Hidup dan Kebahagiaan

Dari judulnya, mungkin sekilas tulisan ini akan bernada berat. Seharusnya sih tidak juga. Tapi bisa jadi pemaknaan kita akan sedikit berbeda mengenai hal-hal tertentu (dałam tulisan ini) karena mood dan kondisi saat membacanya. Banyak hal yang terjadi selama setahun (lebih) sejak tulisan terakhir saya. Mulai dari kehilangan orang yang sangat dekat sampai sebuah keharusan penerimaan diri yang (belum) absolut. Rupanya “you only live once” bisa seberdampak itu. Kita tidak pernah tahu waktu kita habisnya kapan, dimana, dan bagaimana. Ternyata live our life to the fullest adalah jalan satu-satunya.

Mungkin tidak 2 atau 3 tahun lalu, tapi sekarang saya benar-benar bisa mencoba mencari tujuan hidup. Sounds so cliché, doesn’t it? Sayapun merasa demikian ketika harus literally menuliskannya (atau membicarakannya). Dulu saya merasa cukup dengan menetapkan kebahagiaan sebagai tujuan hidup. Kebahagiaan. Namun, sekarang nampaknya itu tidak cukup. Ada pergeseran makna “mencari kebahagiaan” dan “menjadi bahagia.” Ada lubang yang tidak bisa menutup, yang hanya bisa diterima keberadaannya untuk bisa fokus pada hal lain. Ibaratnya, move forward bersama luang-lubang itu. Dengan begitu, pelan-pelan saya bisa menemukan kembali hal yang sejak dulu saya inginkan –yang dulu saya simpan rapat di sebuah kotak pandora dan entah berada dimana. Tapi sebenarnya hal-hal itulah yang bisa membawa kepada ketenangan dan perpetual happiness yang lebih penting dari segalanya.

Ketika saya sudah bisa menerima –entah takdir atau kesalahan saya, saya cenderung mencari pembenaran that everything happens for a reason. Saya juga sangat mengerti dan mengamini a blessing in disguise. Kata-kata penyelamat di kala duka. Bahwa bersama kesusahan, ada kemudahan. Maybe not now, but later. Saya percaya cara orang-orang akan berbeda dalam coping with their emotional turmoil karena setiap detik adalah cerita. Cerita yang kadang ingin kita bagi, atau selebihnya kita simpan sendiri. 

Tulisan ini mungkin tidak berpola dan cenderung random. Saya hanya ingin mencoba mengutarakan bahwa terkadang duka melembutkan kita, sakit hati mendewasakan kita, dan penderitaan membuat kita tangguh. Terlepas dari semua kesulitan itu, jangan terlalu menyiksa diri sendiri. Semuanya adalah alasan kita untuk tetap menjalani kehidupan karena kita tidak pernah sendiri –sadar atau tidak. Menengoklah ke samping kiri dan kanan, selalu ada orang yang peduli. 

Don’t ever let anxiety steal your happiness!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: