Pet Peeve Terusik yang Berujung Protes Sekolah

Katanya setiap orang memiliki pet peeve atau yang biasa diartikan sebagai hal-hal tertentu yang dianggap sangat menjengkelkan oleh seseorang. Misalnya, suara gesekan alas kaki ketika berjalan, suara mengunyah atau mengecap makanan, laci yang tidak ditutup, atau orang yang suka terlambat. Setiap kita pasti memiliki at least satu pet peeve.

Kali ini saya akan berbicara mengenai satu pet peeve saya yang paling akut, yaitu: queue jumper, line cutter, you name it lah. Saya amat sangat kesal dengan golongan manusia satu ini. Entah sejak kapan saya menyadari memiliki pet peeve ini namun saya menyadari terjadi perubahan yang amat sangat signifikan jika saya bertemu dengan jenis manusia ini.

Jadi, hari Jumat pekan lalu seperti biasa saya mengantar anak ke sekolah. Karena masih protokol Covid-19, maka anak-anak harus antri untuk health assessment oleh guru kelasnya. Di sekolah anak saya, tingkatan kindergarten baru bisa masuk pada pukul 8 pagi. Sementara untuk kelas child care bisa mulai masuk kelas setelah pukul 7 pagi. Sayangnya, pintu masuk kedua kelas ini hanya satu.

Permasalahan mulai terjadi ketika anak saya sudah berbaris antri menunggu di urutan pertama (karena kami datang di sana sebelum pukul 8 jadi pintu masih tertutup). Pukul 8.02 pintu belum terbuka, kami memutuskan untuk tetap menunggu tanpa membunyikan bel. Dari arah depan, datanglah seorang bapak menggandeng dua anaknya yang berasal dari kelas child care dan membunyikan bel pintu. Wah, saya sudah bersiap untuk bertikai dengan bapak ini. Anak saya yang tadinya berdiri, perlahan mundur dan terlihat upset. Saya yang tadinya bediri agak jauh (karena anak saya tidak suka ditemani mengantri), akhirnya maju dan bertanya kepada anak saya. Lebih tepatnya menyuruh dia tetap pada posisi pertamanya. Namun si anak bapak queue jumper itu maju dan mengambil posisi duduk untuk health assessment di depan gurunya (ada dua kursi berhadapan).

Bisa ditebak apa yang terjadi? Sumbu pendek saya akhirnya habis. Saya memegang tangan anak saya dan bilang “We came here first.” Si bapak itu akhirnya memanggil anaknya untuk minggir. Gurunya yang mungkin tahu membaca situasi akhirnya menyingkirkan anak itu dan memanggil anak saya untuk duduk. Setelah health assessment dan proses check in yang kurang lebih 1-2 menit itu, saya meninggalkan lokasi dengan penuh emosi. Pasalnya, si bapak itu sudah beberapa kali melakukan hal yang sama. Alasannya, karena anaknya child care yang boleh datang sesuka hati dari pukul 7 pagi, maka dia merasa berhak menjadi line cutter antrian kindergarteners yang memang baru boleh masuk kelas setelah pukul 8.

Selama ini, saya mencoba menahan emosi karena berpikir saya masih baru dan masih butuh melihat kondisi sekolah serta peraturan yang ada. Di jalan pulang, saya tidak bisa menahan amarah dan akhirnya curhat ke suami. Tidak cukup rasanya saya pun curhat di Twitter. Masih tidak cukup, saya kemudian menulis email ke pihak administrasi sekolah. Di kejadian ini, bisa saja saya salah bahwa memang itu peraturan sekolah yang memperbolehkan child care students untuk memotong antrian kindergarteners walaupun sudah melewati pukul 8 karena mereka diberi kebebasan untuk itu.

