(Un)romanticising Living Abroad: Pengalaman Pindah ke Singapura

Hello, hello!

Rupanya saya amat sangat tidak produktif di blog ini. Apakah saya harus menutupnya? 

Namun kali ini saya akan memberi sedikit update singkat mengenai kehidupan saya belakangan ini sejak tulisan saya terakhir.

Ya, saya telah berpindah negara dari Saudi Arabia ke Singapura. Saya dan keluarga saya pindah ke Singapura sejak Maret 2022. Belum begitu lama. Namun adaptasi kehidupan di sini cukup berat. Kebiasaan dimanjakan oleh KAUST cukup membuat standar hidup kami agak tinggi dibandingkan dulu ketika masih di Turki. Saya coba jelaskan secara sistematis haha.

Alasan memilih Singapura selepas dari Saudi:

  1. Geographically dekat dengan Indonesia. Literally one short flight away, lah. Ini menjadi alasan yang cukup signifikan bagi kami yang sejak Januari 2019 tidak pernah bertemu langsung dengan keluarga. Sejak itupun kami juga telah melewatkan beberapa momen penting (bahagia dan duka) secara virtual. Sungguh tidak direkomendasikan.
  2. Bagi karir suami saya, NUS adalah jembatan (atau tangga) untuk langkah selanjutnya. Dengan proporsi gaji yang OK dan jaminan visa yang bisa membawa serta keluarga, kami memutuskan untuk mengambil offer ini. Secara untuk bisa tinggal di Singapura bersama keluarga, ada standar gaji yang memperbolehkan pengurusan dependent visa. Untuk pengurusan visa dan segala blibet yang kemarin kami hadapi, di lain waktu akan saya tulis dan post.
  3. Sekolah untuk anak adalah hal penting lainnya yang menjadi bagian penting dalam pengambilan keputusan ini. Di Singapura, sekolah lokal menggunakan Bahasa Inggris sebagai pengantar. Artinya, anak kami tidak perlu lagi mengikuti kursus Bahasa atau beradaptasi dengan Bahasa baru. Pun jika tidak mendapatkan sekolah lokal, pilihan sekolah di sini amat sangat beragam dari yang kurikulum IB, Cambridge, nasional+ dan sebagainya. Tinggal pilih sesuai budget. Belum lagi reputasi Pendidikan di sini cukup diakui.

Karena beberapa poin di atas telah centang oleh Singapura, maka kami memutuskan untuk pindah ke sini. Pindahan ke sini tentunya tidak semudah angkat koper dan terbang, lalu semuanya tersedia. Itu hanya bisa didapatkan di KAUST saja, gengs.

Maka dimulailah kerusuhan pindahan. Bagaimana caranya agar barang-barang di rumah lama yang adalah 2 lantai bisa muat di bagasi 120-an kg; bagaimana caranya agar uang deposit rumah bisa kembali seutuhnya; dan bagaimana caranya mengurus kepindahan sekolah (ini untungnya tidak begitu ribet karena sekolah dimulai dari nol lagi). Oh dan satu lagi, bagaimana mengurusi hati yang sudah nyaman di KAUST dengan teman-teman (rasa saudara) yang baiknya minta ampun, untuk bisa memulai kehidupan bertiga saja?

Di tulisan kali ini saya mau highlight mengenai pindah ke luar negeri dan (bukan) romantisasinya.

Jadi, memulai kehidupan di negara asing walaupun bahasanya adalah Bahasa yang kita ucapkan, bukan hal yang mengasyikkan (di awal). Mengapa demikian? Ya, karena untuk settle seperti sedia kala, banyak sekali daftar check yang harus dicentang. Mulai dari pencarian hunian yang tentunya susah-susah gampang. Di kasus kami, banyak susahnya. Tapi kami termasuk beruntung karena di musim pembukaan border setelah Covid-19 restrictions ini, demand rumah meningkat dimana supply tetap karena pembangunan tidak berjalan di beberapa tahun terakhir. Saat itu, semua daftar centang yang kami siapkan harus disisihkan demi tujuan: punya hunian. Belum lagi sistem di Singapura yang mengatur penyewaan seperti itu melalui agen. Sementara agen, dalam memilih calon tenant, diberikan kuota orang asing dan lain sebagainya. Jadilah kami ikut penyaringan yang sengit. Haha.

