Twitter: Penawar Racun Penuh Canda

Beberapa bulan belakangan ini saya kembali bermain Twitter walaupun tidak begitu aktif bercuit seperti tahun-tahun yang lalu. Alasannya? Sepertinya karena Instagram menjadi lebih beracun dan tiba-tiba saya menjadi sedikit intolerant. Yah, masih main beberapa jam sih tapi tidak seintens dulu: bosan dikit buka Instagram. Twitter menjadi sebuah shelter bagi jiwaku yang haus lelucon receh. Twitter adalah tempat kembali untuk menemukan meme yang dibaca saja sudah bikin mood balik ketika harus bermigrasi dari Instagram yang yaah, itulah yaa.

Apakah algoritma Instagram saya yang salah atau bagaimana, tapi tidak pernah dalam sehari konten mengenai opresi perempuan, hijrah yang hakiki, politik yang kacrut, parenting yang benar, cara istri seharusnya memperlakukan suami (seperti dewa) atau sosok selebgram dengan caption “tap for details”, “use my xxx coupon as discount code”, lalu lalang di timeline atau explore. Entah itu karena ada teman yang share atau memang akun yang saya follow sudah berubah orientasi. Kemudian, ada masanya Instagram menjadi hal yang sangat-sangat mumet-ing. Lalu, Twitter menawarkan anti-toxic yang dirangkaikan dengan lelucon yang sungguh receh. Terima kasih Twitter, Path dan Facebook tidak pernah selucu kamu.

Lalu pernah juga, keinginan untuk menutup Twitter secara permanen muncul setelah adanya periode mati suri diakibatkan Path dan Instagram. Tapi entah kenapa masih saja tertahan, jika dulu saya mematikan Twitter permanen, duh bisa dicap sebagai anak Twitter karbitan migran dari Instagram deh pas bikin akun lagi. Justru Path yang kemudian menjadi mati permanen, ketika orang-orang lagi hot-nya bermain Path check-in sana sini, now-listening ini itu dan lain sebagainya. Saat pertemanan Path hanya dibatasi 150 orang, saya merasa privasi saya sedikit terjaga walaupun sebenarnya kalau bermain medsos ya mana ada privasi yakan? Tapi setidaknya 150 orang cukuplah mewakili kepada siapa saja saya ingin diketahui sedang apa dimana bersama siapa. Nah, ketika alokasi pertemanan Path bertambah menjadi 500 akun, saat itulah saya memutuskan untuk berhenti. Tidak ada lagi alasan ‘jatah temen udah full, nih’ untuk menolak permintaan pertemanan orang yang sebenarnya tidak begitu berhak (menurut saya) untuk mengetahui hal-hal yang privat. Bergumul dengan kegalauan yang sungguh epen banget, akhirnya di tahun 2015 saya menghapus Path di saat banyak sekali yang (kata orang-orang yang sayang dengan keputusan saya ini, siapa mereka sih?) bisa saya pamerkan. 

Sejujurnya, Path dan Instagram adalah racun yang candu. Saya sempat dimaki, iya dijulidin oleh dua tiga orang ‘teman’ karena menghapus Path. Sok misterius, katanya. Ya mau gimana dong cye? Sebenarnya di hati ini bergejolak untuk memamerkan segala apa saja atau berusaha menciptakan imej diri yang sempurna melalui media sosial itu. Ada keinginan, harus ada kemampuan (entah dipaksakan atau tidak). Tapi, sebelum semuanya terlambat saya harus menyadari bahwa ketika saya telah terperosok dalam bisa jadi saya susah keluar. Jangan sampai saya tidak mengenali diri sendiri karena imej di media sosial berbeda dengan imej sebenarnya. Amit-amit *ketok kepala, meja kayu tiga kali*

Nah, saya pernah menuliskan bedanya sharingdan showing off. Sayangnya (atau justru untungnya), persepsi setiap orang beda-beda. Tujuan bisa sharing, yang diterima orang lain bisa jadi showing off. Kalau sudah begini, siapa yang bertanggung jawab? Tidak ada kecuali diri sendiri. Bagaimana kita memfilter racun media sosial tentunya berbeda metode. Ya kalau saya, cut off sekalian atau pelan-pelan. Dulu Twitter ada di daftar hapus kedua setelah Path. Tapi sepertinya Instagram menaiki tangga dengan perlahan diikuti Facebook meninggalkan Twitter di anak tangga terbawah.

Salah ya kalau kita berusaha sesedikit mungkin memperlihatkan kehidupan pribadi kita? Makan apa hari ini? Lagi sedih atau bahagiakah? Ntar sore mau jalan kemana? Udah ke luar negeri mana aja? Sepatunya beli dimana? 

Tidak memperlihatkan dan tidak memamerkan bukan berarti tidak punya atau tidak bahagia, kan?

Sorry not sorry, bagi yang memang menyukai sharing dan/atau showing off, ya silakan toh gunanya media sosial kan kayak mall: melihat dan dilihat. Saya hanya berusaha mengidentifikasi level racun yang bisa saya toleransi sebelum saya ikut terkontaminasi. Hasilnya adalah (bagi saya) racun Instagram lebih berbisa ketimbang Twitter saat ini. Bisa berubah lebih baik atau sebaliknya. Sampai saat ini menurut dan bagi saya, Instagram masih tolerable dengan waktu main yang harus dibatasi dengan selingan ke Twitter yang lebih sering, dan oh Kindle tentunya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s