Saya menunggu sampai akhir hari kerja, namun belum ada balasan. Jadi, hari Senin kemarin saya memutuskan untuk membawa masalah ini ke homeroom teacher anak saya. Kebetulan ketika kejadian tersebut, bukan guru anak saya yang sedang piket. Dia tidak tahu dan aware akan kejadian ini. Bahkan dia tidak diinformasikan oleh sekolah anak saya mengenai email yang saya kirimkan. Jadi, saya mengirimkan kembali email tersebut kepada guru anak saya. Ketika saya menjemput anak saya, gurunya bilang akan menindak lanjuti complain saya secepatnya. Saya tidak terlalu bagaimana karena emosi saya sudah beres juga, tapi iya saya tetap mau kejadian ini tidak terulang kembali.

Senin sore sekitar jam 3, saya menerima notifikasi dari aplikasi sekolah anak saya. Di sana, guru anak saya memberi penjelasan mengenai proses antri pada saat morning arrival dan peringatan untuk “showing best respects” kepada yang sedang antri. Dia sangat memahami bagaimana rasa frustasi antrian diselak dan bagaimana saya harus menjelaskan kepada anak saya bahwa hal tersebut tidak benar. Tapi saya cukup senang dengan perubahan yang saya saksikan pada keesokan harinya, mereka yang child care akhirnya ikut mengantri di antrian kindergartens yang memang sudah ada di sana setelah jam 8. Oh iya, saya dan anak saya memang sengaja datang 5 menit lebih awal karena tidak suka berlama-lama mengantri. Health assessment bisa mengambil banyak waktu kalau kita datangnya tepat jam 8 karena hampir semuanya tiba bersamaan di jam ini. Sementara kalau datang lebih awal, menjadi yang pertama antri, beresnya cepat dan saya bisa pulang cepat juga.

Saya ingin sekali berkata kepada si bapak: you pick the wrong person today, you pick me. Karena bagi saya semua orang penting. Semua orang sibuk. Semua orang punya pekerjaan. But, sorry not sorry, you ain’t more important than me and others. Bodo amatlah kalau orang tua yang lain menganggap saya noisy dan suka complain. Bukan itu yang menjadi fokus saya. Akan selalu ada orang yang tidak sepakat dengan upaya kita, tapi bukan berarti kita berhenti untuk memperjuangkan apa yang menjadi hak kita because time is priceless.

Marilah kita sama-sama menjadi manusia beradab dan mengajarkan anak kita untuk sama beradabnya. Queue jumpers akan selamanya ada, like it or not, tapi setidaknya kita mau untuk melawan jika mendapati hal itu terjadi. Kadang –seperti suami saya yang orangnya mungkin santai dan sangat tidak enakan, orang-orang hanya menerima dan membiarkan. Pada akhirnya tipe manusia queue jumpers ini akan ada terus karena ada pembiaran. Beda cerita jika memang ada hal penting yang menyangkut hidup mati seseorang. 

Ketika pindah ke Singapura, saya berharap hal ini tidak akan sering terjadi. Rupanya saya salah. Saya tidak heran jika hal ini terjadi di negara-negara yang less punctual seperti Indonesia, Saudi, atau Turki (negara yang memang saya pernah tinggali). Tapi, Singapura? Saya agak terkejut. Apalagi ini terjadi di sekolah, di education center of all places?

Curhatan di Twitter, di jalan menuju rumah.

Maafkan jika terkesan rasis atau terjebak oleh stereotype namun itulah kenyataan yang selama ini saya alami. Mereka datang dari satu wilayah dimana ketika mereka antri, maka mereka tidak akan mendapatkan apa-apa entah itu makanan, kesempatan menaiki kendaraan umum, atau hal lainnya (tergantung apa alasan mereka antri). Kebiasaan berebut sudah menjadi hal yang umum karena memang morfologi lingkungan mereka. If they don’t cut others line, they’ll be cut off. Miris? Tentu saja. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana hidup sehari-hari yang mengandalkan siapa cepat siapa dapat yang chaotic. Tapi tentu saja hal tersebut tidak bisa menjadi pembenaran atas tindakan memotong antrian orang lain, kan?

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: