What Makes Me a Sexist?

“Lu jangan bawel dong kayak emak-emak”.

Terkadang dalam keseharian kita, beberapa komentar sexist terdengar sangat normal. Misalnya “Lagi PMS, ya? Pantesan.”, “Ah, lu cowok sih. Pasti gak akan bisa paham.”, atau “Kalo gue bisa milih, mending gue kerja ama cowok semua. Less drama gak kayak cewek.” Percakapan seperti ini saja sudah bisa dikategorikan sebagai bentuk sexism. Bahkan jika kita berkomentar seperti “Eh, lu ngikutin gak presentasi cewek dari Company X kemarin?” bisa dikategorikan sexism juga. Beberapa pernyataan ini sungguh terdengar biasa saja dan bahkan banyak yang mengiyakan. Padahal ini sudah termasuk casual sexism dimana perbincangan seperti ini mengandung pesan sexism yang seharusnya kita sadari.

Sederhananya sexism adalah praduga atau stereotype yang dilatar belakangi oleh jenis kelamin seseorang. Ketika istilah maskulin dianggap sebagai sesuatu yang keren, seperti “do it like a man.”, “yang jantan dong” atau “come on. Man up!” dan bahasa feminine itu dianggap sebagai sesuatu untuk merendahkan seperti “ih, lu lembek banget kayak cewek.” Stereotype bahwa laki-laki itu kuat dan keren, sementara perempuan diasosiasikan seperti sesuatu yang rapuh dan lemah telah ada dari zaman dahulu kala. Sejak kapan? Ketika kita menarik sejarah hubungan perempuan dan laki-laki, maka yang paling tua adalah hubungan Adam dan Hawa. Semua bermula ketika Hawa menjadi pihak yang ‘bersalah’ sampai Adam diusir dari (konsep) surga: Hawa yang ‘menggoda’ Adam, etc.

Mengapa saya bragging isu ini? Sedikit banyak saya merasa risih dengan beberapa komentar yang menyudutkan profesionalitas perempuan dalam dunia kerja. Misalnya kasus suami saya yang bekerja untuk Principal Investigator perempuan yang dianggap keras dan demanding. Ketika ada masalah dalam lab mereka dan si PI disinyalir adalah pihak yang bertanggung jawab, maka komentar “Oh, emang PI-nya cewek? Pantesan.” Maka, bermunculan kisah-kisah dunia kerja yang problematik dengan PI perempuan lainnya. Kisah-kisah inilah yang mengafirmasi stereotype bahwa perempuan sangatlah labil dalam dunia kerja sebagai pimpinan dan lebih baik mencari atasan (jika bisa) seorang laki-laki saja.

Padahal terlepas dari jenis kelaminnya sebagai perempuan, para PI ini adalah seorang yang profesional. Dengan menjadikan identitas perempuannya sebagai alasan pembenaran atas tindakannya, itu sama saja mengkali nolkan semua pencapaian dan usahanya. Orang-orang yang berkomentar “oh, pantasan dia begitu. Perempuan sih.” adalah orang yang bypassing dan tidak mau meluangkan sedikit waktu paling tidak untuk bertanya lebih lanjut mengenai hal yang lebih detail. Jika mereka mau sebentar saja berpikir dan tidak asal cepat berkomentar, maka saya yakin komentar seperti ini akan punah suatu hari nanti. Sampai saat ini saya tidak melihat ada korelasi antara jenis kelamin sebagai perempuan dengan tingkat profesionalitas seseorang. Sayangnya, komentar seperti ini bukan hanya datang dari para makhluk berjakun, melainkan dari kaum perempuan itu sendiri. Jadi? Jangan salahkan laki-laki saja yang turut berperan atas langgengnya sexism ini.  

Saya akan berubah menjadi monster ketika suami saya mulai untuk bias gendering di dalam rumah. Saya sangat lemah di matematika dan kurang bisa membaca peta tapi saya sangat kuat dalam menghafal urutan nomor dan lokasi. Nah, suami saya mungkin tidak ingin melukai perasaan saya dengan mengatakan bahwa memang perempuan tidak begitu bagus dalam angka dan peta. Jadi seakan-akan saya tidak ‘bodoh’ sendirian. Sayangnya, saya lebih menghargai jika dia menyatakan kelemahan dan kelebihan saya sebagai bagian dari diri saya saja tanpa embel-embel jenis kelamin. Apa susahnya?

Mengapa sexism ini langgeng dalam keseharian kita? Karena sejak dini perempuan dibuat selemah mungkin oleh konstruksi sosial dan didikte untuk menjadi sosok lapis kedua. Contohnya sederhananya mengapa orang tua memberikan mainan dapur-dapuran, boneka anak-anak dan bentuk pekerjaan domestik lainnya kepada anak perempuan mereka? Mengapa yang berkewajiban membantu ibu di dapur adalah anak perempuan sementara anak laki-laki mainnya di luar saja? Mengapa tidak dibalik? Toh, tidak ada yang salah kan dengan anak perempuan yang ikut bapaknya memancing dan anak laki-laki yang membantu ibunya memasak? Apakah itu membuat anak laki-laki itu lemah? Tidak. Yang melemahkannya adalah konstruksi sosial yang tidak menghormati pekerjaan rumah tangga seperti pekerjaan profesional dimana yang lebih pantas dihormati adalah laki-laki.

Tidakkah hal ini menyadarkan kita bahwa anak perempuan kita telah dididik sejak kecil untuk menjadi manager dalam rumah tangga mereka kelak? Bahwa tanggung jawab seorang perempuan adalah di dapur, merawat anak dan menjaga kerapihan rumah. Sementara anak lelaki kita diberi mainan mobil-mobilan, tantara-tentaraan dan puzzle? Dimana hal-hal itu membuat mereka menyadari dirinya lebih tangguh dan belong to outside’s responsibilities. Mengapa ketika anak laki-laki beranjak dewasa dan berumah tangga cenderung apatis untuk urusan domestik? Bisa jadi karena sejak kecil dia dibiarkan untuk berantakan dan kotor karena ada ibunya yang akan membereskan dan membersihkan. Ketika dia beranjak kuliah dan harus merantau, segala kemudahan bisa didapat: makanan siap santap dan jasa laundry tersedia 24/7. Sementara ketika sudah berkeluarga, kembali lagi ada peran perempuan dalam bentuk istri di rumahnya. Maka, baginya tidak perlulah untuk memiliki kemampuan atau keinginan bebersih karena ada yang bertanggung jawab: istri.

Lantas, apakah anak perempuan kita tidak berhak mendapat perilaku yang sama? Saya tidak akan mengharapkan orang-orang memperlakukan anak saya tanpa sexism, maka dari itu saya berusah mengeliminasi produk maupun perilaku sexism sedini mungkin dari lingkungan rumah tangga kami. Dia harus meyakini dirinya sebagai perempuan yang tangguh dan tidak boleh terlemahkan oleh konstruksi sosial. Sehingga dia merasa bersyukur terlahir sebagai perempuan dan tidak berusaha untuk mengubah kodrat lahirnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s