi lainnya. Iya. Dipenuhi arogansi dan gengsi. Ya, parahnya yang menuntut banyak justru bukan si calon pengantin atau orang tuanya. Melainkan keluarga besar. Sayangnya lagi, praktek ini masih saja berlangsung. Jadi jangan heran banyak gerakan hijrah nikah mudah dan sebagainya sebagai perlawanan kaum singles yang ingin menikah tanpa halangan Uang Pannai’.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s