Words Spell

about my other side of writing..

Letter to Myself (?)

Hai D,

Gara-gara secangkir kopi caramel macchiato ukuran raksasa yang kamu pesan tadi sore, kamu berakhir dengan menatap layar laptopmu bukannya meringkuk di atas selimut. Salahkan dirimu sendiri! Untung saja asam lambungmu bisa diajak kerjasama, jika tidak ya salahkan dirimu sendiri lagi. Tidak peduli betapa kamu tidak berjodoh dengan kopi, tetap saja kamu sok menikmati. Akhirnya, flashback ke masa lalu ditambah dengan playlist lagu tahun gajah mengantarkanmu pada satu titik dimana kamu mempertanyakan esensi keberadaanmu.

Tepat 355 hari kamu telah berada di negara yang coba kamu cintai ini –dan, akhirnya iya–. Kamu menghitungnya, bukan? Kamu berencana merayakan anniversary kamu dan Istanbul esok hari, bukan? Betapa sentimentalnya dirimu. Dimana? Di salah satu sudut kota romantis ini? Dengan siapa? Dengan kesendirian yang coba kamu tanyakan apa gunanya?

Ahh, kamu terlalu berlebihan. Terlalu takut dengan masa depan yang begitu tidak jelas. Lepaskanlah! Berhentilah dengan semua kelatahan orang yang (hampir) membuatmu mati rasa! Kita tahu, sama-sama tahu, bahwa pernikahan adalah hal yang penting. Memangnya kenapa kalau mereka menikah lebih dulu daripada kamu? Kamu mau? Ssstt, ada kalanya Tuhan akan menjawab doa kita berbeda dengan orang lain. Kamu takut kecewa? Akupun demikian. Bersyukurlah Tuhan masih memberi kita waktu belajar dan menilai.

Keyakinanmu terhadap rencana Tuhan akan mengantarkanmu pada seseorang yang dijamin Tuhan akan membahagiakanmu. Tidak cukupkah itu membuatmu kembali pada semangat juangmu? Juga bahwa jauh di sana Ibumu telah membantumu dengan doanya yang sangat ampuh untuk tetap bahagia? Bahagialah demi dia. Yakinlah demi dia. Dan, hiduplah demi dia! Bukan demi memenuhi –entah­– targetmu sendiri.

Lupakah kamu dengan kesepakatan kita, bahwa dengan membahagiakan orang di sekitarmu maka kamu pun akan bahagia? Jangan! Peganglah itu!

Tidak akan pernah kamu terluka ketika kamu mencoba membahagiakan orang lain. Dan tidak pula kamu akan bahagia dengan melukai orang lain. Aku masih percaya itu. Kamu?

Mungkin, mereka tidak akan membalasnya dengan kebaikan yang –mungkin juga– kamu harapkan. Tidak selamanya orang akan membuatmu bahagia. Kamu harus melakukannya sendiri. Tuhan melihat itu dan Tuhan kita tidak diam. Dia akan mengirimkan malaikat yang akan membuatmu bahagia dengan cara-Nya sendiri. Sebentar lagi kamu akan pasti tertawa dengan surat emosional ini. Tapi, setidaknya aku bisa mengingatkanmu untuk tetap menjadi dirimu. Syukurlah kalau kamu ternyata tidak lupa. Tunggulah, Tuhan sedang menyiapkan seseorang untukmu.

With Love,

D.

Advertisements

I B U

Ada satu saat dimana saya tiba-tiba merasa ingin menangis karena rasa sedih yang menyeruak, seperti saat ini. Ingin berbagi pada satu-satunya penenang hati, namun seketika saya sadar dia akan ikut bersedih. Sedih karena tak mampu untuk saling memeluk raga saat hanya pelukan bisu yang akan menyelamatkan airmata. Karena saat jarak dan waktu membentang jauh, itulah kesesakan batin terdahsyat yang pernah saya rasakan. Rindu.

Spring 2015, Istanbul

S I N

To forgive yourself,

Promising yourself not to repeat those mistakes is something that itself repeatedly pronounced in every corner of your mind. Somehow, you love to that process. Repetition of mistakes.

Is that beautiful? A beautiful pleasure or a guilty pleasure? Tell me how it feels.

Sure, you are sinner. In the way you did sin, sure.

Well, sun rises and sets. So do you, you awake and sleep. Same routine that has brought you into something boring. Yes, sin makes you feel more alive doesn’t it? Sure, you are sinner.

Don’t ever tell me what’s wrong and right! You shouted to the saints. Really? Yes. I am sinner and I know how to behave, you said.

Yet, despite in your heart that is something that you want to do again and again. Because you were born as a sinner. Oh, come on! You don’t scratch anyone. You risk yours. About losing something, someone, everything, or even everyone. You know you are taking high. And you know how hurts it could be if you are falling down and perhaps burning into pieces. Yet you enjoy the pleasure. Wooh, how lovely.

You are sinner. Simple. You sin. You are a sin.

A sinner who tries to forgive itself.

A sin that avoids to make a birth of a new sinner.

So tempting you think you are. But not. You are not that tempting.