“Hanya” Ibu Rumah Tangga

Jika boleh saya bertanya, kepada para ibu-ibu di luar sana, setujukah kalian dengan pernyataan bahwa setinggi apapun jabatan seorang perempuan, sehebat apapun usahanya, tugas utamanya tetaplah adalah menjadi seorang ibu yang paham ilmu agama untuk anak-anaknya dan menjadi istri solehah untuk suaminya?

Entah saya yang membacanya rada kesal atau jengkel, tapi banyak sekali kesan negatif yang saya tangkap. Satu, bahwa perempuan seberhasil apapun dia akan dikali nol jika ia tidak tahu ilmu agama. Kedua, perempuan harusnya menjadi ibu rumah tangga seutuhnya menunggu gaji dari suami. Ketiga, perempuan harusnya menjadi istri yang soleha bagi suaminya tanpa memperhatikan sifat atau akhlak suaminya. Keempat, tanggung jawab mendidik anak ada di tangan perempuan (tanpa melibatkan laki-laki) dan tentunya jika masyarakat menilai anaknya adalah produk gagal maka perempuan harus siap disalahkan. Tidak tanggung-tanggung bo’.

Dari keempat poin saya di atas, saya masih bisa menjabarkan beberapa kondisi yang lupa diperhatikan oleh pernyataan ini. Satu, banyak perempuan di luar sana yang masih berjuang untuk menafkahi keluarganya karena sang suami memang tidak mampu (sakit atau meninggal atau mempunyai pekerjaan serabutan), karena ditinggal suami yang tidak bertanggung jawab atau suami ada tapi tidak bertanggung jawab. Seseorang, siapapun, hanya memiliki waktu 24 jam dalam sehari. Bagaimana jika si perempuan harus menghabiskan waktunya di luar rumah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, pendidikan anak dan lainnya? Sempatkah ia belajar agama seperti perempuan lain yang dikaruniai waktu luang? Jangankan belajar agama, tidur atau istirahatpun mungkin tidak sempat.

Kedua, perempuan dituntut untuk sempurna. Iya. Sempurna. Seakan-akan kondisi perempuan itu sama rata: ekonomi, fisik, psikologi, lingkungan tinggal, sejarah keluarga, dan lain sebagainya. Sehingga pernyataan ini hanya memberikan ruang bagi perempuan, termasuk saya, untuk merasa insecure.Bahwa selama ini saya tidak menjalankan tugas saya sebagai ibu yang benar, bahwa saya selama ini bukanlah perempuan yang sempurna bagi suami saya dan saya harus berubah segera seperti yang dinyatakan di atas untuk menjadi sempurna. “Tidak ada kata terlambat untuk perubahan yang baik.” Well, perlukah perubahan itu? Biarkan saya mengevaluasi diri saya sendiri. I live by faith, not a sight.

Ketiga, dalam urusan domestik atau rumah tangga, perempuanlah yang bertanggung jawab. Perempuan bertanggung jawab untuk mendidik anak, mengurus kebutuhan suami dan anak, mengurus rumah dan segala tetek bengeknya. Sehingga setelah menikah, perempuan seharusnya memang tinggal di rumah saja. Ya selain karena stigmamasyarakat dan tuntutan sosial, pekerjaan rumah memang adalah never ending cores. 24 jam itu tidak cukup. Laki-laki? Yaa tugasnya cari uang, apalagi? Itupun kalau dia gak pelit, lah kalau pelit dan dijatah? Lengkaplah. Disediakan paket murah all in one(dalam satu istri): asisten rumah tangga, tukang kebun, supir, perawat, baby sitter, tukang masak, guru les anak dan you mention it. Pernyataan diatas menegasikan ada kondisi dimana laki-laki memang tidak layak “dilayani” oleh istri solehah. Masih banyak laki-laki yang jahat, tidak menghargai istri, suka selingkuh dan banyak lagi jenis laki-laki bajingan lainnya di luar sana yang sok-sok menuntut kepatuhan istrinya. Jadinya ya, perempuan harus menerima ‘kodratnya sebagai perempuan’. Kembali lagi, pernyataan di atas hanya melanggengkan posisi perempuan sebagai kaum marjinal yang berada di kelas dua regardless laki-laki itu memang bajingan atau bukan.

Lantas, jika let’s say seorang perempuan mendedikasikan hidupnya kepada keluarganya. Dia tidak bekerja, dia tidak kuliah lagi dan selama ini dia hanya mengandalkan gaji suami. Jelas dia powerless,kan? Ketika anaknya beranjak dewasa, berhasil (dalam kacamata sosial) dan memiliki pekerjaan bagus. Suaminya semakin meningkat karirnya. Dia? Tetap menjadi “hanya ibu rumah tangga”. Saya pernah menemui beberapa kasus seorang suami ditanya pekerjaan istrinya dan dia dengan segan menjawab “istri saya tinggal di rumah, hanya ibu rumah tangga”. Pernah juga saya menemui kawan yang ditanya pekerjaan ibunya dan jawabannya “ibuku kerjanya ibu rumah tangga aja”. Penyematan kata “hanya” atau “saja” cukup menjengkelkan bagi saya. Kenapa harus ada kata itu? Seakan-akan ada yang salah dan tidak lengkap dari pekerjaan mulia itu. Belum lagi ada banyak kasus dimana seorang perempuan atau ibu diremehkan anak dan suami sendiri. Banyak. Harga diri mereka ditelanjangi oleh orang dekat mereka sendiri karena menjadi “hanya ibu rumah tangga”. Padahal, pertanyaannya: kepada siapa pengorbanan dan dedikasi itu diperuntukkan?

Iya, saya mengakui bahwa menjadi ibu rumah tangga seutuhnya adalah pekerjaan yang berat. Sayapun pernah dilanda stres karena menjadi ibu rumah tangga penuh. Syukurnya masih ada tawaran menulis dan online coaching yang datang, saya masih bisa mengasah otak dikit dan teralih dari kebosananan. Cobalah tinggal di compound di Saudi, lalu mari kita bertukar cerita. Ada rasa kecil hati jika stereotype masyarakat masih memotretkan perempuan sempurna adalah menjadi ibu rumah tangga seutuhnya dan di sisi lain “menjadi ibu rumah tangga seutuhnya” adalah sebuah “hanya” atau “saja”. Masyarakat membuat perempuan harus terima nasib dengan sukarela untuk menjadi subordinat yang “dieksploitasi” dalam hubungan domestik dan harus mau rela diperlakukan demikian demi embel-embel “perempuan sempurna” atau “tugas mulia”.

Saya hanya ingin marilah kita, jika tak bisa menghargai, setidaknya diamlah. Memang (masih) benar, kadang diam itu emas.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s