Berdamai Dengan Masa Lalu

Sesuatu yang sepertinya gampang namun susahnya minta ampun. Sesuatu yang hanya bisa dilakukan dengan kesungguhan yang luar biasa. Hanya orang yang bertekad yang mampu melewati itu.

Di usia yang sudah 30-an ini, saya baru menyadari bahwa luka masa lalu akan selalu membekas. Adalah pilihan kita untuk membawanya dan hidup dengan rasa perih yang mungkin perlahan akan semakin kurang rasanya. Tapi bagaimana dengan dia atau mereka yang menggoreskan luka itu? Bisa jadi mereka tidak berubah, bisa jadi mereka tetap melanjutkan hidup seakan-akan tidak pernah melukai kita. Adilkah? Tentu rasanya tidak.

Tapi, hidup itu tidak adil (kepada semuanya) maka itulah yang menjadikan hidup adil, bukan?

Rasanya hampa. Pada akhirnya, sadar atau tidak, kita menyisihkan sedikit banyak ruang dalam hati untuk rasa benci, dendam, takut, khawatir, dan lain sebagainya karena ada trauma masa lalu yang tidak selesai. Memang masa lalu ada di belakang, tapi terkadang kita tidak pernah merasa jauh dan selalu bisa melihatnya. Bahkan kadang kita kembali ke sana dan hidup di sana. Hal itu bukan untuk menikmati, tapi terjebak ingin kembali ke waktu dimana penderitaan belum dimulai. Bahkan ingin meminta tidak dilahirkan di dunia ini. 

Apakah itu salah? Bisa jadi iya, bisa jadi tidak.

Kita tidak pernah tahu kapan kita melukai. Pun tahu, kita ignorant untuk mengakuinya. Kepada orang terdekat ataupun sekedar kenalan, kita rentan melukai. Apakah luka itu bisa mempengaruhi kita? Belum tentu. Tapi apakah luka itu mempengaruhi mereka yang kita lukai? Tentu. Jelas.

Walaupun bukan tugas kita untuk memastikan semua orang baik-baik saja, tapi paling tidak bersikap baiklah kepada siapapun. It doesn’t cost you anything to be nice. 

Tulisan ini adalah sebuah refleksi yang kapan saja bisa saya baca kembali, to send me back on track of course. Karena kadang saya lalai, kadang saya tidak tahu hal-hal tertentu. Tapi itu bukan alasan yang tepat untuk menyakiti.

Selain mencoba menjadi lebih baik, saya berusaha memaafkan diri saya yang dulu. Yang mungkin naïve dalam melihat dunia. The clueless one. Karena memaafkan hal-hal yang tidak ada closure selalu lebih sulit, maka buatlah closure itu dengan memaafkan diri sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: