Catatan Berbeda Tentang Orang Tua

Lahir dan besar dari keluarga biasa, saya terbiasa diajarkan bagaimana perempuan harus bersikap. Saya juga didoktrin bahwa pencapaian tertinggi seorang perempuan adalah menikah. Tidak peduli seberapa tinggi pendidikannya, seberapa banyak digit di tabungannya, seberapa banyak anak yatim piatu yang disantuni, atau bahkan seberapa cantik dia, if she’s not married to anyone, she is a failure. Not only for herself, but for the family.

Pernah saya berkisah kepada ibu saya tentang seorang perempuan yang saya tahu tidak ingin memiliki anak selamanya. Sederhana, dia hanya tidak ingin menjadi seorang ibu. Bisa tebak reaksi ibu saya? “Dia bukan perempuan.” That strikes me so hard.Saya hampir lupa bahwa keluarga saya masih patriarki. Ibu saya (mungkin) juga adalah korban, entah secara voluntary atau tidak. I am not against those people who have a problem with long term commitments. It just slaps me right there.

Makin ke sini, saya juga makin menyadari bahwa orang tua saya juga manusia yang punya kelemahan. They are not that flawless. Sayangnya, di society,kita diajarkan untuk melihat bahwa orang tua tidak pernah salah. Bahwa kita sebagai anak harus bersyukur karena dilahirkan di dunia. Anak tidak boleh protes dengan orang tua, “mau jadi anak durhaka?”, “kamu harus hormat, biar gimana mereka itu orang tua kamu”, dan banyak lagi narasi-narasi ‘normal’ lainnya. Memang benar, pengorbanan orang tua untuk mendidik dan membesarkan saya adalah hal yang tidak terhitung kalkulator. Saya tidak menolak itu. Tapi, apakah orang tua bukan manusia biasa? Mereka adalah makhluk Tuhan yang juga bisa salah kepada siapapun termasuk anak-anak mereka. Apakah anak, sebagai manusia, tidak bisa merasa kecewa kepada orang tuanya? 

Ayah saya adalah seseorang yang tidak segan menggunakan kekerasan dalam memahamkan kehendaknya terhadap anak-anaknya. Iya, kekerasan dalam bentuk verbal atau fisik. Kalau kata orang “didikan gaya militer” dimana mata rantai komando tertinggi tentu saja dipegang oleh ayah saya. Tapi dibalik itu, kedua orang tua saya menghormati pilihan anak-anaknya dan memberikan kebebasan untuk itu. Iya, kedua orang tua saya mempercayai anak-anaknya sepenuhnya untuk urusan pendidikan dan jodoh. Bagi mereka, tugas mereka adalah menyediakan jalan untuk kami anak-anaknya.

Dari mereka saya belajar banyak. Saya menyadari bahwa bukan tidak mungkin saya akan mengecewakan anak saya suatu saat nanti. Oleh karena itu, selain menyiapkan diri, saya juga harus mengajarkan kepada anak saya bagaimana mengelola rasa kecewa itu: hal yang tidak diajarkan orang tua saya. Bagi saya, sangat wajar kita merasa kecewa terhadap seseorang atau sesuatu, bahkan kepada orang tua sendiri. Satu hal yang perlu kita lakukan adalah bagaimana membahasakan kekecewaan itu dan tidak melaluinya sendiri. Saya juga percaya dengan komunikasi yang mapan, segalanya bisa menjadi jelas. Ketika semuanya jelas, akan lebih mudah mencari jalan keluar atas suatu kondisi, bukan?

Iya. Orang tua saya, at some points, masuk ke dalam kategori narcissistic parents. Sebagai anak, tanpa mereka minta, saya telah memaafkan dan berdamai dengan itu. Tapi saya juga takut terjebak di kesalahan yang sama dengan bentuk yang berbeda. Ketika orang bilang parenting is a lifetime learning process,saya selalu bertanya kapan saya bisa lulus? Ternyata memang tidak ada akhirnya. 

8 Replies to “Catatan Berbeda Tentang Orang Tua”

    1. Dibalik kemuliaan itu, ada tanggung jawab yang sangat besar. Makasih udah diingatkan, Did. Salam kamu nanti saya sampaikan. Titip salam juga buat anak gadis yang juga beranjak dewasa di Jakarta. Stay safe!

      Like

  1. Setuju sekali soal yang mengajarkan anak mengelola rasa kecewa. I don’t know you but I believe your child is lucky to have you as her Mom. Salam kenal dari follower baru, Mbak!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.