Karena NUS memberikan free transit accommodation selama 14 hari, kami cukup terbantu. Apalagi saat kami tiba, penerbangan kami dari Saudi termasuk penerbangan non-quarantine di bawah Vaccinated Travel Lane. Kami hanya harus menyiapkan Anti-gen Rapid Test negatif untuk bisa langsung kemana-mana. 

Kami mendapatkan condo di daerah pusat. Secara lokasi cukup strategis, walaupun agak jauh dari NUS. Setelah pindahan, saya baru bisa mendaftarkan sekolah untuk anak. Beruntungnya ada vacancy di salah satu sekolah lokal dan prosesnya dipermudah walaupun kartu fisik dependent pass kami belum jadi. Padahal, pengalaman teman lain yang juga baru pindahan, anaknya tidak diperbolehkan mendaftar sebelum ada kartu fisik. Hmmm.

Setelah berusaha settle dengan hal-hal penting seperti rumah dan sekolah, barulah perjuangan settle mental dimulai. Mungkin telah dimulai sejak sebelum pindahan, tapi hectic segala urusan tadi membuat lupa bahwa ada mental yang sedang berjuang juga. Entahlah mungkin homesick KAUST atau apa, saya mencoba menyibukkan diri dengan menata rumah dan printilan kecilnya. Cukup bisa mengalihkan saya dari melankoli rumah lama (beserta tetangga kesayangan) di KAUST.

Kata orang, pindah keluar negeri adalah excitement yang kadang susah dikendalikan. Berbanding terbalik, saya adalah people-person yang cukup suka berkawan dengan orang lain. Tapi ternyata, setelah beberapa kali berpindah negara, mencari kawan yang frekuensinya sama adalah hal yang sulit atau at least menguras energi. Saat ini, ingin sekali rasanya punya kehidupan yang effortless untuk mencari teman yang benar-benar baik, tulus, dan zero-judgment.

Tapi pada kenyataannya, mencari teman sebagai orang dewasa di kota atau negara baru adalah hal yang sulit. Akan lebih mudah, bagi saya, untuk menjalin hubungan one-to-one yang dalam dibandingkan berada pada satu grup pertemanan yang kompleks. Pada akhirnya saya harus berdamai dengan diri sendiri, bahwa saya akan memiliki banyak waktu sendiri. Bahwa saya harus belajar memberi kenyamanan di waktu-waktu sendiri itu, berusaha menjadi self-sufficient dan tidak mengutuki keadaan. Di proses inilah semuanya menjadi sulit secara emosional. Saya tahu hal ini tidak akan mudah, tidak akan cepat, dan tentunya hasilnya belum tentu sesuai yang saya inginkan. Tapi dari sini saya menyadari banyak hal kecil, bahwa langit biru dan hujan deras bisa sama-sama indah jika diperhatikan. I demand many things from myself and life. Tentunya akan ada rasa kecewa atau tidak puas, tapi bukankah kita hidup untuk itu? Rasa senang dan bahagia adalah hal alami yang terjadi hanya sebentar. Jadi, jika mengharapkan perpetual happiness yang terjadi setiap saat, itu adalah hal mustahil biologically. Then again, I could be wrong. Menjadi realistis dan berusah menikmati saat ini, adalah hal yang saya lakukan saat ini sebagai usaha untuk coping with my situation. Bisa melihat hal kecil dan menyadari kebahagiaan bisa datang dari mana saja (dan pergi secepat kilat) adalah salah satu blessing in disguise kepindahan kali ini. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: