Perkara Tindik Telinga

Jadi kemarin adalah salah satu milestones yang cukup mengesankan. 

Dari dulu, anak saya masih kecil, saya sering mendapatkan pertanyaan seputar tindik telinga. “Loh? Kenapa anaknya tidak sekalian ditindik ketika masih bayi, kan biar gak ngerasa sakit?” atau “Tindik aja telinganya, nanti dikira anak lelaki.” Atau hal-hal seperti itulah yang mempertanyakan keputusan saya untuk tidak menindik telinga anak perempuan saya.

Jadi, alasan saya sederhana. Saya percaya bahwa mengajarkan anak mengenai otoritas tubuhnya (yang sesuai kodrat) adalah kewajiban orang tua. Tindik atau piercing adalah hal yang permanen dan menurut saya, hanya anak sendiri yang bisa memutuskan mau atau tidak. Menunggu sampai mereka besar dan bisa memutuskan sendiri bukanlah hal yang sulit.

Banyak juga yang bertanya, kapan anak bisa dianggap siap? Ya, ketika dia sendiri yang meminta. Saya akan dengan senang hati membawanya ke tempat tindik and pay the bills. Tapi sebelumnya saya akan menjelaskan konsekuensinya, misal rasa sakitnya akan seperti apa, bahwa tindik akan selamanya ada, dan after care yang harus dilakukan. Ketika dia sudah mengerti dan mengiyakan, maka tidak ada alasan untuk menolaknya.

Memangnya anak kecil tahu apa? Well, setidaknya di umur sekarang, saya percaya dia bisa diajak berkomunikasi dan dia sudah memiliki pemahaman yang cukup mengenai otoritas tubuhnya. Dia telah mengenal rasa sakit, ingin melakukan sesuatu untuk dirinya, dan memahami konsekuensi atas tindakannya. Banyak yang bisa kita ajarkan kepada anak dalam proses ini.

Anak, pada dasarnya, adalah versi kecil dari manusia dewasa. Saya selalu menganggap anak harus diikut sertakan dalam keputusan sedini mungkin, ya sesuai kadarnya. Anak juga harus tahu hal-hal penting dari orang tuanya, misal pindah rumah atau negara. Sebagai keluarga nomadic kami selalu berusaha menempatkan posisi bahwa anak juga bagian dari keluarga dengan selalu memberikan informasi atau at least menanyakan pendapatnya mengenai hal-hal tertentu dalam kapasitasnya sebagai anak dan sesuai dengan umur serta pemahamannya.

Sementara untuk hal yang benar-benar adalah mengenai dirinya, saya sebisa mungkin mengajarkan sejak dini. Sejak beberapa pekan lalu, dia sudah meminta ingin tindik di telinga. Alasannya karena dia suka melihat temannya yang mengenakan anting-anting, jadi dia ingin terlihat cuter dengan anting-anting juga. Alasannya memang terkesan childish tapi yang bilang juga anak-anak. Hahaha. Setelah itu, tentunya saya berusaha bertanya dan meminta untuk diyakinkan bahwa memang ini adalah keinginan dia.

Saya tahu prosesnya akan sedikit banyak menyakitkan. Tapi, dia memberikan kejutan dengan stay cool selama proses dan tidak menangis sama sekali. Dia hanya mengatakan sakit sedikit saja. Bahkan setelah melihat dirinya sendiri di cermin, dia memberikan tepuk tangan untuk dirinya sendiri karena sudah berani. Cute, right? But, beyond, I’m so proud of her because she’s living up to her words. She was doing good, better than what I expected her. One thing yang sangat saya appreciate dari anak saya adalah dia berusaha meyakinkan saya bahwa despite the pain she’ll be getting on the process, she’ll be fine. There she was.

Di tulisan saya ini, saya tidak bermaksud mendiskreditkan upaya ibu-ibu lainnya. Sama sekali. Saya hanya ingin memberikan pendapat lain dan memang kita sepakat bahwa kita berbeda. Tidak ada kewajiban untuk sepakat, bukan?

Proses penantian saya tidak sia-sia. *finger crossed*

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: