Perempuan di Balik Layar

Belakangan ini saya sering bertanya-tanya mengenai peran perempuan dalam perekonomian dan pekerjaan domestik. Apakah bisa perempuan yang memilih, voluntarily or not, untuk menjadi ibu rumah tangga dikategorikan sebagai bentuk sumbangsih terhadap pertumbuhan ekonomi? Ada joke yang dilontarkan oleh satu economist bahwa ketika seseorang menikahi asisten rumah tangganya, maka GDP akan berkurang. Pekerjaan domestik adalah bentuk perpanjangan dari nature perempuan yang mengasihi dan mencintai. …

Catatan Berbeda Tentang Orang Tua

Lahir dan besar dari keluarga biasa, saya terbiasa diajarkan bagaimana perempuan harus bersikap. Saya juga didoktrin bahwa pencapaian tertinggi seorang perempuan adalah menikah. Tidak peduli seberapa tinggi pendidikannya, seberapa banyak digit di tabungannya, seberapa banyak anak yatim piatu yang disantuni, atau bahkan seberapa cantik dia, if she’s not married to anyone, she is a failure. Not …

Takut Berbahagia

Saya ingin bercerita tentang pengalaman seorang teman. Seorang perempuan yang memiliki pembawaan ceria, open minded,dan dia memiliki pendidikan yang lebih dari standar. Dia menceritakan satu bagian hidupnya yang selama ini dia tutupi karena ingin dia lupakan. Ketika dia mengatakan “saya adalah orang yang takut bahagia.” Di situ saya mulai bertanya-tanya pengalaman traumatis apa yang membawanya pada …

“Hanya” Ibu Rumah Tangga

Jika boleh saya bertanya, kepada para ibu-ibu di luar sana, setujukah kalian dengan pernyataan bahwa setinggi apapun jabatan seorang perempuan, sehebat apapun usahanya, tugas utamanya tetaplah adalah menjadi seorang ibu yang paham ilmu agama untuk anak-anaknya dan menjadi istri solehah untuk suaminya? Entah saya yang membacanya rada kesal atau jengkel, tapi banyak sekali kesan negatif yang …

What Makes Me a Sexist?

“Lu jangan bawel dong kayak emak-emak”. Terkadang dalam keseharian kita, beberapa komentar sexist terdengar sangat normal. Misalnya “Lagi PMS, ya? Pantesan.”, “Ah, lu cowok sih. Pasti gak akan bisa paham.”, atau “Kalo gue bisa milih, mending gue kerja ama cowok semua. Less drama gak kayak cewek.” Percakapan seperti ini saja sudah bisa dikategorikan sebagai bentuk …

Twitter: Penawar Racun Penuh Canda

Beberapa bulan belakangan ini saya kembali bermain Twitter walaupun tidak begitu aktif bercuit seperti tahun-tahun yang lalu. Alasannya? Sepertinya karena Instagram menjadi lebih beracun dan tiba-tiba saya menjadi sedikit intolerant. Yah, masih main beberapa jam sih tapi tidak seintens dulu: bosan dikit buka Instagram. Twitter menjadi sebuah shelter bagi jiwaku yang haus lelucon receh. Twitter adalah tempat kembali untuk …

Pengakuan dan Validasi

It’s been (again) a while. Ditemani es kopi dan playlist yang mood booster disertai suasana gloomy Saudi hari ini, saya ingin ‘berbincang’ mengenai dua tipe orang yang saya dikotomikan. Nah, kali ini izinkan saya mendiskusikan satu aspek penting dalam diri kita sebagai Homo Sapiens yang relations-oriented. Pengakuan. Iya. Menurut Barth, pengakuan diperlukan oleh manusia sebagai bentuk nafas bagi kesehatan psikologi sama seperti …