Takut Berbahagia

Saya ingin bercerita tentang pengalaman seorang teman. Seorang perempuan yang memiliki pembawaan ceria, open minded,dan dia memiliki pendidikan yang lebih dari standar. Dia menceritakan satu bagian hidupnya yang selama ini dia tutupi karena ingin dia lupakan. Ketika dia mengatakan “saya adalah orang yang takut bahagia.” Di situ saya mulai bertanya-tanya pengalaman traumatis apa yang membawanya pada satu titik itu, yang bagi saya adalah satu penyiksaan batin yang cukup mengerikan. Semua orang ingin bahagia, teman saya ini tidak. Sampai dia mengisahkan pengalaman hidupnya yang cukup menyakitkan dan dia mengira bisa menyembuhkan dirinya sendiri.

Ada hal yang ditakuti ketika dia merasa bahagia: sesuatu yang buruk akan datang. Semenakutkan itu sehingga dia kadang memilih untuk menekan rasa itu dan menghindarinya. Lebih takut merasakan bahagia ketimbang kehilangan kebahagiaan itu. Dia mulai menyadari ada yang salah dengan dirinya ketika dia mulai kuliah dan hidup sendiri. Namun dia mencoba berpikiran positif bahwa hal itu hanyalah bukti dia kurang dekat dengan Tuhan. Sedikit banyak dia berubah, memulai hidup sesuai seorang yang taat beragama walaupun bagi sebagian orang dia tampak jauh dari sosok agamis. Baginya, entah karena memang buah dari pendekatannya dengan Tuhan atau otaknya mulai memikirkan hal-hal penting lainnya, rasa takut bahagia itu mulai terlupakan. Namun, rasa itu kembali mengelitik bagian otaknya melalui igauan ekstensial bawah sadarnya.

Di waktu SMA, beberapa tahun lalu, dia menjalin hubungan romansa dengan laki-laki yang gemar menggunakan kekerasan secara berkala. Segala bentuk kekerasan telah dirasakannya, mulai dari kekerasan verbal sampai fisik. Baginya menangis sama sekali tidak berguna. Saat itu, dia memilih diam karena pikiran picik bahwa pacarnya akan berubah karena cintanya. Ada masanya dia mulai percaya bahwa pacarnya melakukan kekerasan itu karena dia bebal dan dia pantas menerimanya.  Namun, hal itu tidak sampai membuatnya lupa bahwa dia berharga dan dia tidak pantas diperlakukan demikian. Mulai melawan, pacarnya tidak tinggal diam begitu saja. Peperangan dimulai. Dengan amunisi yang cukup banyak, pacarnya mulai melakukan teror kepadanya, keluarganya dan temannya. Dia bertahan dengan hubungan beracun itu selama hampir 4 tahun. Berhasil menanggalkan label pengidap Stockholm Syndrome, teman saya tergopoh-gopoh kabur dari hubungannya. Apa yang berubah dari teman saya? Dia menjadi lebih kuat, lebih bergantung pada dirinya sendiri walaupun dia sering gagal dalam hubungan romansa selanjutnya. 

Dia berhasil menjadi seorang perempuan tangguh dan sungguh tidak kelihatan bahwa ternyata dia pernah melalui tahun-tahun traumatis. Tidak ada keluarga dan temannya yang mengetahui kejadian apa saja yang dialaminya karena teman saya ini sungguh lihai menyembunyikan lukanya. Dia menekannya sedalam mungkin, menyimpannya dalam kotak pandora di labirin yang dia sendiri tak mampu menyelesaikannya. Namun belakangan ini, luka itu muncul kembali ke permukaan perlahan-lahan. Teman saya bingung harus berbuat apa karena dia menganggap bahwa hubungannya dengan hal itu telah selesai. Dia telah memaafkan masa lalunya. Dia telah memaafkan mantan pacarnya tersebut dan tentunya memaafkan dirinya sendiri. Dia telah berdamai dengan masa lalunya namun sisa-sisa itu hadir kembali tepat di saat dia merasa telah siap dengan fase kehidupan baru.

“I just embrace this feeling. I have no option. Avoiding it just makes it bigger and I’m afraid I wouldn’t be able to contain it. I accept that in my case, happiness and being afraid of it always come altogether. If only I could choose, of course, I really want to be happy without feeling uneasy that my happiness may be is the beginning of a misfortune. However, I will take whatever comes with it because I believe that being happy is the only thing I should cherish in my life, even when it comes with something that is opposite.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.